Welcome to the Jungle

PRAPATAN SPS
Catatan Berkeliling Nusantara

proses pembuatan kompos 0

Adhy Ws | Minggu, Mei 29, 2011 |


KATA PENGANTAR



            Puji dan syukur penulis panjatkan ke hadirat Tuhan Yang Maha Kuasa karena, atas berkat dan kehendak-Nyalah makalah  ini dapat selesai tepat pada waktunya.
            Penulisan makalah yang bertema Reduce, Rejuice and Recycling melalui Pembuatan Pupuk Kompos memiliki tujuan untuk menerapkan ilmu biologi dan kimia dalam kehidupan sehari-hari. Selain itu makalah ini  juga bertujuan untuk memaparkan bagaimana cara mengolah sampah organik.
            Dalam penulisan makalah  ini penulis menemukan banyak kesulitan, terutama keterbatasan mengenai penguasaan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (IPTEK). Tetapi berkat bimbingan yang diberikan oleh berbagai pihak akhirnya penulis pun dapat menyelesaikan makalah ini. Karena itu penulis turut mengucapkan terima kasih kepada :

Semua pihak yang turut serta dalam pembuatan makalah ini.

Sebagai pelajar, penulis menyadarai bahwa pengetahuan yang dimiliki   masih terbatas sehingga dalam karya ilmiah ini masih ditemukan banyak kekurangan. Maka, kritik dan saran dirasakan sangat dibutuhkan untuk kemajuan penulis di masa yang akan datang.
            Penulis berharap, agar dengan adanya makalah ini tidak hanya sebagai bagian dari tugas akhir pembelajaran ilmu kimia dasar, melainkan juga dapat bermanfaat bagi pihak-pihak tertentu.


Bandung, 10 Mei 2011


   PENULIS












DAFTAR ISI
Halaman
KATA PENGANTAR...................................................................................           2
DAFTAR ISI...................................................................................................           4         
BAB I              PENDAHULUAN                                                                           
                        A. Latar Belakang.................................................................           5         
                        B. Perumusan Masalah........................................................           5         
                        C. Tujuan Penelitian.............................................................           5
                        D. Metode Penelitian............................................................          6
                        E. Hipotesis............................................................................          6
                        F. Waktu dan Lokasi Penelitian..........................................          6
                        G. Sistematika Penulisan......................................................          7
BAB II             PEMBAHASAN....................................................................           8
BAB III           REDUCE,REJUICE AND RECYCLING MELALUI PEMBUATAN
PUPUK KOMPOS
A.    Komposisi Sampah…………………………………….          9
B.     Pengelolaan Sampah…………………………………..           9
C.     Alat dan Bahan................................................................           12
D.    Langkah – Langkah Pembuatan Kompos……………          15
E.     Faktor yang mempengaruhi proses Pengomposan....         16
F.      Mutu kompos……………………………………………         17
G.    Manfaat Kompos………………………………………..         18
BAB IV           KESIMPULAN DAN SARAN
A.    Kesimpulan………………………………………………        19
B.     Saran……………………………………………………...         19
DAFTAR PUSTAKA………………………………………………………..          20
BIODATA……………………………………………………………………          21











BAB 1
PENDAHULUAN

  1. Latar Belakang

Melihat keadaan lingkungan kita yang setiap hari dipermasalahkan oleh samapah yang semakin menggunung seolah sampah ini menjadi masalah atau momok utama yang dihadapi oleh pemerintah dan masyarakat.

Sehingga masyarakat di beberapa Negara bahkan diseluruh dunia berlomba-lomba menyelesaikan hal tersebut. Jika kita berbicara tentang permasalahan sampah ini, sebenarnya sampah ini banyak sekali manfaatnya antara lain dapat membuat pupuk organik. Walaupun ada yang merugikan antara lain menyebabkan kerugian yang berdampak berbahaya sekali bagi kehidupan makhluk hidup di dunia.

Sebenarnya banyak sekali cara untuk menangani masalah sampah ini contohnya dengan cara daur ulang yang bisa menghasilkan KOMPOS alami yang bias dimanfaatkan oleh para petani dan masyarakat, dengan cara itu pula para petani bisa meminimaliskan penggunaan pupuk anorganik. Karena dengan pupuk anorganik itu bisa membuat kerusakan lingkungan antara lain pencemaran di dalam air dan tanah.


  1. Perumusan Masalah     
           
            Dengan melihat latar belakang yang telah dikemukakan maka beberapa masalah yang dapat penulis rumuskan dan akan dibahas dalam karya tulis ilmiah ini adalah:
    1. Bagaimana cara pengolahan sampah anorganik menjadi barang ekonomis?
    2. Apa manfaat dari pupuk kompos?
    3. Proses kimia dan biologis apa yang terdapat didalamnya?




  1. Tujuan Penelitian

Penulisan makalah ini dilakukan untuk memenuhi tugas Kimia Dasar  mengenai makalah yang bertemakan “ reduce, rejuice,& recycle, yang diharapkan dapat bermanfaat dalam kehidupan manusia dan mempermudah bagaimana cara memanfaatkan sampah dengan baik dan benar.

Secara terperinci, tujuan dari penelitian dan penulisan karya ilmiah ini adalah :
1.      Mengetahui sampai mana pengetahuan senyawa-senyawa organik yang terkandung dalam sampah.
2.      Mengetahui bagaimana cara mengolah sampah.
3.      Mengetahui langkah - langkah pembuatan pupuk kompos.
4.      Mengetahui dan menemukan manfaat kompos. 


  1. Metode Penelitian

Untuk mendapatkan data dan informasi yang diperlukan, penulis menggunakan metode observasi, praktek langsung dilapangan (arboretum unpad)  dan browsing di internet. Adapun teknik-teknik yang dipergunakan pada penelitian ini, yaitu sebagai berikut :
    1. Studi Literatur
Pada metode ini penulis membaca literature-literatur yang berhubungan dengan penulisan karya ilmiah

    1. Teknik Pengamatan Langsung
Pada teknik ini penulis terjun langsung kedalam proses pengolahan sampah.


  1. Hipotesis

Dengan mengolah sampah organik kita dapat mengurangi,mengolah kembali dan memanfaatkan sesuatu yang tidak terpakai menjadi terpakai kembali


  1. Waktu dan Lokasi Penelitian

Waktu yang digunakan untuk melakukan penelitian adalah sekitar 1 bulan 2 minggu, tepatnya selesai pada  tanggal  5 Mei 2011 dan mengambil lokasi di wilayah Arboretum Unpad. Kegiatan ini diawali dengan perumusan masalah, pengumpulan data, pengolahan data, kegiatan lapangan, pengamatan hingga penulisan hasil penelitian.


  1. Sistematika Penulisan

Pada makalah ini terdapat tiga bab, yaitu Bab I, Bab II, Bab III. Dalam bab yang pertama terdapat latar belakang, perumusan masalah, tujuan penelitian, metode penelitian, hipotesis, dan sistematika penulisan. Sementara dalam bab kedua terdapat deskripsi umum dari kompos.

Dan pada bab ketiga terdapat paparan mengenai pengertian sampah, komposisi sampah, pengelolaan sampah, alat dan bahan yang digunakan dalam pembuatan kompos, langkah – langkah pembuatan kompos, faktor yang mempengaruhi proses pengomposan, mutu kompos, dan manfaat kompos. Kemudian pada bab yang terakhir terdapat kesimpulan dari seluruh isi karya ilmiah serta saran.






















