Welcome to the Jungle

PRAPATAN SPS
Catatan Berkeliling Nusantara

FENOL KOEFISIEN 0

Adhy Ws | Kamis, November 03, 2011 |



I.                   TUJUAN
Uji koefisien fenol bertujuan untuk membandingkan aktivitas anti mikroba dari
komponen-komponen kimia dengan fenol sebagai standar uji.
II.                TINJAUAN PUSTAKA
Mikroorganisme ada yang memberikan keuntungan untuk manusia. Tetapi tidak sedikit
juga yang dapat menyebabkan bahaya dan kerusakan. Oleh karena itu mikroorganisme tersebut harus dapat dikendalikan agar sifat merusak tersebut dapat dijadikan keuntungan bagi manusia. Alasan utama untuk mengendalikan mikroorganisme diantaranya untuk mencegah penyebaran penyakit dan infeksi, membasmi mikroorganisme pada inang yang terinfeksi, mencegah pembusukan dan perusakan bahan oleh mikroorganisme.
Mikroorganisme dapat disingkirkan, dihambat atau dibunuh dengan sarana proses fisik atau bahan kimia. Tersedia berbagai teknik dan sarana yang bekerja menurut berbagai cara yang berbeda-beda dan masing-masing mempunyai keterbatasan sendiri-sendiri dalam penerapan praktisnya. Suatu sarana fisik dapat diartikan sebagai keadaan atau sifat fisik yang menyebabkan suatu perubahan. Beberapa contoh sarana fisik adalah suhu, tekanan, radiasi, dan penyaringan. Suatu proses fisik adalah suatu prosedur yang mengakibatkan perubahan misalnya sterilisasi, pembakaran, dan sanitasi. Suatu bahan kimia adalah suatu substansi (padat, cair, atau gas) yang dicirikan oleh komposisi molekular yang pasti dan menyebabkan terjadinya reaksi; contohnya adalah senyawa-senyawa fenolik, alkohol, klor, iodium, dan etilen oksida. Banyak sifat-sifat khas hayati mempengaruhi kecepatan mikroorganisme terbunuh atau didisinfeksikan oleh berbagai pemusnah hama. Faktor-faktor yang mempengaruhi keefektifan bahan antimikroba diantaranya :
                  Lingkungan
Sifat-sifat fisika atau kimia medium atau bahan yang mengandung mikroorganisme, yaitu lingkungan, mempunyai pengaruh yang sangat nyata pada kecepatan maupun keefektifan penghancuran mikroba. Seperti, adanya bahan organik asing dapat menurunkan dengan nyata keefektifan zat kimia antimikrobial dengan cara menginaktifkan bahan-bahan tersebut atau melindungi mikroorgnisme daripadanya. Sebagai contoh, adanya bahan organik di dalam campuran disinfektan mikroorganisme dapat mengakibatkan
-          Penggabungan disinfektan dengan bahan organik membentuk produk yang tidak bersifat mikrobisidal
-          Penggabungan disinfektan dengan bahan organik menghasilkan suatu endapan sehingga disinfektan tidak mungkin lagi mengikat mikroorganisme
-          Akumulasi bahan organik pada permukaan sel mikroba, menjadi suatu pelindung yang akan mengganggu kontak antara disinfektan dengan sel.
Suatu peningkatan suhu bila digunakan dengan bahan lain, seperti suatu bahan kimia,
mempercepat penghancuran mikroorganisme.
Macam organisme
      Spesies mikroorganisme berbeda dalam kepekaannya terhadap alat fisika dan bahan kimia.
Spora bakteri adalah yang paling resisten diantara semua organisme hidup dalam hal kemampuan untuk bertahan hidup pada keadaan fisik dan kimiawi kurang baik.
Keadaan faal sel
      Keadaan faal sel dapat mempengaruhi kepekaanya terhadap suatu bahan antimikroba. Sel yang masih muda, masih giat melakukan metabolisme, lebih mudah dihancurkan dibandingkan sel-sel yang sudah tua.
Bahan kimia menimbulkan pengaruh yang lebih selektif terhadap jasad renik dibandingkan dengan perlakuan fisik. Dalam memilih bahan kimia sebagai desinfektan atau antiseptik perlu diperhatikan hal-hal sebagai berikut (Fardiaz, 1989):
1.      Sifat mikrobisidal (membunuh jasad renik)
