Heroes Myspace Comments

Welcome to the Jungle

PRAPATAN SPS
Catatan Berkeliling Nusantara
Tampilkan postingan dengan label ekologi manusia. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label ekologi manusia. Tampilkan semua postingan

Ekologi pangan 0

adhyws | Kamis, Mei 05, 2011 |

Tujuan dipelajarinya ekologi pangan adalah
Kenaikan jumlah penduduk yang diikuti dengan makin menurunnya luas lahan per kapit, telah memaksa petani untuk meningkatkan produktivitas pertanian yang ada.
Kebutuhan pangan juga terus meningkkat dari waktu ke waktu sejalan  dengan meningkatnya kualitas dan kuantitas hidup manusia. Masalah pangan merupakan kebutuhan dasar manusia yang paling utama. produksi tidak konstan merupakan salah satu masalah indonesia sebagai negara agraris. Sehingga dilakukan ekstensifikasi dan intensifikasi

ekologi-sosial-ekonomi

Pengaruh revolusi terhadap  intensifikasi lahan  :
menurunkan fungsi ekologis karena penggunaan peptisida.

Brown danEckhlom (1977)
Kekurangan pangan disebabkan oleh kemiskinan, masalah kekurangan gizi dapat juga karena pengaruh aspek sosial dan kebudayaan. Kekurangan gizi dapat juga disebabkan juga oleh strategi hidup dan berapa maslah, seperti kekurangan dan berkurangnya fasilitas lahan pertanian, bencana alam, rawannya transportasi dan komunitas serta kebijaksanaan politik.

Hama dan penyakit >< Makro dan mikro

Untuk mengatasi kesulitan pangan dilakukan pembangunan
pembangunan pada dasanya merubah sesuatu dari bentuk asliya, perubaha  yang terjadi dapat mempengaruhi lingkungan disekitarnya. Pembangunan yang berkelanjutan haruslah  memperhatikan segi lingkungan/ekologi, biogeofisika, sosial, budaya dan ekonomi.

Sowmarwoto 1975
Lingkungan pedesaan di indonesia merupakan suatu sistem dimana pada umumnya sistem tersebut terdiri dari 4 subsistem, yaitu desa, sungai hutan dan sawah ladang. bila salah satu subsistem tersebut terganggu karena suatu kegiatan tertentu, maka sistem yang lain akan ikut terganggu. Disadari atau tidak masy. Indonesia masih banyak yang tinggal di pedesaan, sehingga ketergantungan  mereka secara langsung dan tidak langsung terhadap lahan/sumber ddaya alam  masih sangat besar.

Gambar tanaman monokultur
Gambar tananam polikultur

Sudut elevasi bandung 700 m dpl.
faktor edafi
ph, struktur, kelembapan  curah hujan
Ketebalan air pada luas tertentu yang kedap air
Evapotranspirasi : penguapan

NTFP : NMon timber forest product

Kegiatan pembangunan yang mempengarugi sumber perolehan pangan baik secara kuantitatif maupun kualitatif, akan menimbulkan gangguan terhadap kebutuhan paqnganb penduduk baik langsung maupun tidak langsung.

Gambar lahan

Perubahan fungsi lahan

Tidak adanya koordinasi masing2 sektor = pembangunan egosektorial
Gambar merusak hutan : karena sawah yang dijual.

Pertanian 0

adhyws | Selasa, April 05, 2011 |


Pendahuluan

Kegiatan pertanian (budidaya tanaman dan ternak) merupakan salah satu kegiatan yang paling awal dikenal peradaban manusia dan mengubah total bentuk kebudayaan. Para ahli prasejarah umumnya bersepakat bahwa pertanian pertama kali berkembang sekitar 12.000 tahun yang lalu dari kebudayaan di daerah "bulan sabit yang subur" di Timur Tengah, yang meliputi daerah lembah Sungai Tigris dan Eufrat terus memanjang ke barat hingga daerah Suriah dan Yordania sekarang. Bukti-bukti yang pertama kali dijumpai menunjukkan adanya budidaya tanaman biji-bijian (serealia, terutama gandum kuna seperti emmer) dan polong-polongan di daerah tersebut.