BAB II
PEMBAHASAN

Sampah adalah semua material yang dibuang dari kegiatan rumah tangga, perdagangan, industri dan kegiatan pertanian. Sampah yang berasal dari kegiatan rumah tangga dan tempat perdagangan dikenal dengan limbah municipal yang tidak berbahaya (non hazardous). 
Soewedo   (1983) menyatakan bahwa sampah adalah bagian dari sesuatu yang tidak dipakai, tidak disenangi atau sesuatu yang harus dibuang, yang umumnya berasal dari kegiatan yang dilakukan manusia (termasuk kegiatan industri), tetapi bukan yang biologis.
Kompos adalah hasil penguraian parsial/tidak lengkap dari campuran bahan-bahan organik yang dapat dipercepat secara artifisial oleh populasi berbagai macam mikroba dalam kondisi lingkungan yang hangat, lembab, dan aerobik atau anaerobik (Modifikasi dari J.H. Crawford, 2003). Sedangkan pengomposan adalah proses dimana bahan organik mengalami penguraian secara biologis, khususnya oleh mikroba-mikroba yang memanfaatkan bahan organik sebagai sumber energi. Membuat kompos adalah mengatur dan mengontrol proses alami tersebut agar kompos dapat terbentuk lebih cepat. Proses ini meliputi membuat campuran bahan yang seimbang, pemberian air yang cukup, mengaturan aerasi, dan penambahan aktivator pengomposan. Sampah terdiri dari dua bagian, yaitu bagian organik dan anorganik. Rata-rata persentase bahan organik sampah mencapai ±80%, sehingga pengomposan merupakan alternatif penanganan yang sesuai





BAB III
REDUCE,REJUICE AND RECYCLE
MELALUI PEMBUATAN PUPUK KOMPOS

A. Komposisi Sampah
Berdasarkan komposisinya, sampah dibedakan menjadi dua, yaitu:
1.    Sampah Organik, yaitu sampah yang mudah membusuk seperti sisa makanan, sayuran, daun-daun kering, dan sebagainya. Sampah ini dapat diolah lebih lanjut menjadi kompos;
2.    Sampah Anorganik, yaitu sampah yang tidak mudah membusuk, seperti plastik wadah pembungkus makanan, kertas, plastik mainan, botol dan gelas minuman, kaleng, kayu, dan sebagainya. Sampah ini dapat dijadikan sampah komersil atau sampah yang laku dijual untuk dijadikan produk lainnya (produk daur ulang).  Beberapa sampah anorganik yang dapat dijual adalah plastik wadah pembungkus makanan, botol dan gelas bekas minuman, kaleng, kaca, dan kertas, baik kertas koran, HVS, maupun karton;
Di negara-negara berkembang komposisi sampah terbanyak adalah sampah organik, sebesar 60 – 70%, dan sampah anorganik sebesar ± 30%.

B. Pengelolaan Sampah
Agar pengelolaan sampah berlangsung dengan baik dan mencapai tujuan yang diinginkan, maka setiap kegiatan pengelolaan sampah harus mengikuti filosofi pengelolaan sampah. Filosofi pengelolaan sampah adalah bahwa semakin sedikit dan semakin dekat sampah dikelola dari sumbernya, maka pengelolaannya akan menjadi lebih mudah dan baik, serta lingkungan yang terkena dampak juga semakin sedikit.
Tahapan Pengelolaan sampah yang dapat dilakukan di kawasan wisata alam adalah:
a.    Pencegahan dan Pengurangan Sampah dari Sumbernya
Kegiatan ini dimulai dengan kegiatan pemilahan atau pemisahan sampah organik dan anorganik dengan menyediakan tempat sampah organik dan anorganik  disetiap kawasan yang sering dikunjungi wisatawan.  
b.    Pemanfaatan Kembali
Kegiatan pemanfaatan sampah kembali, terdiri atas:
1).  Pemanfaatan sampah organik, seperti composting (pengomposan).  Sampah yang mudah membusuk dapat diubah menjadi pupuk kompos yang ramah lingkungan untuk melestarikan fungsi kawasan wisata. 
2).  Pemanfaatan sampah anorganik, baik secara langsung maupun tidak langsung. 
Pemanfaatan kembali secara langsung, misalnya pembuatan kerajinan yang berbahan baku dari barang bekas, atau kertas daur ulang.  Sedangkan pemanfaatan kembali secara tidak langsung, misalnya menjual barang bekas seperti kertas, plastik, kaleng, koran bekas, botol, gelas dan botol air minum dalam kemasan.
c.    Tempat Pembuangan Sampah Akhir
Sisa sampah yang tidak dapat dimanfaatkan secara ekonomis baik dari kegiatan composting maupun pemanfaatan sampah anorganik, jumlahnya mencapai ±  10%, harus dibuang ke Tempat Pembuangan Sampah Akhir (TPA).  Di Indonesia, pengelolaan TPA menjadi tanggung jawab masing-masing Pemda.
Dengan pengelolaan sampah yang baik, sisa sampah akhir yang benar-benar tidak dapat dimanfaatkan lagi hanya sebesar ± 10%.  Kegiatan ini tentu saja akan menurunkan biaya pengangkutan sampah bagi pengelola kawasan wisata alam, mengurangi luasan kebutuhan tempat untuk lokasi TPS, serta memperkecil permasalahan sampah yang saat ini dihadapi oleh banyak pemerintah daerah.


Mengapa kita harus mengolah sampah?
Sampah, khususnya di daerah perkotaan sering menjadi masalah. Timbunan sampah yang dihasilkan terus bertambah seiring dengan bertambahnya penduduk kota. Sehari setiap warga kota menghasilkan rata-rata 900 gram, dengan komposisi, 70% sampah organik dan 30% sampah anorganik. Yang dimaksud sampah organik adalah sampah yang berasal dari benda hidup, seperti sisa makanan, sisa sayuran, ikan, buah-buah, daun, ranting, ampas kelapa dsbnya. Sedangkan yang termasuk sampah anorganik adalah, plastik, kaleng, besi, plastik air kemasan, plastik sisa sampo, kaca, kain perca dsbnya.
Sebagian besar sampah di kota dibuang ke TPA. Namun pengolahan di TPA yang sebagian besar dengan sistem open dumping, justru sering menimbulkan masalah, mulai dari masalah kesehatan, pencemaran udara, air, tanah sampai masalah estetika. Beberapa kajian membuktikan, penangganan sampah dengan cara seperti itu akan menghasilkan gas polutan seperti methan, H2S dan NH3. Gas H2S dan NH3 yang dihasilkan, walaupun jumlahnya sedikit, namun dapat menyebabkan bau yang tidak enak.
Sementara itu, masih banyak warga kota yang membuang sampah di sembarang tempat, misalnya sungai, saluran drainase atau rawa-rawa. Akibatnya sampah akan menyumbat saluran sehingga menyebabkan banjir. Di sisi kesehatan tumpukan sampah tersebut akan menjadi salah satu sumber penularan penyakit seperti disentri, kolera, pes dsbnya.
Selain itu ternyata tidak sedikit warga kota yang menanggani sampah dengan cara dibakar. Cara-cara seperti justru dapat menimbulkan masalah serius. Karena sampah yang dibakar akan menghasilkan zat atau gas polutan yang tidak hanya berbahaya bagi lingkungan tetapi juga berbahaya langsung terhadap manusia. Polutan yang dihasilkan akibat pembakaran sampah dapat menyebabkan gangguan kesehatan, pemicu kanker (karsiogenik) bahkan kematian.
Sebagai gambaran, pembakaran 1 ton sampah akan menghasilkan 30 kg gas CO, Gas yang jika dihirup akan berikatan sangat kuat dengan hemoglobin darah sehingga dapat menyebabkan tubuh orang menghirup akan akan kekurangan O2 dan menimbulkan kematian. Pembakaran sampah organik juga akan menghasilkan gas methana. Membakar potongan kayu akan menghasilkan senyawa formaldehida yang mengakibatkan kanker. Sampah organik yang masih agak basah seperti daun, ranting, batang, sisa sayuran atau buah jika dibakar tidak akan semua terbakar dan menghasilkan partikel-partikel padat yang akan beterbangan. Satu ton sampah organik akan menghasilkan 9 kg partikel padat yang mengandung senyawa hidrokarbon berbahaya. Salah satu diantaranya adalah benopirena. Menurut beberapa kajian diketahui asap dari pembakaran sampah mengandung benzopirena 350 kali lebih besar dari asap rokok.
Di sisi lain, tidak semua sampah jika dibuang ke alam akan mudah hancur. Butuh waktu berbulan-bulan, bahkan ada yang puluhan tahun baru bisa hancur. Akibatnya jika volume sampah yang dihasilkan warga kota banyak dan lama hancur, maka akan dibutuhkan lahan yang luas untuk TPA. Sebagai gambaran, Kertas jika dibuang ke alam butuh waktu 2,5 bulan untuk bisa hancur, Kardus butuh 5 bulan, kulit jeruk 6 bulan, busa sabun (Deterjen) baru bisa terurai setelah 20-25 tahun, sepatu kulit yang dibuang ke halaman baru bisa hancur setelah 20-40 tahun, kain nilon 30-40 tahun, plastik 50-80 tahun dan aluminium 80-100 tahun. Sementara itu ada satu jenis sampah yang tidak bisa hancur sampai kapan pun, yaitu strefom.
Keberadaan warga miskin di kota seringkali menjadi kambing hitam karena dituding sebagai penyebab kota kotor dengan sampah. Padahal faktanya banyak perumahan atau kampung orang kaya yang justru menjadi sumber sampah utama di perkotaan. Dan tidak sedikit pemulung yang kerap dimasukkan sebagai bagian dari warga miskin kota yang justru “mengolah” sampah di kota sehingga mengurangi jumlah sampah yang dibuang ke TPA.


