Heroes Myspace Comments

Welcome to the Jungle

PRAPATAN SPS
Catatan Berkeliling Nusantara

Tumbuhan Berbahaya dan Beracun 0

adhyws | Sabtu, Desember 22, 2012 |

Tumbuhan beracun adalah tumbuhan yang dapat menyebabkan rasa sakit, mabuk / kematian jika dimakan/diminum/menyentuh bagian-bagian tertentu.

Tumbuhan berbahaya adalah tumbuhan yang dapat menyebabkan luka fisik pada manusia disebabkan morfologi tumbuhan tersebut.

Organ tumbuhan yang berbahaya dapat berupa
1. Duri,
2. Bulu,
3. Serbuk kersik,
4. Rambut-rambut yang gatal,
5. Kristal-kristal yang terkandung dalam tumbuhan dan
6. Jenis-jenis getah tertentu.

Ciri Tumbuhan beracun yaitu
1. warnanya mencolok,
2. berduri,
3. berkersik,
4. berbulu,
5. memiliki getah kental dengan warna bervariasi,
6. memiliki bau aroma menyengat.

Memastikan tumbuhan beracun dapat dijalankan dengan mencari tahu apakah tumbuhan tersebut beracun ataukah tidak,memiliki bau atau tidak, lalu menggosoknya kekulit apakah mengakibatkan gatal atau tidak
meletakan ke bagian yang sensitif yakni bibir selama waktu tetentu apakaj gatal atau tidak, panas atau tidak dan seterusnya.

Pengolongan tumbuhan berbahaya dan beracun
1. Tumbuhan yang menyebabkan iritasi pada kulit(luka), disebabkan karena bulu, duri atau bagian yang
     tajam pada tumbuhan.
2. Tumbuhan yang menyebabkan dermatidis, yaitu gatal pada kulit biasanya disebabkan oleh getah.
3. Tumbuhan yang menyebabkan alergi kontak dermantidis, terjadi karena kontak yang berulang
     dengan tumbuhan.
4. Tumbuhan yang menyebabkan fotodermatidis
5. Tumbuhan yang mengandung zat narkotika.

Bagian-bagian yang beracun pada tumbuhan yakni pada daun biasanya terdapat pada pucuk atau pangkal, pada buah biasanya pada isi/biji, pada getah, duri, dan bulu erta air rebusannya.

Pembagian Tumbuhan beracun berdasarkan racun yang dikandungnya.
1. Non toxic
Tumbuhan ini tidak beracun atau tidak diketahui kandungan racunnya
2. Oksalat
Getah mengandung kristal oksalat/kristal-kristal yang bebentuk jarum.
3. Minor toxicity
Bila tumbuhan ini ditelan, kemungkinan dapat menyebabkan bintik merah pada kulit, muntah dan diare, apabila hanya sebagian kecil yang ditelan, tidak akan menimbulkan gejala.
4. Major Toxicity
Bila tumbuhan ditelan, terutama dalam jumlah banyak dapat menyebabakan organ tubuh rusak seperti hati, ginjal atau jantung.
5. Dermatidis
Getah atau duri tumbuhan dapat menyebabkan bintik merah pada kulit/iritasi. Luka tertusuk akibat tumbuhan terasa sangant sakit kemudian kulit terasa terbakar dan melepuh.
6. Posibility Toxic
Kemungkinan mengandung racun.
7.Animal toxic
Beracun bagi hewan

Zat berbahaya dan Beracun
1. Alkaloid : rasa pahit, merupakan senyawa basa bernitrogen
    Contoh Tumbuhan : Tapak dara,
    Hiosin dan Hiosamin terdapt di solanaceae
    Strychine > Strynchos sp (Famili loganiaceae) dapat menyebabkan kelumpuhan
2. Tanin dan polifenolik
    Jenis Tanin :
     1. Dapat dihidrolisis (porigalol) > polifenolik +gula
     2. Tidak dapat dihidrolisis (tanin Katecol > flavonoid)
3. Glikosid Sianogenik
    adalah suatu senyawa antara, disebut radikal aglikon terutama pada famili apocynaceae. Contoh :
    Neriwin, Thevetia, alamanda, getah pada bagian kulit
4. Flavonoid
    Terdapat pada tumbuhan dalam bentuk glikosid, biasanya satu atau lebih dari kumpulan hidroksil fenolik
    dan bergabung bersama gula, biasanya sebagai antivirus, antikulai
5. Kardinolid dan Bufadinolid, merupakan gula deoksi dan rantai lakton. Biasanya berpengaruh pada otot
     jantung.
 6. Antiquinon
     Terdiri dari bahan yang mengandung pewarna seperti trisofonal, biasanya sebagai bahan pewarna.
7. Oksalat
     Merupakan asam tanah dan bergabung dengan kalsium membentuk kalsium oksalat biasanya pada famili 
     araceae dan arecaceae, menyebabkan rasa gatalm pingsan.