Pada saat itu, 2000 tahun setelah berakhirnya Zaman Es terakhir di era Pleistosen, di dearah ini banyak dijumpai hutan dan padang yang sangat cocok bagi mulainya pertanian. Pertanian telah dikenal oleh masyarakat yang telah mencapai kebudayaan batu muda (neolitikum), perunggu dan megalitikum. Pertanian mengubah bentuk-bentuk kepercayaan, dari pemujaan terhadap dewa-dewa perburuan menjadi pemujaan terhadap dewa-dewa perlambang kesuburan dan ketersediaan pangan.
Teknik budidaya tanaman lalu meluas ke barat (Eropa dan Afrika Utara, pada saat itu Sahara belum sepenuhnya menjadi gurun) dan ke timur (hingga Asia Timur dan Asia Tenggara). Bukti-bukti di Tiongkok menunjukkan adanya budidaya jewawut (millet) dan padi sejak 6000 tahun sebelum Masehi. Masyarakat Asia Tenggara telah mengenal budidaya padi sawah paling tidak pada saat 3000 tahun SM dan Jepang serta Korea sejak 1000 tahun SM. Sementara itu, masyarakat benua Amerika mengembangkan tanaman dan hewan budidaya yang sejak awal sama sekali berbeda.
Hewan ternak yang pertama kali didomestikasi adalah kambing/domba (7000 tahun SM) serta babi (6000 tahun SM), bersama-sama dengan domestikasi kucing. Sapi, kuda, kerbau, yak mulai dikembangkan antara 6000 hingga 3000 tahun SM. Unggas mulai dibudidayakan lebih kemudian. Ulat sutera diketahui telah diternakkan 2000 tahun SM. Budidaya ikan air tawar baru dikenal semenjak 2000 tahun yang lalu di daerah Tiongkok dan Jepang. Budidaya ikan laut bahkan baru dikenal manusia pada abad ke-20 ini.
Budidaya sayur-sayuran dan buah-buahan juga dikenal manusia telah lama. Masyarakat Mesir Kuna (4000 tahun SM) dan Yunani Kuna (3000 tahun SM) telah mengenal baik budidaya anggur dan zaitun.
Sedangkan masa berburu dan mengumpulkan makanan atau food gathering and hunting period adalah masa dimana cara manusia purba mengumpulkan makanan-makanan yang dibutuhkan mereka untuk bertahan hidup adalah dengan berburu dan mengumpulkan makanan yang tersedia dari alam seperti sungai, danau, laut, dan hutan-hutan yang ada di sekitar tempat bermukim mereka pada saat itu. Masa Berburu dan mengumpulkan makanan terjadi pada masa Paleolithikum (zaman batu tua), yang berbarengan dengan kala Pleistosen yang terjadi sejak 2 juta tahun yang lalu. Masa berburu dan mengumpulkan makanan berlangsung selama 600.000 tahun.


























Sistem Pertanian Di Indonesia

Indonesia adalah sebuah negeri yang terkenal dengan pertanian dan perburuannya. Oleh karena itu, Indonesia sangat kaya dengan sumber daya alam serta sumber daya manusia yang digunakan untuk mengolah ladang, serta berburu.

Pertanian dan berburu merupakan mata pencaharian yang pokok di Indonesia, sebagian besar penduduk di Indonesia berladang dan berburu untuk menghidupi keluarga masing-masing. Namun pertanian hanya menyumbang 4% dari PDB dunia. Berdasarkan data BPS tahun 2002, bidang pertanian di Indonesia menyediakan lapangan kerja bagi sekitar 44,3% penduduk meskipun hanya menyumbang sekitar 17,3% dari total pendapatan domestik bruto.

Pertanian adalah proses menghasilkan bahan pangan, ternak, serta produk-produk agroindustri dengan cara memanfaatkan sumber daya tumbuhan dan hewan. Pemanfaatan sumber daya ini terutama berarti budi daya (bahasa Inggris: cultivation, atau untuk ternak: raising).

Lahan di Indonesia tidak semuanya sama, jadi tidak semua petani di Indonesia menggunakan teknik yang sama untuk mengolah lahan masing-masing. Banyak jenis sistem pertanian di Indonesia, antaranya

*      Sistem ladang
Sistem ladang merupakan sistem pertanian yang paling primitif. Suatu sistem peralihan dari tahap budaya pengumpul ke tahap budaya penanam. Pengolahan tanahnya sangat minimum, produktivitas bergantung kepada ketersediaan lapisan humus yang ada, yang terjadi karena sistem hutan. Sistem ini pada umumnya terdapat di daerah yang berpenduduk sedikit dengan ketersediaan lahan tak terbatas. Tanaman yang diusahakan umumnya tanaman pangan, seperti padi darat, jagung, atau umbi-umbian.