C. Alat dan Bahan
Pengomposan secara anaerobik
Peralatan yang dibutuhkan dalam pengomposan secara anaerobik terdiri dari peralatan untuk penanganan bahan dan peralatan perlindungan keselamatan dan kesehatan bagi pekerja. Berikut disajikan peralatan yang digunakan.
1.      Wadah atau plastik
Þ    Sebagai tempat atau wadah selama proses pembuatan kompos.
2.      Sekop  
Þ    Alat bantu dalam pengayakan dan tugas-tugas lainnya
3.      Garpu/cangkrang
Þ    Digunakan untuk membantu proses pembalikan tumpukan bahan dan pemilahan sampah
4.      Saringan/ayakan
Þ    Digunakan untuk mengayak kompos yang sudah matang agar diperoleh ukuran yang sesuai
Þ    Ukuran lubang saringan disesuaikan dengan ukuran kompos yang diinginkan
Þ    Saringan bisa berbentuk papan saring yang dimiringkan atau saringan putar
5. Termometer
Þ    Digunakan untuk mengukur suhu tumpukan
Þ    Pada bagian ujungnya dipasang tali untuk mengulur termometer ke bagian dalam tumpukan dan menariknya kembali dengan cepat
Þ    Sebaiknya digunakan termometer alkohol (bukan air raksa) agar tidak mencemari kompos jika termometer pecah
6.   Timbangan
Þ    Digunakan untuk mengukur kompos yang akan dikemas sesuai berat yang diinginkan
Þ    Jenis timbangan dapat disesuaikan dengan kebutuhan penimbangan dan pengemasan
7. Sepatu boot
Þ    Digunakan oleh pekerja untuk melindungi kaki selama bekerja agar terhindar dari bahan-bahan berbahaya
8. Sarung tangan
Þ    Digunakan oleh pekerja untuk melindungi tangan selama melakukan pemilahan bahan dan untuk kegiatan lain yang memerlukan perlindungan tangan
9. Masker
Þ    Digunakan oleh pekerja untuk melindungi pernafasan dari debu dan gas bahan terbang lainnya
Bahan yang digunakan dalam pembuatan kompos ini adalah
1. Seresah daun pisang dan sejenisnya
2. Kotoran kambing dan air kencing kelinci sabagai enzim aktivatornya

Tabel Organisme Yang Membantu Pembuatan Kompos
Kelompok Organisme
Organisme
Jumlah/gr kompos
Mikroflora
Bakteri; Aktinomicetes; Kapang
109 - 109; 105 108; 104 - 106
Mikrofanuna
Protozoa
104 - 105
Makroflora
Jamur tingkat tinggi

Makrofauna
Cacing tanah, rayap, semut, kutu, dll

Teknologi pengomposan sampah sangat beragam, baik secara aerobik maupun anaerobik, dengan atau tanpa aktivator pengomposan. Aktivator pengomposan yang sudah banyak beredar antara lain PROMI (Promoting Microbes), OrgaDec, SuperDec, ActiComp, BioPos, EM4, Green Phoskko Organic Decomposer dan SUPERFARM (Effective Microorganism)atau menggunakan cacing guna mendapatkan kompos (vermicompost). Setiap aktivator memiliki keunggulan sendiri-sendiri.
Pengomposan secara aerobik paling banyak digunakan, karena mudah dan murah untuk dilakukan, serta tidak membutuhkan kontrol proses yang terlalu sulit. Dekomposisi bahan dilakukan oleh mikroorganisme di dalam bahan itu sendiri dengan bantuan udara. Sedangkan pengomposan secara anaerobik memanfaatkan mikroorganisme yang tidak membutuhkan udara dalam mendegradasi bahan organik.
Hasil akhir dari pengomposan ini merupakan bahan yang sangat dibutuhkan untuk kepentingan tanah-tanah pertanian di Indonesia, sebagai upaya untuk memperbaiki sifat kimia, fisika dan biologi tanah, sehingga produksi tanaman menjadi lebih tinggi. Kompos yang dihasilkan dari pengomposan sampah dapat digunakan untuk menguatkan struktur lahan kritis, menggemburkan kembali tanah pertanian, menggemburkan kembali tanah petamanan, sebagai bahan penutup sampah di TPA, eklamasi pantai pasca penambangan, dan sebagai media tanaman, serta mengurangi penggunaan pupuk berbahaya.
Bahan baku pengomposan adalah semua material organik yang mengandung karbon dan nitrogen, seperti kotoran hewan, sampah hijauan, sampah kota, lumpur cair dan limbah industri pertanian.
D. Langkah – Langkah Pembuatan Kompos
Cara pembuatan kompos dari sampah organik:
1. Sediakan lahan sekitar 1 x 1 m sebagai tempatnya.
2. Potong kecil-kecil sampah tersebut atau seresah tersebut agar mudah bakteri dalam mendegradasaikan sampah tersebut.
3. Lalu sisa sayuran, sisa makanan dan seresah ditumpuk di atas tanah  itu.
4. Seresah / potongan sampah itu disiram dengan starter (campuran air kencing kelinci dangan kotoran kambing). Lalu tumpuk lagi dengan seresah dan siram kembali dengan starter begitu seterusnya sehingga semua bahan habis.
5. Tutup  tumpukan sampah tersebut dengan terpal/plastik hitam sehingga tidak ada udara yang keluar masuk plastik/terpal.
6. Pada minggu pertama atau kedua diamkan kompos tersebut lalu dicek apa yang terjadi.Biasanya tumpukan kompos menjadi hangat karena proses pendegradasianya sedang terjadi.
7. Catat suhu yang terjadi didalamnya dengan menggunakan termometer
8. Bila Kompos kering maka basahi dengan starter yang dibuat kembali. Dan aduk kotoran tersebut hingga rata dan tutup kembali.
9. Setelah beberapa minggu dilakukan hal yang sama maka akan terjadi penyusutan kotoran.
Tanda-tanda pengomposan sudah selesai yaitu campuran menjadi hitam dan tidak bau.
10. Keringkan kompos dan saring dangan ayakan sehingga terbentuk kompos yang lembut.
Kompos tersebut dapat dimanfaatkan sebagai pupuk tanaman, media tanam di rumah sendiri atau jika dijual bisa menjadi sumber penghasilan tambahan.