Ekologi Hewan 0

adhyws | Sabtu, Desember 22, 2012 |


Apa yang dipelajari dalam ekologi hewan ?
Terminologi dan ruang lingkup,ecosystem,hewan dan lingkungannya,respon, adaptasi dan perilaku, habitat dan relung (karakteristik habitat, penggunaan habitat baik secara vertikal, horizontal,temporal, feeding ground)
Istilah-istilah yang digunakan dalam ekologi hewan
Ilmu           : Kajian secara sistematis yang dapat dibuktikan secara empiris melalui metode ilmiah.
Interaksi     : Hubungan timbal balik makhluk hidup dan lingkungannya yang dibuktikan dengan
                    adanya  efek terhadap salah satu atau lebih.
Lingkungan : Daerah sekitar yang mempengaruhi kehidupan organisme/segala sesuatu yang ada
                    diluar organisme.
Ekosistem   : Suatu tatanan yang didalamnya terdapat kajian mengenai interaksi / hubungan timbalik
                    balik antara komponen biotik dan baiotik sehingga terjadi keteraturan kehidupan.

     Dalam ekologi hewan kita akan mempelajari bagaimana ketergantungan/interaksi antara faktor biotik(organisme) dan abiotik(lingkungannya, biotik dengan biotik,hewan dengan lingkungannya, beserta perilakunya dimasa lalu, saat ini dan masa yang akan datang.
Kajian Ekologi hewan :
A. Pada tingkat Populasi, satu jenis hewan / ekologi populasi atau biasa dikenal dengan autoecology,
     dimana lebih menitik beratkan pada ragam perilaku, pertumbuhan, struktur, pengaturan dan
     dinamika serta perkembangan populasi.
B. Pada tingkat Komunitas atau dikenal dengan Synekology, dimana kajiannya lebih menitik
     beratkan pada distribusi hewan diberbagai habitat, pengenalan dan komposisi jenis hewan sebagai
     suatu unit komunitas serta perkembangan dan suksesinya.
C. Pada tingkat ekosistem kita dapat melihat adanya aliran energi
     contoh : Berapa proporsi energi yang tersiman dalam tanaman digunakan oleh herbivora.
                   Berapa proporsi energi yang tersimpan di herbivora yang digunakan oleh karnivora.

KOMPONEN BIOTIK DAN ABIOTIK
A. KOMPONEN ABIOTIK
     a. Temperatur :  kisaran rendah-tinggi;migrasi, hibernasi
     b. Radiasi ; sinar;photoperiodisistas ; reproduksi diapause pada serangga,pembiakkan lebih dini pada
          ikan trout, pada primata color vision
     c. Air
     d. Kelembapan
     e. Udara/gas-gas atmosfer
     f.  Unsur hara/garam-garam biogenik ; mineral
     g. Tanah
     h. Api
     i. Katastropi : letusan gunung api/banjir dll
     j. Microenvironment
B. KOMPONEN BIOTIK
     Hewan, tumbuhan dan mikroorganisme

POPULASI
Populasi merupakan kelompok organisme-organisme dari spesies yang sama(atau kelompok-kelompok lain dimana individu-individu dapat bertukar informasi genetiknya) yang menempati uang dan tempat serta pada waktu tertentu, memiliki berbagai sifat yang merupakan milik unik dari kelompok itu (Odum, 1971)
Sifat-sifat populasi
a. kerapatan/kepadatan,besarnya populai dalam satuan ruang/luas.
    Dibagi menjadi kerapatan kotor(crude density) dimana jumlah per satuan luas seluruhnya dan kerapatan   habitat, dimana  jumalh satuan individu/satuan lua habitat yang didiaminya.                
b. natalitas (laju kelahiran/birth rate),
c. mortalitas(laju kematian),individu yang mati dalam kurun waktu tertentu
d. penyebaran umur,terdiri dari infant, juvenile dan sub adult. Kelas umur pada binatang dapat dilihat dari lingkaran tahun gigi, sisik ikan, cangkang moluska dan otolith, atau ukuran tubuh/proporsi.
f.  potensi biotik,
g. dispersi, individu meninggalkan populasi dan bergabung dengan kelompok lain.
h. dan bentuk pertumbuhan / perkembangan 

Studi dinamika populasi ialah demografi, 4 cara menentukan suatu populasi berubah (bertambah/berkurang) : BIDE
B+I=D+E ialah stabil.

SOSIOBIOLOGI
1. Keuntungan hidup berkelompok : leih bisa mempertahankan diri
2. Kerugian hidup berkelompok : kompetisi makanan, daerah jelajah jauh lebih besar.
Kasta dalam hewan biasa terjadi pada kelompok semut,lebah dan primata.