*      Sistem tegal pekarangan
Sistem tegal pekarangan berkembang di lahan-lahan kering, yang jauh dari sumber-sumber air yang cukup. Sistem ini diusahakan orang setelah mereka menetap lama di wilayah itu, walupun demikian tingkatan pengusahaannya rendah. Pengelolaan tegal pada umumnya jarang menggunakan tenaga yang intensif, jarang ada yang menggunakan tenaga hewan. Tanaman-tanaman yang diusahakan terutama tanaman tanaman yang tahan kekeringan dan pohon-pohonan.

*      Sistem sawah
Sistem sawah merupakan teknik budidaya yang tinggi, terutama dalam pengolahan tanah dan pengelolaan air, sehingga tercapai stabilitas biologi yang tinggi, sehingga kesuburan tanah dapat dipertahankan. Ini dicapai dengan sistem pengairan yang sinambung dan drainase yang baik. Sistem sawah merupakan potensi besar untuk produksi pangan, baik padi maupun palawija. Di beberapa daerah, pertanian  tebu dan tembakau menggunakan sistem sawah.

*      Sistem perkebunan
Sistem perkebunan baik perkebunan rakyat maupun perkebunan besar (estate) yang dulu milik swasta asing dan sekarang kebanyakan perusahaan negara, berkembang karena kebutuhan tanaman ekspor. Dimulai dengan bahan-bahan ekspor seperti karet, kopi, teh dan coklat yang merupakan hasil utama, sampai sekarang sistem perkebunan berkembang dengan manajemen yang industri pertanian.

Usaha pertanian memiliki dua ciri penting:
*      selalu melibatkan barang dalam volume besar
*      proses produksi memiliki risiko yang relatif tinggi

Dua ciri khas ini muncul karena pertanian melibatkan makhluk hidup dalam satu atau beberapa tahapnya dan memerlukan ruang untuk kegiatan itu serta jangka waktu tertentu dalam proses produksi. Beberapa bentuk pertanian modern (misalnya budidaya alga, hidroponika) telah dapat mengurangkan ciri-ciri ini tetapi sebagian besar usaha pertanian dunia masih tetap demikian.

Kondisi Pertanian Indonesia Sekarang

Dalam Pembangunan Jangka Panjang I, Pembangunan pertanian telah berhasil mewujudkan swasembada pangan khususnya komoditi beras, yang merupakan keberhasilan terbesar sektor pertanian. Kondisi ekonomi saat ini maju dengan pesat, namun Indonesia masih mempunyai berbagai tantangan besar yang akan dihadapi sector pertanian ada masa sekarang, antara lain berkisar pada :
*      Penurunan kemampuan pertanian untuk memenuh kebutuhan pangan, akibat makin cepatnya laju pengalihan tanah fungsi pertanian. Akibatnya ruang usaha pertanian menjadi sempit, terjadi mobilitas penduduk desa ke kota secara besar. Tidak hanya mobilitas ke kota, tetapi petani telah merambah hutan lindung.
*      Meningkatnya tekanan penduduk, pertumbuhan industri, dan pemukiman terhadap tanah-tanah pertanian yang diperburuk dengan meningkatnya usaha intensifikasi pertanian dengan menggunakan masukan anorganik dalam jumlah besar.
*      Ketatnya perasaingan untuk mendapatkan bibit yang berkualitas tinggi di dunia Internasional.

Dari tantangan di atas jelaslah bahwa pertanian di Indonesia sudah harus diperhatikan. Tanah pertanian yang kian menyempit karena konversi lahan dan juga asupan anorganik yang melebihi batas. Seperti asupan anorganik misalnya, keadaan tanah selain menurun, keseimbangan (homeostatis) ekologi juga sangat tergangu. Dahulu petani gencar menggunakan pupuk-pupuk anorganik untuk mendapatkan kuantitas yang maksimal, tetapi tidak memperhatikan ekologi, akhirnya terjadi eksploitasi hama secara besar-besaran. Oleh karena itulah manusia mengalihkan konsep kepada suatu konsep Pertanian Berkelanjutan (Suistaneble Agriculture).





