E. Faktor yang mempengaruhi proses Pengomposan

Faktor-faktor yang memperngaruhi proses pengomposan antara lain:
Rasio C/N : Rasio C/N yang efektif untuk proses pengomposan berkisar antara 30: 1 hingga 40:1. Mikroba memecah senyawa C sebagai sumber energi dan menggunakan N untuk sintesis protein. Pada rasio C/N di antara 30 s/d 40 mikroba mendapatkan cukup C untuk energi dan N untuk sintesis protein. Apabila rasio C/N terlalu tinggi, mikroba akan kekurangan N untuk sintesis protein sehingga dekomposisi berjalan lambat.
Ukuran Partikel Aktivitas antara mikroba dengan bahan mempercepat proses degradasi. Ukuran partikel juga menentukan besarnya ruang antar bahan (porositas). Untuk meningkatkan luas permukaan dapat dilakukan dengan memperkecil ukuran partikel bahan tersebut.
Aerasi. Aerasi secara alami akan terjadi pada saat terjadi peningkatan suhu yang menyebabkan udara hangat keluar dan udara yang lebih dingin masuk ke dalam tumpukan kompos. Aerasi ditentukan oleh posiritas dan kandungan air bahan(kelembaban). Apabila aerasi terhambat, maka akan terjadi proses anaerob yang akan menghasilkan bau yang tidak sedap. Aerasi dapat ditingkatkan dengan melakukan pembalikan atau mengalirkan udara di dalam tumpukan kompos.
Porositas Porositas adalah ruang diantara partikel di dalam tumpukan kompos. Porositas dihitung dengan mengukur volume rongga dibagi dengan volume total. Rongga-rongga ini akan diisi oleh air dan udara. Udara akan mensuplay Oksigen untuk proses pengomposan. Apabila rongga dijenuhi oleh air, maka pasokan oksigen akan berkurang dan proses pengomposan juga akan terganggu.
Kelembaban (Moisture content) Kelembaban memegang peranan yang sangat penting dalam proses metabolisme mikroba dan secara tidak langsung berpengaruh pada suplay oksigen. Mikrooranisme dapat memanfaatkan bahan organik apabila bahan organik tersebut larut di dalam air. Kelembaban 40 - 60 % adalah kisaran optimum untuk metabolisme mikroba. Apabila kelembaban di bawah 40%, aktivitas mikroba akan mengalami penurunan dan akan lebih rendah lagi pada kelembaban 15%. Apabila kelembaban lebih besar dari 60%, hara akan tercuci, volume udara berkurang, akibatnya aktivitas mikroba akan menurun dan akan terjadi fermentasi anaerobik yang menimbulkan bau tidak sedap.
Temperatur/suhu Panas dihasilkan dari aktivitas mikroba. Ada hubungan langsung antara peningkatan suhu dengan konsumsi oksigen. Semakin tinggi temperatur akan semakin banyak konsumsi oksigen dan akan semakin cepat pula proses dekomposisi. Peningkatan suhu dapat terjadi dengan cepat pada tumpukan kompos. Temperatur yang berkisar antara 30 - 60oC menunjukkan aktivitas pengomposan yang cepat. Suhu yang lebih tinggi dari 60oC akan membunuh sebagian mikroba dan hanya mikroba thermofilik saja yang akan tetap bertahan hidup. Suhu yang tinggi juga akan membunuh mikroba-mikroba patogen tanaman dan benih-benih gulma.
pH Proses pengomposan dapat terjadi pada kisaran pH yang lebar. pH yang optimum untuk proses pengomposan berkisar antara 6.5 sampai 7.5. pH kotoran ternak umumnya berkisar antara 6.8 hingga 7.4. Proses pengomposan sendiri akan menyebabkan perubahan pada bahan organik dan pH bahan itu sendiri. Sebagai contoh, proses pelepasan asam, secara temporer atau lokal, akan menyebabkan penurunan pH (pengasaman), sedangkan produksi amonia dari senyawa-senyawa yang mengandung nitrogen akan meningkatkan pH pada fase-fase awal pengomposan. pH kompos yang sudah matang biasanya mendekati netral.
Proses Kimia
Proses Biologi

F. Mutu kompos

Kompos yang baik memiliki beberapa ciri sebagai berikut :
Þ    Berwarna coklat tua hingga hitam mirip dengan warna tanah,
Þ    Tidak larut dalam air, meski sebagian kompos dapat membentuk suspensi,
Þ    Nisbah C/N sebesar 10 – 20, tergantung dari bahan baku dan derajat humifikasinya,


G. Manfaat Kompos

Kompos memiliki banyak manfaat yang ditinjau dari beberapa aspek:
Aspek Ekonomi :
1.      Menghemat biaya untuk transportasi dan penimbunan limbah
2.      Mengurangi volume/ukuran limbah
3.      Memiliki nilai jual yang lebih tinggi dari pada bahan asalnya
Aspek Lingkungan :
1.      Mengurangi polusi udara karena pembakaran limbah
2.      Mengurangi kebutuhan lahan untuk penimbunan
Aspek bagi tanah/tanaman:
1.      Meningkatkan kesuburan tanah
2.      Memperbaiki struktur dan karakteristik tanah
3.      Meningkatkan kapasitas jerap air tanah
4.      Meningkatkan aktivitas mikroba tanah
5.      Meningkatkan kualitas hasil panen (rasa, nilai gizi, dan jumlah panen)
6.      Menyediakan hormon dan vitamin bagi tanaman
7.      Menekan pertumbuhan/serangan penyakit tanaman
8.      Meningkatkan retensi/ketersediaan hara di dalam tanah

   Selain bernilai positif, penggunaan kompos juga mempunyai
pengaruh yang negatif atau merugikan. Penggunaan kompos yang belum
matang akan menyebabkan dekomposisi pada kondisi anaerobik. Hal
tersebut akan menghasilkan senyawa fitotoksik dari asam-asam organik,
amoniak, nitrit-nitrogen, besi, dan mangan. Untuk mengatasi hal ini dapat
dilakukan dengan menggunakan kompos yang telah memenuhi standar
yang
telah ditentukan.
      Salah satu kriteria mutu kompos yang baik adalah nisbah C/N.
30:1) pada kompos yang belum matang
.Nisbah C/N yang tinggi (
menyebabkan dekomposisi yang lambat dan menghambat pertumbuhan
tanaman karena kekurangan nitrogen tersedia. Sedangkan nisbah C/N yang
15:1) menyebabkan nitrat-N yang dapat mengurangi mutu
<rendah (
tanaman pertanian atau perkolasi ke dalam suplai air. Rasio C/N kompos
yang matang menurut MSW sekitar 20. Mutu kompos tidak hanya ditentukan
oleh kematangan kompos tersebut dan kandungan haranya tetapi juga
ditentukan oleh kandungan polutan terutama logam berat dan bahan kimia
organik seperti pestisida. Penggunaan kompos yang tercemar oleh bahan-
bahan polutan dalam waktu yang lama akan menyebabkan terakumulasinya
bahan pencemar tersebut dalam tanah. Akumulasi bahan polutan tersebut
akan menyebabkan toksik bagi tanaman, atau juga diambil dan diserap oleh
tanaman lalu dikonsumsi oleh hewan atau manusia sehingga bersifat toksik
juga pada hewan atau manusia yang mengkosumsinya. Logam berat yang
merupakan polutan bagi tanaman, hewan dan kesehatan manusia antara
lain arsenik (As), boron (B), kadminium (Cd), kuprum (Cu), merkuri (Hg),
molibdenum (Mo), nikel (Ni), plumbum (Pb), selenium (Se), dan seng (Zn).
          Namun demikian banyak negara telah membuat standar untuk kandungan
logam berat ini kecuali untuk boron, molibdenum, dan selenium.
Beberapa bahan yang dapat dikomposkan dapat merupakan
masalah bagi kesehatan manusia. Kebanyakan sisa-sisa organik dari
manusia dan hewan mengandung berbagai macam mikroorganisme
patogenik. Namun demikian jika dalam proses pengomposan mengikuti
proses produksi yang aman untuk pengomposan, hal tersebut dapat
dicegah. Penggunaan suhu 55oC selama 2-3 hari pada waktu pengomposan
dapat mematikan mikroorganisme yang patogen tersebut.
Dalam pembuatan vermikompos, masalah yang sering timbul adalah
bau busuk disebabkan terlalu banyak hijauan di dalam kotak, terutama
terlalu banyak nitrogen yang bercampur dengan hidrogen dan membentuk
amoniak. Untuk menetralkan bau ini, dapat ditambahkan sejumlah bahan
karbon lalu dicampur. Karbon akan menyerap nitrogen dan membentuk
campuran yang tidak berbau. Kertas dan daun kering merupakan sumber
karbon yang bagus. Penambahan karbon terlalu banyak menyebabkan
proses dekomposisi lambat.







