KONDISI BIOTIK
Kajian komunitas
Komunitas tumbuhan adalah unit-unit alami vegetasi dan merupakan
benda nyata yang tampak dari pembicaraan sehari-hari.Dimana kita dapat
mengelompokkan variasi komunitas berdasarkan vegetasi yang mendominasi di
daerah tersebut.Komunitas adalah sekumpulan populasi yang terdapat
bersama-sama pada suatu daerah atau habitat yang menunjukkan asosiasi atau
afinitas yang tetap. Dua atau lebih spesies tumbuhan dikatakan berasosiasi
apabila keadaanya secara bersama-sama disuatu tempat dan kondisi lingkungan tertentu
lebih dari sekedar kebetulan.Dalam ekologi tumbuhan 'komunitas' merupakan
pengertian umum yang dapat digunakan untuk tipe vegetasi dari berbagai ukuran
dan umur.Misalnya saja, bisa digunakan pada suatu lapisan vegetasi pada suatu
tempat (skala lokal), seperti tumbuhan terna dibawah tegakan pinus di jayagiri
lembang, lumut yang menutupi lantai hutan digunung Gede Pangrango. Selain itu
komunitas dapat juga digunakan pada skla yang lebih luas lagi, misalnya tipe
vegetasi yang terdapat di Jawa Barat, atau digunakan pada vegetasi tang sedang
mengalami perubahan atau telah stabil.
Contoh dari kasus randominsasi dapat diketahui bahwa komunitas
adalah berbagai jenis tumbuhan yang hidup bersama yang berkelompok bisa pada
tempat-tempat yang berbeda.
Bagaimanakah cara menetukkan suatu komunitas tumbuhan ?
Sulit, Perbedaan musim, Stabilitas (pada saat hutan pada tingkat
puncak berbagai ruang.
Peletakan dan ukuran sampling
Tiga persyaratan dari peletakan suatu sampel-terutama
persyaratan homogenitas
Terlepas dari metode apa yang akan digunakan untuk analisis di
lapangan, peletakan suatu sample yang akan diambil harus memenuhi permintaan di
bawah ini :
1. Sampel harus cukup mewakili dan
dapat menampung semua spesies yang termasuk ke komunitas
tersebut.
2. Habitat harus
seragam dengan area yang akan diteliti, sejauh yang dapat
menentukan batasannya.
3. Penutup vegetasi harus
seragam mungkin (Dumbois, )
Suksesi
Dalam tumbuhan kita
mengenal tumbuhan pioner, yakni merupakan tumbuhan oportunistik yang menunjukan
kemampuan vegetasi tersebut dalam menyediakan lingkungan yang lebih baik dari
sebelumnya yang merupakan vegetasi awal di daerah tersebut.
Tujuan : Mengetahui
vegetasi tumbuhan sebelum dan sesudah suksesi. Mengetahui kurun waktu yang
dibutuhkan dalam proses suksesi.
Proses pemulihan vegetasi yang mengalami keusakan baik total
maupun sebagian
Tahapan suksesi
Nudasi
Migrasi
Ecesis
Kompetisi
Reaksi
Stabilitas
Analisa vegetasi
adalah cara mempelajari susunan
(komposisi jenis) dan bentuk (struktur) vegetasi.Struktur merupakan
organisasi dalam suatu ruang dari individu yang membentuk tegakan dan
pertambahan tipe vegetasi atau asosiasi tumbuhan(Mueller-Dumbois,1974).Unsur
dari struktu meliputi bentuk pertumbuhan, stratifikasi, dan penutupan tajuk.
Struktur vegetasi merupakan bentuk dari jenis-jenis vegetasi yang menyusunnya
sehingga terdapat kategori Pohon, tiang, pancang, semak, herba dan penutup
lahan atau rerumputan. Sedangkan komposisi merupakan
variasi jenis flora yang menyusun suatu komunitas(Mirsa,1980). Jadi yang
utamanya ialah jenis tumbuhan apa yang menyusun dalam area yang kita teliti.
Analisa Vegetasi erat kaitannya dengan matematis, namun dalam memaknai hasil
analisisnya mengutamakan makna ekologi.Secara matematis mungkin saja bisa
berbeda, namun dalam ekologi dapat menyebutnya sama. Hal ini karena dalam
ekologi tumbuhan memiliki penilaian secara kualitas dan kuantitas. Misalnya
ketika kita melihat Keystone species, keystone spesies merupakan
tumbuhan yang memiliki nilai yang tinggi dalam ekologi.Dimana bila tumbuhan ini
hilang maka akan berpengaruh terhadap keseimbangan dalam piramida ekologi,
makanan maupun energi. Dimana ketika jenis keystone species ini tidak ada maka
jenis yang secara langsung maupun tidak memperoleh keuntung darinya akan turut
punah. Sementara pada tingkatan yang lebih tinggi kita akan dapat mengenal yang
disebut dengan Keystone ekosistem. Dimana hilangnya ekosistem ini
akan mengakibatkan banyak individu didalamnya yang turut hilang. Sebagai contoh
untuk Keystone spesies ialah pada Ficus sp. sementara
untuk ekosistem terdapat mangrove sebagai keystone ekosistem.