Spora pada umumnya lebih tahan daripada bentuk vegetatif dan hanya beberapa desinfektan seperti halogen, merkuri khlorida, formalin, dan etilen oksida yang efektif terhadap spora. Komponen kimia yang bersifat membunuh jasad renik disebut sifat bakterisidal (membunuh bakteri) atau fungisidal ( membunuh fungi). Sedangkan menurut Pelczar (1986), suatu bahan yang mematikan sel-sel vegetatif tetapi tidak selalu mematikan bentuk-bentuk spora yang resisten kuman disebut germisida (mikrobisida). Di dalam prakteknya, germisida hampir sama dengan disinfektan, tetapi germisida pada umumnya digunakan terhadap semua jenis kuman untuk penerapan yang mana saja.
2.      Sifat mikrostatik (menghambat pertumbuhan jasad renik)
Beberapa komponen kimia pada konsentrasi rendah tidak dapat membunuh jasad renik, tetapi hanya menghambat pertumbuhannya, misalnya senyawa tertentu yang terdapat pada rempah-rempah. Komponen tersebut disebut mempunyai sifat bakteriostatik (menghambat pertumbuhan bakteri) atau fungistatik (menghambat pertumbuhan fungi). Menurut Pelczar (1986), Suatu keadaan yang menghambat pertumbuhan bakteri disebut bakteriostasis (kata sifat, bakteriostatik). Bahan-bahan yang mempunyai persamaan dalam kemampuan menghambat pertumbuhan mikroorganisme secara kolektif dinamakan mikrobistatik.
Komponen kimia yang bersifat membunuh lebih baik daripada yang hanya bersifat menghambat.
Sebagai istilah umum, bahan antimikrobial diartikan sebagai bahan yang mengganggu
pertumbuhan dan metabolisme mikroba. Dalam penggunaan umum, istilah ini menyatakan penghambatan pertumbuhan dan bila dimaksudkan untuk kelompok-kelompok yang khusus, maka seringkali digunakan istilah-istilah seperti antibakterial atau antifungal. Beberapa bahan antimikrobial digunakan secara khusus untuk mengobati infeksi disebut bahan terapeutik (Pelczar). Suatu bahan, biasanya zat kimia yang mematikan sel vegetatif tetapi belum tentu mematikan bentuk-bentuk spora mikroorganisme penyebab penyakit, disebut disinfektan. Istilah ini pada umumnya dipakai untuk substansi yang digunakan terhadap benda mati. Disinfeksi adalah proses yang menghancurkan sel-sel vegetatif penyebab infeksi namun tidak selalu mematikan sporanya (Pelczar). Desinfektan dapat dikelompokan atas delapan grup sebagai berikut (Fardiaz, 1989):
1.      Grup alkohol larut
Contoh                        : etanol, isopropil alkohol
Cara kerja        : koagulasi protein dan melarutkan membran
Konsentrasi     : 70-90%
Keuntungan    : bakterisidal cepat, tuberkulosidal
Kelemahan      : tidak membunuh spora, menyebabkan korosi metal kecuali jika  
  ditambahkan komponen reduksi (2% Na-nitrit), mengeringkan kulit.
2.      Grup gas sterilisasi
Contoh                        : etilen oksida
Cara kerja        : substitusi grup alkil di dalam sel dengan atom hidrogen yang labil
Waktu reaksi   : 4 – 18 jam
Keuntungan    : tidak berbahaya untuk kebanyakan bahan, mensterilkan bahan, digunakn
                           untuk bahan yang tidak tahan panas
Kelemahan      : membutuhkan peralatan khusus
3.      Gurp gas desinfetan
Contoh                        : formaldehid
Cara kerja        : seperti etilen oksida
Konsentrasi     : larutan jenuh atau dalam bentuk gas
Keuntungan    : membunuh spora, tidak korosif, digunakan untuk bahan yang tidak tahan
                          panas
Kelemahan      : membutuhkan waktu relatif lama sebagai desinfektan, menimbulkan bau,
                           beracun pada kulit dan membran mukus.
4.      Grup halogen
Contoh                        : khlorin, yodium
Cara kerja        : oksidasi grup sulfhidril bebas
Konsentrasi     : hipokhlorit – konsentrasi tertinggi HC10 (Warexin) – larutan 1.5%
                           yodium tinktur bersifat tuberkulosidal
Keuntungan    :  - Yodium, pencuci dan desinfektan, tidak meninggalkan residu
                               Antibakteri, yodium tinktur bersifat tuberkulosidal
                     - Khlorin, tuberkulosidal
Kelemahan      :  - Yodium, yodium tinktur menimbulkan warna dan iritasi kulit, iodofor
      tidak stabil, aktifitasnya hilang di dalam air sadah, korosif terhadap