PERILAKU DAN EVOLUSI
Respon perubahan terhadap lingkungan
Lingkungan bervariasi dalam ruang dan waktu.Organisme memiliki berbagai jenis tanggapan terhadap perubahan lingkungan.
1. Behavioral/tanggapan/tindakan yang melibatkan binatang yang diperlukan untuk menghadapi perubahan 
    dalam lingkungannya.Contoh : Reptil mencari matahari pagi & mencari naungan di malam hari. 
2. Tanggapan fisiologi melibatkan perubahan dalam keadaan internal suatu organisme, tanggapan fisiologi 
    memakan waktu lebih lama dibandingakan dengan tanggapan perilaku.Contoh : Keringat.
    Regulasi menjaga kondisi internal yang relatif konstan ketika lingkungan berubah. Misalnya :hewan 
    berdarah panas mempertahankan suhu tubuh agar konstan.

Respon meliputi
Respon pengaturan
Respon Penyesuaian
Respon Perkembangan

Syarat stimulus dapat direspon, apabila reseptor mempunyai 3 syarat utama :
1. Sensitivitas : Meliputi intensitas dan kualitas stimulus
    a. Intensitas stimulus merupakan kualitas atau nilai yang dimiliki oleh suatu stimulus, yang dapat
        menyebabkan reseptor mampu memberikan respons.Contoh :  Intensitas suara yang mampu
        merangsang reseptor.(5000-7000 Hz untuk ikan).
   b. Kualitas stimulus, menyangkut masalah warna atau kimia. rangsang hormon perkawinan hanya bisa
       oleh hewan tertentu pula.
2. Lokalisasi, kemampuan menentukan sumber stimuli, baik menyangkut arah atau jarak.
    Contoh : Kemampuan penglihatan lebih berkemban pada burung
 3. Diskriminasi : Kemampuan alat indra dalam membedakan macam-macam rangsang.
     Contoh : Mata dapat membedakan gradasi warna.
Jenis-jenis respon
1. Respon reversibel
    a. Regulatory respons : berlangsungnya repons melalui proses-proses fisiologi dan terjadi sangat cepat.
        Contoh : Bentuk pupil mata (memipih, bila sangat kuat cahaya yg masuk). Menggigil, bila sangat dingin,
        Berkeringat, bila sangat panas.
    b. Aclamatory response : repons melalui mekanisme proses-poses fisiologi yang melandasinya melibatkan
        terjadinya perubahan-perubahan struktur dan morfologi hewan.
        Contoh : Proliferasi dan peningkatan jumlah eritrosit penguningan, Pigmentasi = peningkatan  panas
        terik.
 2. Ireversible Respons
Respons melibatkan banyak macamnya yang menghasilkan perkembangan beraneka macam struktur tumbuh, bersifat permanen dan terjadi terutama ontogeni.
Contoh : Jumlah mata faset pada lalat drosophila pada suhu tinggi., Anak cacat. jenis kelamin kura-kura karena perbedaan suhu.
3. Aklimatisasi dan Adaptasia. Aklimatisasi prosesnya terjadi dalam periode ontogeni hewan bersifat reversibel dan tidak diturunkan.
b. Adaptasi, melibatkan penurunan akibat seleksi alami, bersifat herediter.
   Adaptasi fisiologis (ikan air asin akan berbeda dengan ikan air tawar.
   Adaptasi morfologi
   Adaptasi perilaku