Berburu dan Meramu

Kebudayaan & Alat Yang Dipergunakan

Dalam kehidupannya dan perburuan serta pengumpulan makanan, para manusia purba masa berburu dan mengumpulkan makanan menggunakan alat-alat yang terbuat dari batu, tulang, duri ikan, dan tanduk.Alat-alat tersebut masih berbentuk sangat sederhana. Mereka dibentuk dengan membenturkan batu ke batu lain untuk mendapat hasil yang kurang lebih diinginkan oleh para manusia tersebut tanpa dihaluskan terlebih dahulu. Oleh karena itu, permukaan dan bentuk dari alat-alat ini masih kasar. Peninggalan kebudayaan pada masa ini banyak ditemukan dari daerah Pacitan, Jawa Timur dan Ngandong.

Contoh dari alat-alat yang digunakan pada masa ini adalah :
*      Kapak Genggam (Hand Axe) untuk menggali, memotong, dan menguliti bintang
*      Kapak Perimbas (Chopper) untuk merimbas kayu, pemecah tulang, dan senjata
*      Flake (Alat serpih) untuk mengiris daging dan memotong umbi
Flake ada dua bagian, yaitu bagian yang kerucut menonjol (Bulbus) atau yang lebar dan rata (Striking Plattform).
Jenis Flake :
i.                    Gurdi (untuk memotong)
ii.                  Pisau (untuk memotong)
iii.                Tombak (untuk menombak).
*      Alat-alat yang terbuat dari tulang dan tanduk, seperti ujung tombak, ala pengorek ubi, serta tanduk menjangan

Manusia Pada Masa Berburu dan Mengumpulkan Makanan

Pada masa berburu dan mengumpulkan makanan ini, dihuni oleh manusia-manusia purba jenis pithecanthropus dan homo. Yang dominan hidup pada masa ini adalah :
*      Pithecanthropus Erectus
*      Homo Erectus
*      Homo Soloensis
*      Homo Wajakensis

Corak Kehidupan Pada Masa Berburu dan Mengumpulkan Makanan

Pada tahap berburu dan mengumpulkan makanan ini, para manusia purba tidak hidup secara menetap pada satu tempat secara permanen, melainkan secara nomaden (Tidak menetap di satu tempat), karena mereka mengandalkan alam sepenuhnya untuk persediaan makanan, mereka akan mencari bahan makanan di tempat baru setelah di tempat yang lama telah habis pesediaan makanannya. Walau begitu, mereka tidak sepenuhnya nomaden, karena mereka masih tinggal sementara di suatu tempat tertentu, sehinga disebut seminomaden.

Para manusia purba tersebut tinggal di kawasan yang berupa padang rumput dengan semak belukar dan hutan kecil di sekitarnya, dekat dengan sumber air, danau, dan rawa. Di kawasan itu, mereka tinggal pada gua-gua yang ada, karena gua-gua tersebut terbilang aman dari serangan musuh dan binatang buas dan siap pakai tanpa harus dibuat lagi. Gua yang mereka tinggali bisa berupa gua alam (cave) atau gua payung bukit karang (abris sous roche). Mereka menggunakan gua sebagai pangkalan / markas, mereka pergi mencari makanan pada pagi hari dan pulang ke gua mereka pada saat hari sudah sore. Besoknya mereka pergi mencari makanan lagi, tapi ke arah berbeda dari yang mereka tempuh pada hari sebelumnya.

Makanan yang biasanya dicari dan dimakan oleh para manusia purba meliputi tumbuhan-tumbahan, buah-buahan, biji-bijian, dan akar-akaran yang ditemukan oleh mereka, dan daging hewan-hewan seperti rusa, kerbau, banteng, tapir, monyet, gajah, dan kuda nil.

Anjing memainkan peranan penting dalam melacak binatang buruan, lebih-lebih kalau binatang itu sudah terluka. Untuk binatang-binatang seperti itu sering digunakan lubang jebakan, sering diberi bambu-bambu runcing yang ditanam di dasarnya sehingga akan "memanggang" mangsanya waktu jatuh.