       logam, menyebabkan pengeringan kulit
                           - Khlorin, memutihkan bahan, korosi logam, tidak stabil di dalam air
      sadah, larutan harus segar.
5.      Grup fenol
Contoh                        : kreosol, fenol semi-sintetis, lisol
Cara kerja        : koagulasi protein, menyebabkan kebocoran membran sel
Konsentrasi     : kreosol 2%
                          Lisol 1%
Keuntungan    : aktifitasnya tidak hilang oleh bahan organik, sabun atau air sadah;
                          meninggalkan efek residu jika mengering
Kelemahan      : kreosol harus digunakan di dalam air lunak
6.      Grup deterjen kationik (amonium quarternar)
Cara kerja        : pengerutan membran sel dan merusak permeabilitasnya
Konsentrasi     : larutan 1/1000 – 1/5000
Keuntungan    : tidak berbau
Kelemahan      : tidak bersifat tuberkulosidal, aktifitas virisidal terbatas, harus dilarutkan di
                          dalam air destilata, aktifitasnya hilang oleh protein, sabun dan serat
                           selulosa, aktifitas bakterisidalnya lemah sehingga harus dikombinasikan
                           dengan grup fenol.
7.      Grup deterjen anionik (aditif sabun atau deterjen)
Contoh                        : heksakhlorfen (G-11), tetrakhlorsalisilanilida
Konsentrasi     : heksakhlorfen – septisol 2%, pHisoHex 3%
Keuntungan    : aktifitas antibakteri lama, baik digunakan sebagai pencuci
Kelemahan      : tidak bersifat sporosidal maupun tuberkulosidal, cara kerja lambat,
                          beracun jika digunakan terus menerus dan diserap di dalam tubuh.
8.      Desinfektan lain-lain
Garam             : komponen merkuri organik seperti merkurokhrom dan tiomersal bersifat
                          kurang beracun dibandingkan komponen merkuri lainnya, tetapi aktifitas
                          bakterisidalnya lemah
Alkali              : larutan NaOH sering digunakan dalam kedokteran veteriner untuk
                          desinfeksi kandang
Hidrogen peroksida: dalam konsentrasi 3% digunakan untuk mencuci dan mendesinfeksi
                                  luka
Sabun              : aktifitas bakterisidalnya lemah, tetapi efektif untuk
                           mencuci/menghilangkan jasad renik
Komponen biguanida: misalnya khlorheksidin, bersifat bakterisidal, tetapi tidak efektif
                                      terhadap virus, spora, dan mikrobakteri; biasanya dicampur dengan
                                      deterjen kationik 
Dialdehida      : spektrum aktifitasnya paling luas, yaitu bersifat bakterisidal, virisidal,
                          fungisidal, dan sporosidal. Tersedia dalam bentuk asam yang harus
                          diaktifasi dengan penambahan natrium karbonat (menaikan pH) supaya
                           aktifitasnya maksimum. Dalam keadaan aktif tahan selama 2 minggu.
                           Kelemahannya adalah beracun terhadap kulit dan harganya mahal.
      Usman (1987) menyebutkan dalam bukunya, cara bahan antimikroba dalam menghambat atau membunuh dapat disebabkan oleh bermacam-macam kegiatan berikut:
-          kerusakan pada dinding sel atau penghambatan sintesis dinding sel
-          perubahan permeabilitas membran sitoplasma
-          perubahan keadaan fisika atau kimia protein dan asam nukleat
-          penghambatan kegiatan enzim
-          penghambatan sintesis protein atau asam nukleat
Menurut Dwidjoseputro (1980), pada umumnya kerusakan bakteri dapat dibagi atas 3
golongan, yaitu oksidasi, koagulasi, depresi, dan ketegangan permukaan.
a.       OKSIDASI
Zat-zat seperti H2O2, Na2BO4, KMnO4 mudah melepaskan O2 untuk menimbulkan oksidasi. Klor di dalam air menyebabkan bebasnya O2, sehingga zat ini merupakan desinfektan. Hubungan klor langsung dengan protoplasma pun dapat menimbulkan oksidasi.
b.      KOAGULASI ATAU PENGUMPULAN PROTEIN