DISTRIBUSI DAN POPULASI

Cara Memperluas Distribusi
Organisme atau kumpulan organisme tersebar di permukaan bumi sesuai dengan kemampuan pergerakannya atau kondisi lingkungan seperti adanya pengaruh luas kawasan (luas pulau), ketinggian tempat, dan letak geografis. Penyebaran organisme dari suatu wilayah ke wilayah lain dapat dilakukan melalui salah satu di antara tiga jalan,yaitu (Whitten dkk, 1987) :
1.                                Lorong (koridor) : jalan yang memberikan peluang yang sama kepada semua jenis untuk pindah     melalui koridor.
2.                             Tapisan : Jalan yang hanya meliputi beberapa habitat, sehingga mencegah jenis-jenis tertentu untuk pindah, karena habitatnya yang tidak sesuai .
3.                          Jalan Undian : Jalan perpindahan yang melalui lautan. misalnya perpindahan organisme dari satui pulau ke pulau lainnya dengan cara mengikuti benda-benda yang terapung di atas lautan .
Pola penyebaran satwa liar dapat berbentuk : acak, berkelompok, dan sistematik . pola penyebaran ini merupakan strategi individu ataupun kelompok organisme untuk mempertahankan kelangsungan hidupnya. Rusa (Cervus timorensis, C. Unicolor) cenderung membentuk pola penyebaran acak. Sedang banteng (Bos javanicus) pada saat merumput di padang rumput membentuk pola penyebaran berkelompok. Burung-burung pinguin raja di Antartika di wilayah bersarangnya menunjukkan pola penyebaran sistematik (Perrins dan Birkhead, 1983). Jenis-jenis Ergetta  di hutan bakau Pulau Rambut, di wilayah tempat tidur dan bersarangnya cenderung membentuk pola penyebaran sistematik sesuai dengan keadaan penyebaran pohon-pohon yang juga teratur.
PENGARUH LUAS PULAU
Pengaruh ukuran luas pulau terhadap jumlah jenis dapat dipelajari dari ilmu biogeografi. Biogeografi adalah ilmu yang mempelajari penyebaran dan ekologi jenis berdasarkan ilmu bumi, sedang zoogeografi ialah biogeografi tentang hewan. Salah satu teori biogeografi pulau yang dikembangkan oleh Mac Arthur dan Wilson (1967) dikenal sebagai teori keseimbangan. Menurut teori biogeografi pulau, jumlah jenis yang di tampung oleh sebuah pulau akan ditentukan oleh titik keseimbangkan antara laju kepunahan lokal dan laju migrasi. Laju kepunahan lokal merupakan pencerminan dari faktor luas pulau  dan mutu habitat. Untuk pulau-pulau yang mutunya sama, hubungan antara luas dan jumlah jenis bersifat logaritmis, yaitu pulau yang luasnya sepuluh kali lipat akan enampung dua kali lebih banyak jenis. Sedang laju kepunahan jenis dapat dikaitkan dengan tingkat keterpencilan pulau, yaitu ditinjau dari jaraknya terhadap pulau-pulau lainnya yang lebih besar atau dari daratan utamanya yang menjadi sumber asal jenis-jenis pendatang (Pielou,1979; Williamson, 1981).
Pengaruh luas pulau terhadap derajat kelimpahan jenis endemik lokal juga sangat nyata. Pada umumnya pulau-pulau yang lebih besar mempunyai daftar jenis endemik (jenis yang tidak ditemui ditempat lain) jauh lebih banyak daripada pulau-pulau kecil. Dengan catatan bahwa tingkat endemisme sangat tergantung pada letak keterpencilan pulau. Pulau-pulau kecil yang letaknya terpencil, mempunyai tingkat  endemisme yang tinggi untuk burung, tetapi tingkat endemisme untuk tumbuhannya rendah. Sesuai dengan kondisi biogeografisnya, Pulau Kalimantan mempunyai jenis-jenis satwa liar endemik yang lebih tinggi daripada pulau Sumatera. Akan tetapi, walaupun luasnya kurang dari Pulau Kalimantan, Pulau Sulawesi memiliki jumlah jenis endemik yang lebih banyak. Kemungkinan besar perbedaan ini disebabkan karena Pulau Sulawesi dipisahkan dari Subwilayah Sunda oleh garis Wallace.
KETINGGIAN TEMPAT (ALTITUDE)
Penurunan jumlah jenis ini berjalan lebih lambat pada pegunungan yang luas, disebabkan dua hal :
1.               Adanya pengaruh luas pulau, dimana kondisi pegunungan sama halnya seperti pada kondisi habitat suatu pulau, yaitu jumlah jenis berubah logaritmik dengan luas pulau (habitat).
2.     Pembagian zonasi menurut ketinggian tidak hanya disebabkan oleh ketinggian semata-mata tetapi juga oleh adanya kenaikan liputan awan, serta berkurangnya cahaya dan suhu. Peubah-peubah ini memegang peranaan pada tempat-tempat yang lebih tinggi.
LETAK GEOGRAFIS
Letak geografi pulau dapat menentukan pula jenis penghuninya. Kepulauan Indonesia berada di antara dua wilayah geografis utama, yaitu wilayah Oriental dan Australia. Keadaan ini untuk pertama kalinya diketahui A.R.Wallace, yang kemudian mengusulkan garis pembagian sistem kehidupan ynag ditarik di sebelah timur Filipina, melalui selat Makassar dan di antara Bali dan lombok. Garis ini disebut Garis Wallace, yang menghalangi penyebaran hewan; terutama yang sepenuhnya hewan daratan dan sepenuhnya air tawar ke timur.
WILAYAH GEOGRAFIS FAUNA
Wilayah Oriental
Traub (1972) menyatakan bahwa padang pasir  Rajasthan di India bagian barat merupakan pembatasan sebelah barat dari wilayah oriental, meskipun dalam zaman sebelumnya ketika vegetasi lebih berkesinambungan, pembatasan ini ditarik di lembah Indus dari Pakistan. Wilayah Oriental  sulit didefinisikan dari segi fauna, karena tidak ada famili, jenis atau spesies yang dijumpai di seluruh wilayah dan tidak diketemukan di luarnya. Lyon (1913) menyarankan bahwa Tupaidae adalah  lebih baik dari famili lainnya untuk mendefinisikan fauna khas Wilayah Oriental.
Wilayah Paleartik
Wilayah Paleartik antara lain Thailand. Beberapa spesies thailand yang tersebar luas di Paleartik, diketemukan di semua wilayah geografis. Jenis-jenis yang tersebar luas mencakup celurut bergigi putih Eropa biasa, kalong berkumis, tikus rumah, tikus atap, dan babi hutan. Tikus mondok timur diketemukan di semua wilayah kecuali bagian barat Asia. Bagian selatan wilayah Cina yang beriklim sedang merupakan batas bagian utara bagi banyak spesies Oriental yang sedang menyebar ke arah utara. Contoh satu-satunya primata Thailand yang mencapai wilayah Paleartik adalah monyet rhesus, yang menembus wilayah Cina Selatan yang beriklim sedang .
Beberapa dari jenis Paleartik meluas ke arah utara melalui wilayah Cina Selatan ke Cina Utara, termasuk harimau (yang menyebar jauh ke utara, ke Siberia, meskipun kini banyak yang punah di wilayah tersebut), macan tutul (ke utara sampai di wilayah Amur dari Uni Soviet), cerpelai babi (ke utara sejauh 160 km sebelah timur laut Peking), cerpelai bertenggorokan kuning (ke utara sampai Padang Pasir Gobi), anjing liar (menurut sejarah, ke utara sejauh Hopeh, kini mungkin punah di bagian utara dari wilayah penyebarannya di Cina, Amur, dan wilayah-wilayah Ussuri dari bagian timur Siberia), landak Himalaya (ke utara sejauh Shensi) dan tikus berperut putih (ke utara sejauh Liaoning) (Lekagul dan McNeely, 1977).
Wilayah Etiopia
Wilayah Etiopia meliputi Afrika dan Arab Selatan, mempunyai hubungan yang berlangsung sejak lama dengan Asia Tenggara, karena keduanya memiliki hutan tropis dan subtropis, yang telah dihubungkan dengan habitat berhutan selama zaman Miosen (Napier, 1970). Akibatnya ada beberapa kelompok penting mamalia yang dibagi oleh kedua wilayah namun tidak dijumpai di tempat lainnya, mencakup kera-keran besar, gajah, badak, kancil, loris, monyet, dan trenggiling.
Wilayah Australia
Wilayah Australia dicirikan oleh fauna yang sangat berbeda dari mamalia primitif bertelur (monotremata) yang tidak dijumpai di tempat lain di dunia, dan mamalia berkantung(marsupialia) yang hanya dijumpai di  Australia dan di Amerika Selatan.Fauna mamalia berplasenta dari wilayah Australia dapat dibedakan dengan jelas, namun miskin akan spesies:satu-satunya famili asli diwikili oleh muridae (tikus) dan Chiropterae (kelelawar). Nampaknya tidak ada mamalia berplasenta lain yang pernah masuk ke daerah ini. Keadaan ini menyebabkan wilayah Australia sangat berbeda dari wilayah-wilayah fauna lainnya.