Binatang-binatang kecil yang diburu meliputi kuskus, biawak, tikus besar dan tikus kecil, kadal dan ular, belalang dan katak, kupu-kupu jenis tertentu, ulat yang terdapat di bagian dalam pohon (seperti ulat sagu), juga burung dan kelelawar. Tikus kecil dan tikus besar, biawak, kuskus, dan burung biasanya juga dibunuh dengan anak panah, tetapi kalau mungkin binatang-binatang itu ditangkap dengan tangan, misalnya tikus kecil di dalam rumah, atau kuskus di pohon. Kalau untuk binatang-binatang kecil cara menangkapnya dengan membuat jebakan. Sedangkan kadal, ular, belalang, katak dan kelelawar, ulat pohon, dan kupu-kupu ditangkap dengan menggunakan tangan

Awalnya daging hewan ini dimakan mentah-mentah, karena api belum ditemukan. Sesudah api ditemukan, daging mulai dibakar dengan dimasukkan langsung ke api untuk melunakkan serat daging tersebut, sehingga lebih mudah dimakan dan dicerna oleh manusia purba.

Dalam kehidupannya sehari-hari, para manusia purba membentuk kelompok berburu dan pengumpul makanan yang tersusun dalam satu keluarga. Jumlah orang yang terdapat dalam satu kelompok berburu dan pengumpul 10 – 20 orang per kelompok berburu. Laki-laki yang lebih kuat ditugaskan untuk berburu hewan–hewan besar dan buas, karena pekerjaan ini memerlukan tenaga yang cukup besar untuk menghadapi segala bahaya yang mungkin terjadi. Dan perempuan hanya bertugas untuk menyelesaikan pekerjaan yang ringan misalnya mengumpulkan makanan dari alam sekitarnya, serta mengurus anak.

Manfaat manusia purba membentuk kelompok-kelompok berburu dan mengumpulkan makanan ini diantara lain adalah untuk mengefektifkan dalam:
*      Menghadapi serangan musuh bersama
*      Berburu dan meramu bersama
*      Menghadapi serangan binatang buas, sehingga bisa dihadapi bersama
*      Menghadapi bencana alam bila terjadi
*      Mobilitas/kecepatan pergerakan kelompok dari satu tempat tingal ke tempat yang lain


















Diskusi

Kebakaran Lahan Gambut
Kabut asap tebal tahun ini kembali menyelimuti sebagian wilayah Sumatera dan Kalimantan. Berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya, kabut asap tebal kali ini lebih dulu menyelimuti Kota Pontianak di Kalimantan Barat. Penyebabnya, sama seperti tahun-tahun lalu, karena pembukaan lahan gambut untuk areal pertanian.

Sulitnya mencari lahan untuk kegiatan perladangan menyebabkan sebagian masyarakat mulai beralih memanfaatkan lahan gambut untuk areal pertanian. Parahnya, sebagian masyarakat mengambil jalan praktis untuk membuka areal pertanian dengan membakar lahan gambut. Sebagian masyarakat juga tidak memahami sifat serta karakteristik lahan gambut yang akan dibuka untuk areal pertanian.

Cara pembakaran yang dilakukan petani di lahan gambut berbeda dengan kegiatan petani di ladang berpindah. Pembakaran lahan gambut umumnya dilakukan petani pendatang. Dalam melakukan pembakaran, mereka juga umumnya tidak terencana dan tidak terkendali dengan baik. Mereka membiarkan pembakaran itu berlangsung beberapa hari sehingga kobaran api bisa menjalar ke mana-mana.

Jadi, perilaku petani yang membuka lahan gambut dengan cara pembakaran yang masih menjadi masalah. Meski perilaku petani belum mendukung kelestarian lingkungan, hal itu bukan mustahil untuk diatasi perlahan-lahan. Langkah paling baik tentu saja menerapkan sistem zero burning atau pengolahan lahan pertanian tanpa bakar. Sayangnya, program ini belum diperkenalkan kepada petani di Kalimantan Barat.

`Pertanian Ladang' Ancaman Bagi TNBD

Salah satu dari banyak bentuk ancaman terhadap kelestarian TNBD adalah pertanian berladang, dalam istilah pertanian disebut shifting cultivation. Istilah ini untuk menggambarkan sistem pertanian tradisional yang dilakukan oleh masyarakat di lahan kering dengan cara membuka hutan baru, lalu menanam tanaman campuran, seperti palawija (padi, jagung, dan cabe), sayuran (mentimun dan ubi-ubian), holtikultura, serta tanaman perkebunan (karet).