BAB IV

KESIMPULAN DAN SARAN
A. Kesimpulan
             Dari pembahasan dalam makalah  ini, kesimpulan penulis adalah sebagai berikut :
1.      Dengan pembuatan kompos dapat membantu mengurangi limbah yang tidak terpakai yakni dengan cara mendaur ulang sisa-sisa kotoran yang tidak terpakai.
2.      Pembuatan kompos dapat membantu proses penggemburan tanah.

B. Saran
            Berdasarkan pembahasan tersebut saran penulis adalah sebagai berikut :
1.      Sebagai penerus bangsa, seorang pelajar sebaiknya mampu memanfaatkan sampah organik untuk menghasilkan barang ekonomis.
2.      Perlunya publikasi untuk mencanangkan pentingnya pengolahan sampah.







DAFTAR PUSTAKA

Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. 1988. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka
http://www.dephut.go.id
http://www.bppt.go.id                  
http://uplink.or.id
http://lingkunganku.multiply.com
http://matoa.org
http://www.kimia-lipi.net
http://id.wikipedia.org
http :// adesahy.blogspot.com
















Bahan organik merupakan bahan-bahan yang dapat diperbaharui, didaur ulang, dirombak oleh bakteri-bakteri tanah menjadi unsur yang dapat digunakan oleh tanaman tanpa mencemari tanah dan air. Bahan organik tanah merupakan penimbunan dari sisa-sisa tanaman dan binatang yang sebagian telah mengalami pelapukan dan pembentukan kembali. Bahan organik demikian berada dalam pelapukan aktif dan menjadi mangsa serangan jasad mikro. Sebagai akibatnya bahan tersebut berubah terus dan tidak mantap sehingga harus selalu diperbaharui melalui penambahan sisa-sisa tanaman atau binatang.
Sumber Bahan Organik
Sumber primer bahan organik adalah jaringan tanaman berupa akar, batang, ranting, daun, dan buah. Bahan organik dihasilkan oleh tumbuhan melalui proses fotosintesis sehingga unsur karbonmerupakan penyusun utama dari bahan organik tersebut. Unsur karbon ini berada dalam bentuk senyawa-senyawa polisakarida, seperti selulosa, hemiselulosa, pati, dan bahan- bahan pektin danlignin. Selain itu nitrogen merupakan unsur yang paling banyak terakumulasi dalam bahan organik karena merupakan unsur yang penting dalam sel mikroba yang terlibat dalam proses perombakan bahan organik tanah. Jaringan tanaman ini akan mengalami dekomposisi dan akan terangkut ke lapisan bawah serta diinkorporasikan dengan tanah. Tumbuhan tidak saja sumber bahan organik, tetapi sumber bahan organik dari seluruh makhluk hidup.
Sumber sekunder bahan organik adalah fauna. Fauna terlebih dahulu harus menggunakan bahan organik tanaman setelah itu barulah menyumbangkan pula bahan organik. Bahan organik tanah selain dapat berasal dari jaringan asli juga dapat berasal dari bagian batuan.
Perbedaan sumber bahan organik tanah tersebut akan memberikan perbedaan pengaruh yang disumbangkannya ke dalam tanah. Hal itu berkaitan erat dengan komposisi atau susunan dari bahan organik tersebut. Kandungan bahan organik dalam setiap jenis tanah tidak sama. Hal ini tergantung dari beberapa hal yaitu; tipe vegetasi yang ada di daerah tersebut, populasi mikroba tanah, keadaan drainase tanah, curah hujan, suhu, dan pengelolaan tanah. Komposisi atau susunan jaringan tumbuhan akan jauh berbeda dengan jaringan binatang. Pada umumnya jaringan binatang akan lebih cepat hancur daripada jaringan tumbuhan. Jaringan tumbuhan sebagian besar tersusun dari air yang beragam dari 60-90% dan rata-rata sekitar 75%. Bagian padatan sekitar 25% dari hidrat arang 60%, protein 10%, lignin 10-30% dan lemak 1-8%. Ditinjau dari susunan unsur karbonmerupakan bagian yang terbesar (44%) disusul oleh oksigen (40%), hidrogen dan abu masing-masing sekitar 8%. Susunan abu itu sendiri terdiri dari seluruh unsur hara yang diserap dan diperlukan tanaman kecuali C, H dan O.
Humus
Humus merupakan salah satu bentuk bahan organik. Jaringan asli berupa tubuh tumbuhan atau fauna baru yang belum lapuk terus menerus mengalami serangan-serangan jasad mikro yang menggunakannya sebagai sumber energinya dan bahan bangunan tubuhnya. Hasil pelapukan bahan asli yang dilakukan oleh jasad mikro disebut humus.Humus biasanya berwarna gelap dan dijumpai terutama pada lapisan tanah atas. Definisi humus yaitu fraksi bahan organik tanah yang kurang lebih stabil, sisa dari sebagian besar residu tanaman serta binatang yang telah terdekomposisikan.
Humus merupakan bentuk bahan organik yang lebih stabil, dalam bentuk inilah bahan organik banyak terakumulasi dalam tanah. Humus memiliki kontribusi terbesar terhadap durabilitas dan kesuburan tanah. Humuslah yang aktif dan bersifat menyerupai liat, yaitu bermuatan negatif. Tetapi tidak seperti liat yang kebanyakan kristalin, humus selalu amorf (tidak beraturan bentuknya).
Humus merupakan senyawa rumit yang agak tahan lapuk (resisten), berwarna coklat, amorf, bersifat koloidal dan berasal dari jaringan tumbuhan atau hewan yang telah diubah atau dibentuk oleh berbagai jasad mikro. Humus tidaklah resisten sama sekali terhadap kerja bakteri. Mereka tidak stabil terutama apabial terjadi perubahan regim suhu, kelembapan dan aerasi.Adanya humuspada tanah sangat membantu mengurangi pengaruh buruk liat terhadap struktur tanah, dalam hal ini humus merangsang granulasi agregat tanah. Kemampuan humus menahan air dan ion hara melebihi kemampuan liat. Tinggi daya menahan (menyimpan) unsur hara adalah akibat tingginya kapasitas tukar kation dari humus, karena humus mempunyai beberapa gugus yang aktif terutama gugus karboksil. Dengan sifat demikian keberadaan humus dalam tanah akan membantu meningkatkan produktivitas tanah.
Sifat dan Ciri Humus
• Bersifat koloidal seperti liat tetapi amorfous.
• Luas permukaan dan daya jerap jauh melebihi liat.
• Kapasitas tukar kation 150-300 me/100 g, liat hanya 8-100 me/100 g.
• Daya jerap air 80-90% dari bobotnya, liat hanya 15-20%.
• Daya kohesi dan plastisitasnya rendah sehingga mengurangi sifat lekat dari liat dan membantu granulasi agregat tanah.
• Misel humus tersusun dari lignin, poliuronida, dan protein liat yang didampingi oleh C, H, O, N, S, P dan unsur lainnya.
• Muatan negatif berasal dari gugus -COOH dan -OH yang tersembul di pinggiran dimana ion H dapat digantikan oleh kation lain.
• Mempunyai kemampuan meningkatkan unsur hara tersedia seperti Ca, Mg, dan K.
1. Merupakan sumber energi jasad mikro.
2. Memberikan warna gelap pada tanah.
Faktor yang Mempengaruhi Bahan Organik Tanah
Diantara sekian banyak faktor yang mempengaruhi kadar bahan organik dan nitrogen tanah, faktoryang penting adalah kedalaman tanah, iklim, tekstur tanah dan drainase.
Kedalaman lapisan menentukan kadar bahan organik dan N. Kadar bahan organik terbanyak ditemukan di lapisan atas setebal 20 cm (15-20%). Semakin ke bawah kadar bahan organik semakin berkurang. Hal itu disebabkan akumulasi bahan organik memang terkonsentrasi di lapisan atas.