Banyak zat seperti air-raksa, perak, tembaga dan zat-zat organik seperti fenol, formaldehida, etanol menyebabkan penggumpalan protein yang merupakan konstituen dari protoplasma. Protein yang telah menggumpal itu adalah protein yang mengalami denaturasi, dan di dalam keadaan yang demikian itu protein tidak berfungsi lagi.
c.       DEPRESI  DAN  TEGANGAN PERMUKAAN
Sabun mengurang tegangan permukaan, dan oleh karena itu dapat menyebabkan hancurnya bakteri. Dapat dikatakan pada umumnya, bakteri yang berGram negatif lebih tahan terhadap pengurangan tegangan permukaan daripada bakteri yang berGram positif.
                  Pemilihan bahan antimikrobial kimiawi:
1.              Sifat bahan yang akan diberi perlakuan. Suatu zat kimia yang digunakan untuk mendisinfeksi perabotan terkontaminasi mungkin tidak baik bila digunakan untuk kulit karena dapat merusak sel-sel jaringan kulit. Dengan demikian, maka harus dipilih zat yang serasi dengan bahan yang dikenainya.
2.              Tipe mikroorganisme. Tidak semua mikroorganisme sama rentannya terhadap sifat menghambat atau mematikan suatu zat kimia tertentu. Karena itu harus dipilih zat yang telah diketahui efektif terhadap suatu mikroorganisme yang akan dibasmi. Sebagai contoh, spora bersifat lebih resisten daripada sel-sel vegetatif. Bakteri gram positif dan gram negatif memiliki kerentanan yang berbeda; misalnya E. coli (gram negatif) jauh lebih resisten terhadap disinfektan kationik daripada Staphylococcus aureus (gram positif).
3.              Keadaan lingkungan
III.             METODOLOGI PENELITIAN
III.1 Alat dan Bahan
-          Suspensi bakteri Escherichia coli
-          Desinfektan detol
-          Aquades steril
-          Laktosa broth
-          Tabung reaksi
-          Rak tabung
III.2 Tata Kerja
-          Buat fenol stok 5 gram dalam 100 ml (1/20)
-          Buat desinfektan uji, 5 gram dalam 100 ml (1/20)
-          Buat seri pengenceran fenol 1/80, 1/90, 1/100, 1/110, 1/120. Konsentrasi 1/80 didapat dari 2 ml stok 1/20 dicampur dengan 6 ml aquades steril, lalu diambil 3 ml untuk dibuang. Sisa 5 ml yang terdapat pada tabung reaksi, selanjutkan digunakan untuk pengenceran. Konsentrasi 1/90 didapat dari 2 ml stok 1/20 dicampur dengan 7 ml aquades steril, lalu diambil 4 ml untuk dibuang. Sisa 5 ml yang terdapat pada tabung reaksi, selanjutnya  digunakan untuk pengenceran. Begitu pula untuk konsentrasi 1/100, 1/110, dan 1/120.
-          Buat seri pengenceran desinfeltan (detol) 1/110 sampai dengan konsentrasi 1/150. Konsentrasi 1/110 didapat dari 2 ml stok 1/20 dicampur dengan 9 ml aquades steril, lalu diambil 6 ml untuk dibuang. Sisa 5 ml yang terdapat pada tabung reaksi, selanjutkan digunakan untuk pengenceran. Konsentrasi 1/120 didapat dari 2 ml stok 1/20 dicampur dengan 10 ml aquades steril, lalu diambil 7 ml untuk dibuang. Sisa 5 ml yang terdapat pada tabung reaksi, selanjutnya  digunakan untuk pengenceran. Begitu pula untuk konsentrasi 1/130, 1/140, hingga konsentrasi 1/150. Apabila tidak ditemukan adanya pertumbuhan (organisme uji mati), maka harus dilakukan pengenceran yang lebih tinggi.
-          18 tabung kecil yang masing-masing berisi laktosa broth sebanyak 2 ml diberi label
-          tabung tersebut diletakan dalam rak tabung dan dipisahkan antara pengenceran fenol dan desinfektan
-          Bakteri uji (E. coli) sebanyak 0,2 ml dimasukan dalam larutan fenol dan desinfektan. Waktu awal saat bakteri dimasukan ke dalam larutan tersebut kemudian dicatat
-          Bakteri uji tersebut didiamkan selama 5 menit, dan 10 menit dan masing-masing di masukan sebanyak 1 ose dalam laktosa broth
-          Semua kaldu nutrisi dieramkan selama 48 jam pada suhu 37ºC.
IV.             HASIL DAN PEMBAHASAN
IV.1 Hasil
            Fenol
Pengenceran
5 menit
10 menit
1 : 80
+
-
1 : 90
+
-
              1 : 100
+
-
              1 : 110
+
-
              1 : 120
+
+