Sebelum penanaman terlebih dahulu ada proses pembakaran terhadap lahan yang baru dibuka. Tujuannya guna mengubah tumbuh-tumbuhan yang telah ditebang dan juga lapisan humus di atas tanah hutan menjadi abu. Proses perabuan ini melepaskan zat-zat gizi yang terdapat di batang pohon, dahan-dahan, daun, dan humus sehingga zat-zat gizi ini dapat dihisap oleh akar tanaman pangan (padi, cabe, sayuran,dan jagung). Tujuan lainnya usaha memperlancar aktifitas selanjutnya seperti menanam, menyiang tanaman/merumput, dan memanen. Kemudian juga untuk mematikan tumbuh-tumbuhan yang sulit untuk ditebang dan mencegah tumbuhan baru yang dapat menjadi saingan tanaman padi. Selain itu demi mendapatkan sinar matahari serta zat hara yang dibutuhkan tanam padi.


























Kesimpulan

Pertanian

Berdasarkan beberapa penjelasan di atas, dapat kita intip dari jendela pertanian kita sekarang bahwa pertanian sangat penting bagi ekologi. Kaitannya dengan interaksi antara manusia dengan alam, manusia, atau alam itu sendiri, pertanian mempunyai peran di setiap sektor tersebut. Akhirnya keberlangsungan akan terwujud baik terhadap alam ataupun manusianya itu sendiri.

Selain itu, Seharusnya pertanian mendukung kelestarian alam, hal yang salah dan sangat di luar kebaikan jika pertanian itu merusak lingkungan.

Juga harus ditanamkan prinsip utama dalam pertanian adalah dengan usaha-usaha yang optimal, menghasilkan out put yang maksimal. Mutu baik kuantitas maupun kualitas harus sangat diperhatikan. Gizi bagi rakyat, juga akses dan kecukupan pangan adalah faktor penting di dalamnya. Faktor-faktor tersebut secara langsung berhubungan dengan keamanan pangan atau food security. Sehingga jelaslah sudah bahwa pertanian juga berpengaruh pada isu global yakni food security.


Perburuan dan Meramu

Melakukan aktivitas berburu amatlah penting bagi masyarakat zaman dahulu untuk mendapatkan makanan, mereka akan membentuk kelompok yang mempunyai tugas tersendiri dalam berburu. Jadi, tidak semua orang memburu satu binatang beramai-ramai karena hewannya sendiri akan ketakutan dan lari ketika melihat segerombolan manusia menyerangnya. Hal ini dapat menyebabkan hewan tersebut lolos dan mereka tidak akan mendapat makanan untuk seharian itu.










Referensi


*      www.lablink.or.id

*      www.unisosdem.org




*      Ma’arif, A. Syafi’i. 2004. Panduan Pembelajaran Sejarah 1. Surakarta : Mediatama

*      Wuryantoro, Edhie. 1997. Sejarah nasional an Umum. Jakarta : Balai Pustaka


*      www.balikami.com

*      www.e-dukasi.net

revolusi hijau 2

adhyws | Senin, April 04, 2011 |

V.          PERKEMBANGAN REVOLUSI HIJAU, TEKNOLOGI dan INDUSTRIALISASI
Kebijakan modernisasi pertanian pada masa Orde baru dikenal dengan sebutan Revolusi Hijau.
Revolusi Hijau merupakan perubahan cara bercocok tanam dari cara tradisional ke cara modern.
Revolusi Hijau (Green Revolution) merupakan suatu revolusi produksi biji-bijian dari hasil penemuan-penemuan ilmiah berupa benih unggul baru dari berbagai varietas, gandum, padi, dan jagung yang mengakibatkan tingginya hasil panen komoditas tersebut.
Tujuan Revolusi hijau adalah mengubah petani-petani gaya lama (peasant) menjadi petani-petani gaya baru (farmers), memodernisasikan pertanian gaya lama guna memenuhi industrialisasi ekonomi nasional. Revolusi hijau ditandai dengan semakin berkurangnya ketergantungan para petani pada cuaca dan alam karena peningkatan peran ilmu pengetahuan dan teknologi dalam peningkatan produksi bahan makanan.
Latar belakang munculnya revolusi Hijau adalah karena munculnya masalah kemiskinan yang disebabkan karena pertumbuhan jumlah penduduk yang sangat pesat tidak sebanding dengan peningkatan produksi pangan. Sehingga dilakukan pengontrolan jumlah kelahiran dan meningkatkan usaha pencarian dan penelitian binit unggul dalam bidang Pertanian. Upaya ini terjadi didasarkan pada penelitian yang dilakukan oleh Thomas Robert Malthus.
Upaya yang dilakukan pemerintah Indonesia untuk menggalakan revolusi hijau ditempuh dengan cara :
1.     Intensifikasi Pertanian
Intensifikasi Pertanian di Indonesia dikenal dengan nama Panca Usaha Tani yang meliputi :
a.      Pemilihan Bibit Unggul
b.      Pengolahan Tanah yang baik
c.       Pemupukan
d.      Irigasi
e.      Pemberantasan Hama
2.     Ekstensifikasi Pertanian
Ekstensifikasi pertanian, yaitu  Memperluas lahan tanah yang dapat ditanami dengan pembukaan lahan-lahan baru (misal mengubah lahan tandus menjadi lahan yang dapat ditanami, membuka hutan, dsb).
3.     Diversifikasi Pertanian
Usaha penganekaragaman jenis tanaman pada suatu lahan pertanian melalui sistem tumpang sari. Usaha ini menguntungkan karena dapat mencegah kegagalan panen pokok, memperluas sumber devisa, mencegah penurunan pendapatan para petani.
4.     Rehabilitasi Pertanian
Merupakan usaha pemulihan produktivitas sumber daya pertanian yang kritis, yang membahayakan kondisi lingkungan, serta daerah rawan dengan maksud untuk meningkatkan taraf hidup masyarakat di daerah tersebut. Usaha pertanian tersebut akan menghasilkan bahan makanan dan sekaligus sebagai stabilisator lingkungan.