Faktor iklim yang berpengaruh adalah suhu dan curah hujan. Makin ke daerah dingin, kadar bahan organik dan N makin tinggi. Pada kondisi yang sama kadar bahan organik dan N bertambah 2 hingga 3 kali tiap suhu tahunan rata-rata turun 100C. bila kelembaban efektif meningkat, kadar bahan organik dan N juga bertambah. Hal itu menunjukkan suatu hambatan kegiatan organisme tanah.
Tekstur tanah juga cukup berperan, makin tinggi jumlah liat maka makin tinggi kadar bahan organik dan N tanah, bila kondisi lainnya sama. Tanah berpasir memungkinkan oksidasi yang baik sehingga bahan organik cepat habis.
Pada tanah dengan drainase buruk, dimana air berlebih, oksidasi terhambat karena kondisi aerasi yang buruk. Hal ini menyebabkan kadar bahan organik dan N tinggi daripada tanah berdrainase baik. Disamping itu vegetasi penutup tanah dan adanya kapur dalam tanah juga mempengaruhi kadar bahan organik tanah. Vegetasi hutan akan berbeda dengan padang rumput dan tanah pertanian. Faktor-faktor ini saling berkaitan, sehingga sukar menilainya sendiri (Hakim et al, 1986).
Peranan Bahan Organik Bagi Tanah
Bahan organik berperan penting untuk menciptakan kesuburan tanah. Peranan bahan organik bagi tanah adalah dalam kaitannya dengan perubahan sifat-sifat tanah, yaitu sifat fisik, biologis, dan sifat kimia tanah. Bahan organik merupakan pembentuk granulasi dalam tanah dan sangat penting dalam pembentukan agregat tanah yang stabil. Bahan organik adalah bahan pemantap agregat tanah yang tiada taranya. Melalui penambahan bahan organik, tanah yang tadinya berat menjadi berstruktur remah yang relatif lebih ringan. Pergerakan air secara vertikal atau infiltrasi dapat diperbaiki dan tanah dapat menyerap air lebih cepat sehingga aliran permukaan dan erosi diperkecil. Demikian pula dengan aerasi tanah yang menjadi lebih baik karena ruang pori tanah (porositas) bertambah akibat terbentuknya agregat.
Bahan organik umumnya ditemukan dipermukaan tanah. Jumlahnya tidak besar, hanya sekitar 3-5% tetapi pengaruhnya terhadap sifat-sifat tanah besar sekali. Sekitar setengah dari kapasitas tukar kation berasal dari bahan organik. Ia merupakan sumber hara tanaman. Disamping itu bahan organik adalah sumber energi bagi sebagian besar organisme tanah. Dalam memainkan peranan tersebut bahan organik sangat ditentukan oleh sumber dan susunannya, oleh karena kelancaran dekomposisinya, serta hasil dari dekomposisi itu sendiri.
Pengaruh Bahan Organik pada Sifat Fisika Tanah
• Meningkatkan kemampuan tanah menahan air. Hal ini dapat dikaitkan dengan sifat polaritas air yang bermuatan negatif dan positif yang selanjutnya berkaitan dengan partikel tanah dan bahan organik. Air tanah mempengaruhi mikroorganisme tanah dan tanaman di atasnya. Kadar air optimal bagi tanaman dan mikroorganisme adalah 0,5 bar/ atmosfer.
• Warna tanah menjadi coklat hingga hitam. Hal ini meningkatkan penyerapan energi radiasi matahari yang kemudian mempengaruhi suhu tanah.
• Merangsang granulasi agregat dan memantapkannya
• Menurunkan plastisitas, kohesi dan sifat buruk lainnya dari liat.
Salah satu peran bahan organik yaitu sebagai granulator, yaitu memperbaiki struktur tanah. Menurut Arsyad (1989) peranan bahan organik dalam pembentukan agregat yang stabil terjadi karena mudahnya tanah membentuk kompleks dengan bahan organik. Hai ini berlangsung melalui mekanisme:
• Penambahan bahan organik dapat meningkatkan populasi mikroorganisme tanah, diantaranya jamur dan cendawan, karena bahan organik digunakan oleh mikroorganisme tanah sebagai penyusun tubuh dan sumber energinya. Miselia atau hifa cendawan tersebut mampu menyatukan butir tanah menjadi agregat, sedangkan bakteri berfungsi seperti semen yang menyatukan agregat.
• Peningkatan secara fisik butir-butir prima oleh miselia jamur dan aktinomisetes. Dengan cara ini pembentukan struktur tanpa adanya fraksi liat dapat terjadi dalam tanah.
• Peningkatan secara kimia butir-butir liat melalui ikatan bagian-bagian pada senyawa organik yang berbentuk rantai panjang.
• Peningkatan secara kimia butir-butir liat melalui ikatan antar bagian negatif liat dengan bagian negatif (karbosil) dari senyawa organik dengan perantara basa dan ikatan hidrogen.
• Peningkatan secara kimia butir-butir liat melalui ikatan antara bagian negatif liat dan bagian positf dari senyawa organik berbentuk rantai polimer.
Pengaruh Bahan Organik pada Sifat Kimia Tanah
Meningkatkan daya jerap dan kapasitas tukar kation (KTK). Sekitar setengah dari kapasitas tukar kation (KTK) tanah berasal dari bahan organik. Bahan organik dapat meningkatkan kapasitas tukar kation dua sampai tiga puluh kali lebih besar daripada koloid mineral yang meliputi 30 sampai 90% dari tenaga jerap suatu tanah mineral. Peningkatan KTK akibat penambahan bahan organik dikarenakan pelapukan bahan organik akan menghasilkan humus (koloid organik) yang mempunyai permukaan dapat menahan unsur hara dan air sehingga dapat dikatakan bahwa pemberian bahan organik dapat menyimpan pupuk dan air yang diberikan di dalam tanah. Peningkatan KTK menambah kemampuan tanah untuk menahan unsur- unsur hara.
Unsur N,P,S diikat dalam bentuk organik atau dalam tubuh mikroorganisme, sehingga terhindar dari pencucian, kemudian tersedia kembali. Berbeda dengan pupuk komersil dimana biasanya ditambahkan dalam jumlah yang banyak karena sangat larut air sehingga pada periode hujan terjadi kehilangan yang sangat tinggi, nutrien yang tersimpan dalam residu organik tidak larut dalam air sehingga dilepaskan oleh proses mikrobiologis. Kehilangan karena pencucian tidak seserius seperti yang terjadi pada pupuk komersil. Sebagai hasilnya kandungan nitrogen tersedia stabil pada level intermediet dan mengurangi bahaya kekurangan dan kelebihan. Bahan organik berperan sebagai penambah hara N, P, K bagi tanaman dari hasil mineralisasi oleh mikroorganisme. Mineralisasi merupakan lawan kata dari immobilisasi. Mineralisasi merupakan transformasi oleh mikroorganisme dari sebuah unsur pada bahan organik menjadi anorganik, seperti nitrogen pada protein menjadi amonium atau nitrit. Melalui mineralisasi, unsur hara menjadi tersedia bagi tanaman.
Meningkatkan kation yang mudah dipertukarkan dan pelarutan sejumlah unsur hara dari mineral oleh asam humus. Bahan organik dapat menjaga keberlangsungan suplai dan ketersediaan hara dengan adanya kation yang mudah dipertukarkan. Nitrogen, fosfor dan belerang diikat dalam bentuk organik dan asam humus hasil dekomposisi bahan organik akan mengekstraksi unsur hara dari batuan mineral. Mempengaruhi kemasaman atau pH. Penambahan bahan organik dapat meningkatkan atau malah menurunkan pH tanah, hal ini bergantung pada jenis tanah dan bahan organik yang ditambahkan. Penurunan pH tanah akibat penambahan bahan organik dapat terjadi karena dekomposisi bahan organik yang banyak menghasilkan asam-asam dominan. Sedangkan kenaikan pH akibat penambahan bahan organik yang terjadi pada tanah masam dimana kandungan aluminium tanah tinggi , terjadi karena bahan organik mengikat Al sebagai senyawa kompleks sehingga tidak terhidrolisis lagi .