1.      Spesiasi Alopatrik
Merupakan spesiasi melalui isolasi geografik, misalnya melalui fragmentasi habitat dan migrasi. Seleksi di bawah kondisi demikian dapat menghasilkan perubahan yang sangat cepat pada penampilan dan perilaku organism,Karena seleksi dan hanyutan bekerja secara bebas pada populasi yang terisolasi, pemisahan pada akhirnya akan menghasilkan organisme yang tidak akan dapat berkawin campur.
Spesiasi alopatrik terjadi karena adanya penghalang fisik seperti sungai, gunung, letak geografis dan sebagainya.  Penghalang ini memisahkan sebuah populasi dari populasi induknya, yang berarti memotong aliran gen antar kedua pupulasi tersebut.  Setelah terisolasi mereka membentuk sejumlah perbedaan genetik, termasuk penghalang reproduksi yang membedakannya dari populasi induknya.  Contoh dari spesiasi alopatrik ini adalah hasil evolusi dari populasi burung kutilang (finches) di Kepulauan Galapagos yang terpisah dari populasi induknya di Benua Amerika bagian selatan. 
2.      Spesiasi Simpatrik
Merupakan spesiasi tanpa isolasi geografik,  Mekanisme ini cukup langka karena hanya dengan aliran gen yang sedikit akan menghilangkan perbedaan genetika antara satu bagian populasi dengan bagian populasi lainnya. Secara umum, spesiasi simpatrik pada hewan memerlukan evolusi perbedaan genetika dan perkawinan tak-acak, mengijinkan isolasi reproduksi berkembang. Salah satu jenis spesiasi simpatrik melibatkan perkawinan silang dua spesies yang berkerabat, menghasilkan spesies hibrid. Hal ini tidaklah umum terjadi pada hewan karena hewan hibrid bisanya mandul. Sebaliknya, perkawinan silang umumnya terjadi pada tanaman, karena tanaman sering menggandakan jumlah kromosomnya, membentuk poliploid. Ini mengijinkan kromosom dari tiap spesies tetua membentuk pasangan yang sepadan selama meiosis. Salah satu contoh kejadian spesiasi ini adalah ketika tanaman Arabidopsis thaliana dan Arabidopsis arenosa berkawin silang, menghasilkan spesies baru Arabidopsis suecica.
RELUNG & HABITAT
Habitat merupakan alamat dimana ia tinggal/dapat dijumpai., / status fungsional suatu organisme didalam komunitasnya.pertama kali digunakan pada abad ke-18 pada flora dan fauna untuk menyatakan tempat tumbuh alaminya atau keberadaan suatu spesies.
Habitat merupakan suatu wilayah/kawasan yang merupakan tempat yang menjamin, makanan, melakukan suau pererakan, berlindung dan bereproduki / mengasuh anak-anaknya
Relung/niche adalah profesinya, menunjukkan tempat yang diduduki oleh seluruh komunitasnya., dimana ia bekerja, dimana ia makan, apa minatnya, pembantunya, perannya, posisi trofik, gradien suhu, kelembapan.
Relung terbagi menjadi 3 jenis ,yakni :
a. Reling habitat/ekologi :
b. Relung Trofik : merupakan status fungsinal suatu organisme dalam komunitasnya, yan menekankan pada
    hubungan energi.
c. Relung multidimensi