Selain itu dalam analisa vegetasi kita dapat mengetahui bahwa mengapa
suatu spesies dapat muncul disuatu tempat sementara yang lainnya tidak dapat.
Kita akan mengetahui faktor apa yang mempengaruhi kehadiran vegetasi tersebut.
Baik karena
Asosiasi tumbuhan
Asosiasi merupakan suatu tipe khusus dari komunitas yang mempunyai
:
1. Komposisi jenis yang relatif konstan
2. Penampakkan luar (physiognomy) yang seragam
3. Penyebaran yang menjadi karakteristik suatu habitat tertentu.
Distribusi tumbuhan
v Menurut Ewusie (1990) pembagian
stratifikasi di hutan hujan tropis antara lain adalah sebagai berikut :
·
Stratum A, lapisan atas terdiri dari pepohonan tinggi lebih dari 30
meter.
·
Stratum B, kadang-kadang disebut tingkat atas, terdiri dari pepohonan
yang tumbuh sekitar 15-30 meter.
·
Stratum C, lapisan ketiga yang bisa juga dinamakan tingkat bawah.
Terdiri dari pepohonan yang tumbuh sampai ketinggian 5-15 meter.
·
Stratum D, lapisan belukar yang terdiri dari spesies dengan ketinggian
kurang dari 5 meter
·
Stratum E, lapisan paling bawah yang terdiri dari herba dan terna atau
tumbuh-tumbuhan penutup bawah (cover ground). Tumbuhan pada kelompok ini
mempunyai ketinggian sekitar 0-1 meter.
·
Untuk mengetahui indeks kesamaan komunitas
dipergunakan rumus dari indeks Sorensen berikut ini:
v
Menurut Wyat-Smith
dalam Soerianegara (1984), dalam suatu analisis vegetasi, tumbuhan digolongkan
ke dalam 4 kategori, berdasarkan ukuran tinggi dan diameter batang, yaitu :
·
Semai (seedling),
permulaan mulai dari kecambah sampai tinggi 1,5 meter
·
Pancang (sapling),
permudaan dengan tinggi dari 1,5 meter atau lebih, pohon muda dengan diameter
kurang dari 10 cm
·
Tiang (pole), pohon
dengan diameter antara 10-35 cm
·
Pohon dewasa dengan
diameter lebih dari 35 cm
v Dari data yang diperoleh dari setiap plot yang dibuat
maka hitung dan analisis frekuensi mutlak dan relatif, dominansi mutlak dan
relatif dan kerapatan mutlak dan relatif serta indeks nilai penting.
·
Frekuensi mutlak
(Fm) : menunjukkan kepadatan suatu spesies dari seluruh plot yang dibuat,
dicatat berdasarkan kepadatan suatu spesies di seluruh plot pengamatan.
Fm =
·
Frekuensi relatif
(FR) : kepadatan suatu spesies dari seluruh kepadatan spesies lain dari seluruh
plot dalam satuan persentase.
FR = x 100 %
·
Kerapatan
(densitas) mutlak (Km) : menunjukkan jumlah individu per unit area (luas) atau
unit volume
Km =
·
Kerapatan relatif
(KR) : perbandingan jumlah individu spesies ke-i dengan jumlah total individu
seluruh spesies dalam satuan persentase.
KR = x 100 %
Untuk kerapatan dapat digunakan
susunan kadar kerapatan Braun Blanquet (1927) yang lebih terperinci dan mudah dilakukan.