Peranan bahan organik terhadap perbaikan sifat kimia tanah tidak terlepas dalam kaitannya dengan dekomposisi bahan organik, karena pada proses ini terjadi perubahan terhadap komposisi kimia bahan organik dari senyawa yang kompleks menjadi senyawa yang lebih sederhana. Proses yang terjadi dalam dekomposisi yaitu perombakan sisa tanaman atau hewan oleh miroorganisme tanah atau enzim-enzim lainnya, peningkatan biomassa organisme, dan akumulasi serta pelepasan akhir. Akumulasi residu tanaman dan hewan sebagai bahan organik dalam tanah antara lain terdiri dari karbohidrat, lignin, tanin, lemak, minyak, lilin, resin, senyawa N, pigmen dan mineral, sehingga hal ini dapat menambahkan unsur-unsur hara dalam tanah.
Pengaruh Bahan Organik pada Sifat Biologi Tanah
Jumlah dan aktivitas metabolik organisme tanah meningkat. Secara umum, pemberian bahan organik dapat meningkatkan pertumbuhan dan aktivitas mikroorganisme. Bahan organik merupakan sumber energi dan bahan makanan bagi mikroorganisme yang hidup di dalam tanah. Mikroorganisme tanah saling berinteraksi dengan kebutuhannya akan bahan organik karena bahan organik menyediakan karbon sebagai sumber energi untuk tumbuh.
Kegiatan jasad mikro dalam membantu dekomposisi bahan organik meningkat. Bahan organik segar yang ditambahkan ke dalam tanah akan dicerna oleh berbagai jasad renik yang ada dalam tanah dan selanjutnya didekomposisisi jika faktor lingkungan mendukung terjadinya proses tersebut. Dekomposisi berarti perombakan yang dilakukan oleh sejumlah mikroorganisme (unsur biologi dalam tanah) dari senyawa kompleks menjadi senyawa sederhana. Hasil dekomposisi berupa senyawa lebih stabil yang disebut humus. Makin banyak bahan organik maka makin banyak pula populasi jasad mikro dalam tanah.
Peranan Bahan Organik Bagi Tanaman
Bahan organik memainkan beberapa peranan penting di tanah. Sebab bahan organik berasal dari tanaman yang tertinggal, berisi unsur-unsur hara yang dibutuhkan untuk pertumbuhan tanaman. Bahan organik mempengaruhi struktur tanah dan cenderung untuk menjaga menaikkan kondisi fisik yang diinginkan. Peranan bahan organik ada yang bersifat langsung terhadap tanaman, tetapi sebagian besar mempengaruhi tanaman melalui perubahan sifat dan ciri tanah.
Pengaruh Langsung Bahan Organik pada Tanaman
Melalui penelitian ditemukan bahwa beberapa zat tumbuh dan vitamin dapat diserap langsung dari bahan organik dan dapat merangsang pertumbuhan tanaman. Dulu dianggap orang bahwa hanya asam amino, alanin, dan glisin yang diserap tanaman. Serapan senyawa N tersebut ternyata relatif rendah daripada bentuk N lainnya. Tidak dapat disangkal lagi bahwa bahan organik mengandung sejumlah zat tumbuh dan vitamin serta pada waktu-waktu tertentu dapat merangsang pertumbuhan tanaman dan jasad mikro.
Bahan organik ini merupakan sumber nutrien inorganik bagi tanaman. Jadi tingkat pertumbuhan tanaman untuk periode yang lama sebanding dengan suplai nutrien organik dan inorganik. Hal ini mengindikasikan bahwa peranan langsung utama bahan organik adalah untuk menyuplai nutrien bagi tanaman. Penambahan bahan organik kedalam tanah akan menambahkan unsur hara baik makro maupun mikro yang dibutuhkan oleh tumbuhan, sehingga pemupukan dengan pupuk anorganik yang biasa dilakukan oleh para petani dapat dikurangi kuantitasnya karena tumbuhan sudah mendapatkan unsur-unsur hara dari bahan organik yang ditambahkan kedalam tanah tersebut. Efisiensi nutrisi tanaman meningkat apabila pememukaan tanah dilindungi dengan bahan organik.
Pengaruh Tidak Langsung Bahan Organik pada Tanaman
Sumbangan bahan organik terhadap pertumbuhan tanaman merupakan pengaruhnya terhadap sifat-sifat fisik, kimia dan biologis dari tanah. Bahan organik tanah mempengaruhi sebagian besar proses fisika, biologi dan kimia dalam tanah. Bahan organik memiliki peranan kimia di dalam menyediakan N, P dan S untuk tanaman peranan biologis di dalam mempengaruhi aktifitas organisme mikroflora dan mikrofauna, serta peranan fisik di dalam memperbaiki struktur tanah dan lainnya.
Hal ini akan mempengaruhi pertumbuhan tanaman yang tumbuh di tanah tersebut. Besarnya pengaruh ini bervariasi tergantung perubahan pada setiap faktor utama lingkungan. Sehubungan dengan hasil-hasil dekomposisi bahan organik dan sifat-sifat humus maka dapat dikatakan bahwa bahan organik akan sangat mempengaruhi sifat dan ciri tanah. Peranan tidak langsung bahan organik bagi tanaman meliputi :
• Meningkatkan ketersediaan air bagi tanaman. Bahan organik dapat meningkatkan kemampuan tanah menahan air karena bahan organik, terutama yang telah menjadi humus dengan ratio C/N 20 dan kadar C 57% dapat menyerap air 2-4 kali lipat dari bobotnya. Karena kandungan air tersebut, maka bahan organik terutama yang sudah menjadi humus dapat menjadi penyangga bagi ketersediaan air.
• Membentuk kompleks dengan unsur mikro sehingga melindungi unsur-unsur tersebut dari pencucian. Unsur N,P,S diikat dalam bentuk organik atau dalam tubuh mikroorganisme, sehingga terhindar dari pencucian, kemudian tersedia kembali.
• Meningkatkan kapasitas tukar kation tanah Peningkatan KTK menambah kemampuan tanah untuk menahan unsur- unsur hara.
• Memperbaiki struktur tanah Tanah yang mengandung bahan organik berstruktur gembur, dan apabila dicampurkan dengan bahan mineral akan memberikan struktur remah dan mudah untuk dilakukan pengolahan. Struktur tanah yang demikian merupakan sifat fisik tanah yang baik untuk media pertumbuhan tanaman. Tanah yang bertekstur liat, pasir, atau gumpal akan memberikan sifat fisik yang lebih baik bila tercampur dengan bahan organik.
• Mengurangi erosi
• Memperbaiki agregasi tanah. Bahan organik merupakan pembentuk granulasi dalam tanah dan sangat penting dalam pembentukan agregat tanah yang stabil. Bahan organik adalah bahan pemantap agregat tanah yang tiada taranya. Melalui penambahan bahan organik, tanah yang tadinya berat menjadi berstruktur remah yang relatif lebih ringan. Pergerakan air secara vertikal atau infiltrasi dapat diperbaiki dan tanah dapat menyerap air lebih cepat sehingga aliran permukaan dan erosi diperkecil. Demikian pula dengan aerasi tanah yang menjadi lebih baik karena ruang pori tanah (porositas) bertambah akibat terbentuknya agregat.
• Menstabilkan temperatur. Bahan organik dapat menyerap panas tinggi dan dapat juga menjadi isolator panas karena mempunyai daya hantar panas yang rendah, sehingga temperatur optimum yang dibutuhkan oleh tumbuhan untuk pertumbuhannya dapat terpenuhi dengan baik.
• Meningkatkan efisiensi pemupukan
Secara umum, pemberian bahan organik dapat meningkatkan pertumbuhan dan produksi tanaman. Demikian pula dengan peranannya dalam menanggulangi erosi dan produktivitas lahan. Penambahan bahan organik akan lebih baik jika diiringi dengan pola penanaman yang sesuai, misalnya dengan pola tanaman sela pada sistem tumpangsari. Pengelolaan tanah atau lahan yang sesuai akan mendukung terciptanya suatu konservasi bagi tanah dan air serta memberikan keuntungan tersendiri bagi manusia.
Sumber : Lesman