Home range and Teritori
Isolasi dapat terjadi dikarenakan
1. persaingan terhadap sumber daya yang terbatas.
2. Antagonisme
Home range / daerah jelajah / ruang pengembaraan  adalah daerah yang digunakan oleh satu kelompo untuk makan, bergerak, ereproduksi dan berlingung selama hidupnya, umumnya selama 2 musim / periode waktu tertentu.(misal selama waktu penelitian).
Biasanya home range dari jenis yang berbeda akan berbeda pula dan biasanya home range ini tumpang tindih dengan kelompok lain.
Teritory ialah ruang pengembaraan yang dipertahankan secara aktif dari kelompok lain yang sejenis.
Oleh karenanya hewan terbagi menjadi yang memiliki teritorial dan non teritorial. hewan yang memiliki daerah teritori iala hanuman langur, colobus, siamang, la gibon, dan ring tailed lemur. sementara yang tidak memiliki teritori ialah gorila, patas, rhesus macaque, orang utan, simpansi.
Daerah teritori pada priimta ialah permanen misalnya pada famili monogami.
Sementara pada burung terbagi menjadi
a. seluruh daerah untuk makan, perkawinan, dan reproduksi
b. Daerah perkawinan dan sarang
c. Daerah perkawinan saja
d. Sarang saja
e. Daerah bukan untuk bereproduksi

Teritorial conflict : Intertroop conflict
 Keberadaan kelompok satwa dinyatakan dengan nyanyian/vocalisasi,fighting,
Core area merupakan daerah yang paling lama/banyak digunakan oleh binatang, secara kuantitatif bila binatang tersebut mengunakan 50-70 % selama observasi, berisi sleeping, feeding tree/tempat minum.

Daya Dukung
Terdiri dari  :
1. Daya dukung ekonomi ;
    a. tingkat kepadatan panen maksimum
    b. tingkat kepadatan yang dampaknya minimum terhadap satwa liar maupun habitat minimum.
2. daya dukung ekologi :
    a. tingkat kepadatan susisten
    b. tingkat kepadatan toleran
    c. tingkat kepadatan aman
a. Tingkat kepadatan permanen maksimum
>    Data dasar yang digunakan untuk tujuan permanenan hail yang maksimum ;
     1. Menetapkan jumlah satwa liar yang maksimum dapat dipanen setiap tahun
     2. memelihara populasi agar tidak mencapai jumlah yang maksimum
>   Alternatif penetapan dengan pendekatan :
     1. Memantau kecenderungan kondisi habitat dan populasi, khususnya keadaan reproduksi
     2. Model populasi estimasi
b. tingkat kepadatan yang berdampak minimum
 >   tujuan ini dapat dicapai dengan melakukan tindakan-tindakan :
     1. Mengurangi populasi satwa pemangsa sampai batas  kepadatan yang dampaknya minimum.
     2. mengurani populasi jenis satwa yang menang dalam sistem persaingan
     3. mengurani jumlah populasi herbivora sampai pada suatu keadaan yang tidak merusak vegetasi dan
         habitatnya.
AKTIVITAS HARIAN
1. Behavioral ekology :
2. Studi utama  : bagaimana mendapatkan makanan, menghindari pemangsaan dan reproduksi

Aplikasi
a. Pengelolan satwa liar
b. Pelestarian hutan dan status
c. Pengendalian hama
d. Epidemiologi
e. Pertenakan
f. Penangkaran