Desinfektan detol
Pengenceran
5 menit
10 menit
1 : 110
+
-
1 : 120
+
-
1 : 130
+
-
1 : 140
-
+
1 : 150
+
+
1 : 160
+
-
1 : 170
+
+
1 : 180
+
+
1 : 190
+
+
1 : 200
+
+

Fenol koefisien untuk desinfektan adalah :

160
                           =   1,45
110
            IV.2 Pembahasan
Kefektifan suatu desinfektan yang dapat larut dalam air dan terdiri dari turunan (golongan)
senyawa fenol dapat diuji dengan penentuan koefisien fenol.
Koefisien fenol adalah perbandingan yang ditentukan dengan cara membagi pengenceran
tertinggi dari fenol yang mematikan mikroorganisme dalam 10 menit tetapi tidak dalam waktu 5 menit dibagi oleh pengenceran terbesar dari fenol yang memperlihatkan hasil yang sama.
Pengujian ini dilakukan berdasarkan perbandingan sifat antimikroba fenol murni dalam keadaan yang sama. Setelah pengeraman 48 jam pada suhu 37ºC, dicatat pertumbuhan yang terjadi dalam tabung-tabung yang telah ditanam.
      Diketahui bahwa pada pengenceran 1/110 sampai 1/150, semua tabung dengan desinfektan yang diuji organisme uji mati, tidak ditemukan pertumbuhan. Maka dilakukan lagi pengenceran yang lebih tinggi dari 1/160 sampai 1/200. Didapatkan hasil, fenol tumbuh pada 5 menit, tidak tumbuh pada 10 menit dengan pengenceran 1/110. Desinfektan detol tumbuh pada 5 ment, tidak tumuh pada 10 menit dengan pengenceran 1/160. Berdasarkan data tersebut, maka koefisien fenol untuk desinfektan detol adalah 1,45. Makin besar koefisien fenol suatu desinfektan berarti makin manjurlah desinfektan itu.
      Fenol dan turunannya seperti detol, wipol, dan lainnya dapat bersifat bakterisid atau bakteristasis. Dalam hal ini, turunan fenol dapat menghambat pertumbuhan bakteri maupun membunuhnya. Kegunaan koefisien fenol sangat terbatas, misalnya suatu desinfektan yang dilarutkan dalam air dapat mempunyai koefisien fenol 50, tetapi desinfektan ini dapat dikatakan tidak berguna bila diterapkan dalam hubungan dengan bahan-bahan seperti nanah, ludah, tinja, atau susu, karena bahan-bahan ini dapat bergabung dengan desinfektan itu dan memisahkannya dari kontak dengan mikroorganisme (Usman, 1987). Oleh karena itu, bila suatu substansi dinyatakan mempunyai koefisien fenol tertentu, patut diingat bahwa cara ini terbatas penerapannya.
      Jika suatu desinfektan telah ditetapkan koefisien fenolnya, maka untuk menggunakannya harus dalam konsentrasi 20 kali nilai koefisien fenolnya. Jadi, detol yang memiliki koefisien fenol 1,45 maka larutan pakainya adalah 1: 29.

                       


















DAFTAR PUSTAKA

Dwidjoseputro D., Dr., Prof. 1980. Dasar-dasar Mikrobiologi. Malang: Penerbit Djambatan
Fardiaz, Srikandi. 1989. Mikrobiologi Pangan. Bogor: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan,
      Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi, Pusat Antar Universitas Pangan dan Gizi, Institut
      Pertanian Bogor
Indarwati, Ida., Ratu Safitri, Mia Miranti. 2002. Praktikum Mikrobiologi Dasar. Sumedang: Jurusan
       Biologi FMIPA UNPAD
Pelczar, M.J., dan E.C.S. Chan. 1986. Dasar-Dasar Mikrobiologi II. Jakarta: UI Press
Usman, Razali. 1987. Mikrobiologi Dasar. Bandung: Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam
                  Universitas Padjadjaran

0 Responses So Far:

 
Prapatan SPS Copyright © 2010 Prozine Theme is Designed by Lasantha Home | RSS Feed | Comment RSS