Kadar kerapatan ada 2 skala yaitu 1) kelas pertama merupakan kombinasi dari
banyaknya individu suatu jenis dengan kerimbunan daripada spesies tersebut dan
2) skala kedua membentuk gambaran tentang pengelompokkannya :
r :satu atau
sangat sedikit individu, dan penutupannya 1%
+ : sedikit sampai beberapa individu,
penutupannya <1%
1 : beberapa sampai banyak individu,
penutupannya 1 – 5%
2 : sangat banyak individu, dan penutupannya
5 – 25%
3 : penutupannya 25 – 50%, jumlah individu
bebas (independen)
4 : penutupannya 50 - 75%, jumlah individu
bebas (independen)
5 : penutupannya 75 - 100%, jumlah individu
bebas (independen)
Sedangkan
skala Domin Krajinan, dalam menaksir kerapatan penutupan (cover abundance):
10 : kerimbunan 100% 5 : kerimbunan 10– 25%
9 : kerimbunan 75% 4 : kerimbunan kecil 5 – 10%
8 : kerimbunan 50 – 75% 3 : kerimbunan kerap 1– 5%
7 : kerimbunan 33 – 50% 2 : kerimbunan < 1%
6 : kerimbunan 25 – 33% 1 : kerimbunan jarang sekali
+
: kerimbunan kecil, terisolasi
·
Dominansi mutlak
(Dm) : penutupan (coverage) spesies terhadap seluruh plot pengamatan
·
Dominansi relatif
(DR) : perbandingan luas basal area suatu spesies dengan luas basal area
seluruh spesies pada plot pengamatan dalam satuan persentase.
DR = x 100%
·
Indeks Nilai
Penting (Important Value) /INP : merupakan suatu besaran yang menunjukkan
dominansi atau kekuasaan suatu jenis terhadap jenis-jenis lainnya pada suatu
vegetasi tertentu dan merupakan hasil penjumlahan dari FR, KR dan DR.
Basal area ini diperoleh dengan menghitung diameter dari
setiap pohon, kemudian digunakan rumus :
Basal area = pr2 atau ¼ pD2
Dimana : r = jari-jari pohon
D = diameter batang pohon
p = 3,14
Dalam hal ini, diameter pohon yang digunakan adalah
diameter dari seluruh pohon dalam satu jenis atau dengan kata lain diameter
rata-rata seluruh pohon dari satu spesies. Demikian pula halnya dengan basal
area pohon merupakan basal area rata-rata dari seluruh pohon dalam satu jenis.
Frekuensi =
Jumlah plot diketemukannya suatu jenis
Jumlah seluruh plot
Frekuensi relatif (%)
= Frekuensi dari suatu jenis X 100 %
Frekuensi seluruh jenis
Nilai Penting = Kerapatan relatif +
Dominansi relatif + Frekuensi relatif
3.4.2
Analisis Perkiraan, Korelasi, Evaluasi Data
Dari data yang diperoleh dapat
dianalisis struktur komunitasnya dengan menggunakan Indeks kesamaan, Indeks
keragaman dan Evenness.
Untuk mengetahui
indeks kesamaan komunitas dipergunakan rumus dari Sorensen berikut ini :
ISs =
2 c x 100%
a + b
Keterangan :
ISs = Indeks kesamaan
A = jumlah jenis pada
lokasi pertama
B = jumlah jenis pada
lokasi kedua
C = jumlah jenis yang ada
pada kedua lokasi
Jika nilai ISs >
50% maka pada derah tersebut memiliki kesamaan komunitas
Jika nilai ISs <
50% maka pada daerah tersebut ada perbedaan komunitas atau bahkan tidak
memiliki kesamaan komunitas.
Sedangkan untuk
mengetahui keanekaragaman/diversitas jenis di suatu daerah selain memakai cara
ID = 100% - ISs, dapat pula dengan Indeks diversitas Shannon-Wiener, yaitu :
H’ = - Spi log pi
Dimana : pi =ni/N
Pi = perbandingan antara jumlah individu
spesies ke-i dengan jumlah total
individu.
Logaritma yang
dipakai adalah logaritma dasar 10, e atau 2. Namun yang paling umum digunakan
dalam ekologi adalah logaritma dasar 10 dan e.
Untuk mengetahui dominansi dari
keanekaragaman jenis yang ada di suatu daerah dapat menggunakan Indeks
Dominansi Simpson yaitu :
d = Sni (ni-1)
N (N-1)
Dimana : d = indeks dominansi
ni = jumlah individu spesies ke-i
N = jumlah total individu
Bila suatu komunitas mempunyai
keanekaragaman yang tinggi maka akan mempunyai dominansi yang rendah.
Keanekaragaman jenisnya dapat dihitung dengan rumus :
Ds = 1 - d
Ds = 1 - Sni (ni-1)
N (N-1)
Ds adalah indeks
keanekaragaman jenis Simpson.
Untuk mengetahui hubungan
keeratan antara serangkaian data kelimpahan spesies hasil observasi dengan
keanekaragaman maksimum yang mungkin dicapai atau sering dinyatakan dengan Evenness
dihitung dengan rumus :
Evenness
Shannon-Wiener : J’ = H’ / H’maks
Evenness
Simpson : Es = Ds / Dmaks
Nilai maksimum
untuk H’ dan Ds adalah sebagai berikut :
H’maks =
log s
Ds = {(s-1) / s} {N
/ (N-1)}
Dimana : s = jumlah spesies
N = jumlah total individu