Daftar Pustaka
http://nurulbiologi.blogspot.com/2011/11/allopatrik-dan-simpatrik-spesies.html

Pendakian 0

adhyws | Sabtu, Desember 22, 2012 |

Perjalanan ini merupakan pendakian pertamaku di alam bebas, waktu itu aku masih tingkat satu di biologi, bermula dari ajakan senior, aku pun mulai mengemas barang yang sekiranya aku perlukan. Perjalanan kami tempuh dengan menggunakan kendaraan bermotor selama 3 jam dari kota Bandung. Papandayan merupakan gunung api yang masih aktif yang terletak di kecamatan Cisurupan, Kabupaten Garut, Jawa Barat. Dengan ketinggian 2665 m diatas permukaan laut merupakan tantangan pertamaku melawan hawa dingin yang menyelimuti.

kawah sulfur
       Setibanya di gerbang parkir, sekedar menghangatkan badan setelah perjalanan panjang melewati Garut, kami pun melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki. Baru sebentar kami berjalan, angin membawa gas belerang ke arah kami, dan tercium menusuk hidung. Kami memakai syal  yang sedikit lembab untuk melewati terpaan angin tersebut. Karena terkena mata pun menjadi sangat perih, kami bergegas melewati kawah-kawah aktif tersebut. Dan menghirup kesegaran udara sebanyak-banyaknya setelah melewati kawah-kawah tersebut.
            Setelah melewati kawah-kawah tersebut, kami susuri jalan setapak yang ada. Karena jalan terputus oleh longsor maka, kami terpaksa mencari jalan pintas dengan menaiki tebing yang kami sebut vertikal limit.