Pelaksanaan Penerapan Revolusi Hijau:
Ø Pemerintah memberikan penyuluhan dan bimbingan kepada petani.
Ø Kegiatan pemasaran hasil produksi pertanian berjalan lancar sering perkembangan teknologi dan komunikasi.
Ø Tumbuhan yang ditanam terspesialisasi atau yang dikenal dengan monokultur, yaitu menanami lahan dengan satu jenis tumbuhan saja.
Ø    Pengembangan teknik kultur jaringan untuk memperoleh bibit unggul yang diharapkan yang tahan terhadap serangan penyakit dan hanya cocok ditanam di lahan tertentu.
Ø      Petani menggunakan bibit padi hasil pengembagan Institut Penelitian Padi Internasional (IRRI=International Rice Research Institute) yang bekerjasama dengan pemerintah, bibit padi unggul tersebut lebih dikenal dengan bibit IR.
Ø      Pola pertanian berubah dari pola subsistensi menjadi pola kapital dan komersialisasi.
Ø      Negara membuka investasi melalui pembangunan irigasi modern dan pembagunan industri pupuk nasional.
Ø      Pemerintah mendirikan koperasi-koperasi yang dikenal dengan KUD (Koperasi Unit Desa).

Dampak Positif Revolusi Hijau :
     Memberikan lapangan kerja bagi para petani maupun buruh pertanian.
     Daerah yang tadinya hanya dapat memproduksi secara terbatas dan hanya untuk memenuhi kebutuhan minimal masyarakatnya dapat menikmati hasil yang lebih baik karena revolusi hijau.
     Kekurangan bahan pangan dapat teratasi.
     Sektor pertanian mampu menjadi pilar penyangga perekonomian Indonesia terutama terlihat ketika Indonesia mengalami krisis ekonomi sehingga orang beralih usaha ke sektor agrobisnis.
Dampak Negatif Revolusi Hijau :
     Muncullah komersialisasi produksi pertanian
     Muncul sikap individualis dalam hal penguasaan tanah
     Terjadi perubahan struktur sosial di pedesaan dan pola hubungan antarlapisan petani di desa dimana hubungan antar lapisan terpisah dan menjadi satuan sosial yang berlawanan kepentingan.
     Memudarnya sistem kekerabatan dalam masyarakat yang awalnya menjadi pengikat hubungan antar lapisan.
     Muncul kesenjangan ekonomi karena pengalihan hak milik atas tanah melalui jual beli.
     Harga tanah yang tinggi tidak terjangkau oleh kemampuan ekonomi petani lapisan bawah sehingga petani kaya mempunyai peluang sangat besar untuk menambah luas tanah.
     Muncul kesenjangan sosial karena kepemilikan tanah yanmg berbeda menyebabkan tingkat pendapatanpun akan berbeda.
     Muncul kesenjangan yang terlihat dari perbedaan gaya bangunan maupun gaya berpakaian penduduk yang menjadi lambang identitas suatu lapisan sosial.
     Mulai ada upaya para petani untuk beralih pekerjaan ke jenis yang lain seiring perkembagan teknologi.
PERKEMBANGAN TEKNOLOGI