TUGAS
MAKALAH
KIMIA ORGANIK




DISUSUN OLEH
                                          Nama       :   AINY HELYANA  
                                          NIM        :   06.58129.02402.08
                                          Jurusan    :   BIOLOGI                   













FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS MULAWARMAN
SAMARINDA
2006 / 2007


I.  ETER
Eter dipandang sebagai turunan dari alkana, dimana sebuah atom H diganti dengan gugus O – R ( Gugus Alkoksi )
A.   

R – O – R
 


atau
 


Cn H2n + 1 – O – Cm H2m + 1
 
RUMUS UMUM
                                                   


H – O - H
 


R – O - H
 


R – O – R
 
Bandingkan dengan :


air
 

alkohol
 

eter
 



B.     PENAMAAN
Karena dipandang sebagai turunan alkana sehingga penamaannya adalah sebagai berikut :
    1. Sebutkan nomor dari tempat terikatnya gugus alkoksi.
    2. Sebutkan nama gugus alkoksinya
    3. Sebutkan nama alkana sebagai rantai utama.

Contoh beberapa gugus alkoksi :
*      CH3 – O –
*      CH3 – CH3 – O –
*      CH3 – O – CH3
*      CH3 – O – CH2 – CH3
*      CH3 – O – CH2 – CH2 – CH3
*      CH3 – O – CH – CH3

CH3
 



Catatan :
a.   Jika R = R atau n = m, maka disebut eter tunggal.
      Jika R ¹ R atau n ¹ m, maka disebut eter majemuk.
b.      Eter merupakan isomer gugus fungsi dengan alkohol.
Contoh :
CH3 – CH2 – O – CH2 – CH2 – CH3                       CH3 – CH2 CH2 CH2 CH2 – OH
1 – etoksi propana                                   1 – pentanal
C.    SIFAT – SIFAT ETER
-      Suku pertama dan kedua ( metoksi merana & etorsi etana ) pada suhu kamar berupa gas. Sedangkan suhu lainnya berupa cairan eter yang dimulai dengan ( C17 H35 )2 O berupa padatan.
-      Berbau sedap dan sukar larut dalam air.
-      Sangat mudah terbakar.
-      Titik didihnya lebih rendah dibandingkan dengan alkohol dengan jumlah atom C yang sama. Hal ini disebabkan pada eter tidak ada ikatan hidrogen, sedangkan pada alkohol pada ikatan hidrogen ( - OH ).
-      Tidak dapat bereaksi dengan logam Na dan PCl2 serta PCl5 (dalam suasana dingin). Sifat ini juga yang membedakan antara eter dengan alkohol.

D.    REAKSI ETER DENGAN ZAT LAIN
*    Dengan HI
1.   Dalam temperatur biasa
        Cn H2n + 1 – O – Cm H2m + 1 + HI → Cn H2n + 1 I + Cm H2m + 1 OH
      Contoh :
      CH3 – CH2 – O – CH2 – CH3 + HI → 2CH3 – CH2 I + H2O
     
2.      Dalam suasana panas ( dipanaskan )
Contoh :
CH3 – CH2 – O – CH2 – CH3 + HI → 2CH3 – CH2 I + H2O

E.     PEMBUATAN ETER
1.      Sintesa Williamson
Na – alkanoat + alkil halogen → eter + Na – halogen.
CH3 – CH2 – O – Na + CH2 – CH3 CH3 – CH2 – O – CH2 – CH3 + H2O
                                                    CH3 + Nax
2.      Dehidrasi alkohol dengan H2SO4 pekat pada temperatur 1300 C
2CH3 – CH2 – OH + H2SO4 CH3 CH2 – O CH2 CH3 + H2O
3.      R – x dengan Ag2O → CHCH2 – O – CH2 - CH3 + 2 AgCl ↓
F.     SUKU TERPENTING DARI ETER
*    Etoksi Etana ( CH − CH − O − CH2 − CH ) atau biasa disebut dietil eter atau hanya eter saja.

Sifat – sifatnya :
-          Sebagai obat pembius ( anastetis dalam pembedahan )
-          Digunakan sebagai pelarut cat, lemak, damar. Biasa digunakan dalam industri.
-          Eter merupakan zar cair yang mudah menguap dan mudah terbakar. Campuran uap eter dengan udara mudah meledak.
-          Eter sangat sedikit larut dalam air.
-          Eter dibuat dari alkohol dengan H2SO4 (proses dehidrasi).

G.    RESUME
Alkosi Alkana (Eter)













Keterangan :
1.      + asam sulfat pekat dan dipanaskan.
2.      + natrium alkanokit.
3.      + HI pada temperatur rendah.
4.      + HI dipanaskan.
5.      + asam sulfat pekat.
6.      + aqua pada temperatur rendah.
7.      + aqua dipanaskan.
8.      + logam natrium.
9.      + fosfor Halogen
      :   Dialkil oksonium hidrosulfat.
      Senyawa – senyawa ini dinamai dengan dua metode berbeda.
1.      Molekul sederhana : Daftarlah gugus alkol menurut bertambah besarnya ukuran & tambahkan kata eter.
2.      Molekul yang lebih rumit :  Gunakan metode alkiloksialkana, gugus yang lebih kecil mendapat akhiran –oksi, seperti gambar :


Untuk mengakses dan mendownload tugas kuliah ini selengkapnya anda harus berstatus Paid Member


0 Responses So Far:

 
Prapatan SPS Copyright © 2010 Prozine Theme is Designed by Lasantha Home | RSS Feed | Comment RSS