       
gunung

pohon mati akibat lahar panas

tegalan air yang sangat jernih

kawah hijau terlihat dari atas

lokasi parkir

Sisa-sisa kebakaran di Papandayan

Sungai mati diatas Gunung

puncak

edelweis

genangan air di musim hujan

Kawah Belerang, Papandayan
Tegal Alun, Papandayan

Ada apa di Merapi,….. 0

adhyws | Kamis, Desember 06, 2012 |



Dari Jogjakarta, berita burung ini terbang melalui suara di dunia maya. Tiga hari kami lewatkan di kaki Gunung Merapi. Dua tim yang dikirimkan oleh HIMBIO UNPAD dan Birds Conservation Bandung turut berpartisipasi dalam  Kegiatan Bird Race di Merapi. Pengalaman pertama bagi saya dalam event seperti ini, yah inilah kami yang mencoba menyusun kembali jalur penerbangan setelah lama menetap di kaki-kaki pegunungan Bandung. Mencoba tuk mengingat kembali jalur penerbangan yang diajarkan oleh kakak-kakakku disana. Pesan kakakku jadikan perjalanan pertama di periode ini sebagai pengalaman berharga, dan berkenalan dengan teman yang baru yang sebenarnya merupakan satu keluarga.
Tim berbekal doa dan uang yang ngepas, ternyata harus beralih ke bus dari rencana menaiki kereta api. Waduh, nambah lagi uang yang musti keluar deh. Tebak saja mengapa saya dan teman saya Irpan menaiki motor. Ya, malam itu kami berangkat pukul 09.00 malam, menembus kedinginan malam dengan bergantian dan tak lupa singgah untuk melepas lelah. Tiba di Stasiun Wates pukul 06.00 WIB, menanyakan tiket kereta menuju Bandung tuk memesankan untuk teman-teman yang berada di bus. Ternyata tiket pun sudah habis. Ya, apa boleh dikata, kami pun akhirnya ke rumah Kakekku di Kulon Progo, Yogyakarta. Satu hari menginap untuk melepas lelah hingga tim kami berkumpul, keesokkan harinya kami lanjutkan transit kami ke Stasiun Condong Catur. Setibanya disana kami lalu dijemput dengan angkutan yang disediakan panitia. Di sebuah truk membuat suasana semakin terasa akrab, karena disanalah kami mulai berkenalan dengan sesame Pengamat Burung Indonesia.
Tiba di kakai gunung Merapi pukul 11.00 WIB, lalu melakukan registrasi ulang  dan akhirnya mendirikan tenda. Setelah solat jumat kami belajar, mereview apa yang dipelajari sebelumnya. Setelah itu semua field guide dikumpulkan. Yah, briefing persiapan untuk esok hari setelah pembukaan dilakukan dengan diiringi hujan yang cukup deras. Rintik air menetes di tenda kami, namun suasana hangat tetap terasa di dalam tenda. Malam itu kuberdoa agar dimudahkan diesok hari.
Membuka mata, lalu bergegas ke kamar mandi untuk membasuh diri dan memanjatkan doa di pagi itu, mempersiapkan bekal untuk perjalanan pertama ini. Kami menuju meja panitia untuk mengambil buku yang harus diisi dan memori yang telah dikosongkan panitia dihari yang lalu. Hari itu pukul 05.00 WIB kami telah berjalan dari kaki Gunung Merapi di Bumi Perkemahan Kaliurang menuju Puncak Plawangan.
Kami mulai berjalan dan perjalanan kami pertama kali disambut oleh beberapa kelompok Macaca fascicularis,  lama berjalan heran belum ada burung yang kami temui kecuali suara yang terdengar di kejauhan. Yah, duduk dahulu menunggu sang mentari terbit mengusir mendung yang datang dan tibalah kami untuk mengetahui burung kecil yang menyapa dengan geraknya yang berpindah lincah di dahan pohon puspa. Siapakah dia ? Yang memiliki dada putih hingga tunggir dan dari kepala,badan hingga ekor hitam. Namun ciri yang mungkin membuat kita bisa langsung menebaknya ialah alis dan garis sayap berwarna putih jelas. Yah burung yang disebut Little Pied Flycatcher ini memiliki nama ilmiah Ficedula westernmanni  menjadi burung pertama yang tertangkap mata dan terekam oleh kamera Adit.Dari sini sepertinya kami baru menemukkan irama yang kami cari, satu demi satu burung  mulai kita dapatkan dari mulai menemukan burung madu gunung Aethopyga exima, Pycnonotus bimaculatus  yang bersembunyi di balik rimbunnya semak dan kabut, Phylloscopus coronatus. Lalu sekelompok sepah Gunung  membuat suasana menjadi semakin semarak disaat kita sedang mengamati burung kutilang dan kacamata gunung.Lalu kami pun menemukan Cica daun yang mencari buah kecil didahan atas di tajuk pohon yang tinggi.Baik, tibalah saatnya kita mengamati sang Raptor, pukul 10.00 WIB kami mulai penantian ditemani teaman-teman dari tim lain yang juga menunggu sang Raptor. Tak begitu lama munculah yang dinanti, yakni Sikep Madu Asia dan tak lama setelah itu muncul Spizaetus bartelsi yang turut memeriahkan birunya langit dari puncak triangulasi gunung Merapi. Setelah kami rasa cukup, maka pukul 11.45 WIB kami mulai pulang untuk menyerahkan data yang telah kami dapatkan selama perjalanna. Sketsa kami buat meski tak terlalu bagus, ya yang penting bagian-bagian kuncinya tetap ada deh. Dan dengan deskripsi singkat yang kami lihat dan ketahui kami tuliskan disisi sketsa kami.  Lumayan lah ada 23 spesies yang tercatat, dan akhirnya tiba-tiba Sekeor burung sebesar merpati dengan diamnya berpindah dari ranting-ranting dahan. Berwarna hitam langsung seketika itu kami catat sebagai gagak hitam. Yah kami akhiri perjalanan hari ini dengan jumlah 24 spesies. Wuih mengesankan, baru pertama kali saya dapatkan list sebanyak itu dalm satu hari.
Kelanjutan cerita ini  bertambah ketika mulai saatnya presentasi dimulai, yah ku deskripsikan burung  yang kuketahui. Selanjutnya quis dimulai setelah isya, dan quis inilah yang membuat saya tertarik lebih jauh lagi dengan pengamatan burung. Ternyata banyak yang harus kita pelajari dari sini, dari mulai suara burung yang belum banyak kami dengar, tebak-tebak gambar dan pengetahuan umum tentang burung. Wah quis tebak suara lah yang benar-benar membuat saya tertarik untuk mempelajari burung dengan suara yang ditimbulkannya.
Juaralah, benar-benar ngeblank pisan walaupun dari perasaan ini mengatakkan bahwa sebenarnya kau bisa, namun memang aku perlu banyak belajar sebelumnya dan lebih dari kemarin. Ya- juaranya saya lupa siapa dan dari mana walaupun pernah berkenalan, namun lupa euy,… Yakata-kat positif yang kutanamkan adalah ucapan yang dikatakan saat penutupan “kita semua adalah juara”, yah benar deh kata kakak-kakakku di Bandung, untuk perjalanan pertama ini jadikanlah sebagai pengalaman untuk perjalanan panjang selanjutnya.Kamu masih muda dan sudah saatnya belajar dari dunia yang sesungguhnya indah bila kita tahu bagaimana cara memahami keindahan tersebut. Dari kami tidak ada piala yang kami dapatkan, hanyalah sebuah cerita bahwa posisi kami di Pengamat Burung Indonesia diterima dengan baik dan memang inilah induk bagi para Birdwatchernya Indonesia.
Salam,….
Birdwatcher PRAPATAN Bandung



 
Prapatan SPS Copyright © 2010 Prozine Theme is Designed by Lasantha Home | RSS Feed | Comment RSS