Perkembangan teknologi memberikan pengaruh positif bagi Indonesia khususnya bagi peningkatan industri pangan:
§         Digunakannya pupuk buatan dan zat-zat kimia untuk memberantas hama penyakit sehingga produksi pertanianpun meningkat.
§         Proses pengolahan lahanpun menjadi cepat dengan digunakan traktor
§         Proses pengolahan hasil menjadi cepat dengan adanya alat penggiling padi

Adapun dampak negatif dari perkembangan teknologi tersebut adalah
§         Timbulnya pencemaran pada air maupun tanah akibat penggunaan pestisida (pupuk kimia) yang berlebih. Sebab jika unsur nitrat maupun fosfat yang terkandung dalam pupuk dalam jumlah banyak masuk ke sungai akan menyebabkan pertumbuhan ganggang biru serta tanaman air lainnya yang menyebabkan pengeringan sungai karena banyaknya tumbuhan air (eutrofikasi).
§         Penggunaan pestisida dapat membunuh hama tanaman, serangga pemakan hama, burung, ikan dan hewan lainnya. Bahkan dari unsur-unsur yang terkandung dalam pestisida dapat berubah menjadi senyawa yang membahayakan kehidupan.
§         Pelaksanaan monokultur menyebabkan hubungan yang tidak seimbang antara tanah, hewan, dan tumbuh-tumbuhan sehingga kesimbangan alam akan terganggu yang menyebabkan berjangkitnya hama dan penyakit.
§         Adanya sistem peladangan berpindah atau penebangan pohon dalam jumlah besar yang dilakukan oleh pihak pemegang Hak Pengusahaan Hutan (HPH) guna dibuat pemukiman baru menyebabkan kerusakan lingkungan kususnya pada ekosistem tanah.
§         Semakin sempit lahan pertanian karena diubah menjadi wilayah pemukiman dan industri.
§         Meningkatnya kegitan penggalian sumber alam, pertambangan liar yang kurang memperhatikan kondisi lingkungan.
§         Pengurangan jumlah tenaga kerja manusia yang terlibat dalam proses produksi karena telah tergantikan oleh mesin-mesin sehingga bersifat padat modal dan hemat tenaga kerja. Berdampak pada munculnya pengangguran.

INDUSTRIALISASI DI INDONESIA
Revolusi Hijau ini menyebabkan upaya untuk melakukan modernisasi yang berdampak pada perkembangan industrialisasi yang ditandai dengan adanya pemikiran ekonomi rasional. Pemikiran tersebut akan mengarah pada kapitalisme.
Dengan industrialisasi juga merupakan proses budaya dimana dibagun masyarakat dari suatu pola hidup atau berbudaya agraris tradisional menuju masyarakat berpola hidup dan berbudaya masyarakat industri. Perkembangan industri tidak lepas dari proses perjalanan panjang penemuan di bidang teknologi yang mendorong berbagai perubahan dalam masyarakat.
Upaya pemerintah untuk meningkatkan industrialisasi adalah :
-         Meningkatkan perkembangan jaringan informasi, komunikasi, transportasi untuk memperlancar arus komunikasi antarwilayah di Nusantara.
-         Mengembangkan industri pertanian
-         Mengembangkan industri non pertanian terutama minyak dan gas bumi yang mengalami kemajuan pesat.
-         Perkembangan industri perkapalan dengan dibangun galangan kapal di Surabaya yang dikelola olrh PT.PAL Indonesia.
-         Pembangunan Industri Pesawat Terbang Nusantara(IPTN) yang kemudian berubah menjadi PT. Dirgantara Indonesia.
-         Pembangunan kawasan industri di daerah Jakarta, Cilacap, Surabaya, Medan, dan Batam.
-         Sejak tahun 1985 pemerintah mengeluarkan kebijakan deregulasi di bidang industri dan investasi.

Industrialisasi di Indonesia ditandai oleh :
      Tercapainya efisiensi dan efektivitas kerja.
      Banyaknya tenaga kerja terserap ke dalam sektor-sektor industri.
      Terjadinya perubahan pola-pola perilaku yang lama menuju pola-pola perilaku yang baru yang bercirikan masyarakat industri modern diantaranya rasionalisasi.
      Meningkatnya pendapatan per kapita masyarakat di berbagai daerah khususnya di kawasan industri.
      Menigkatnya kebutuhan masyarakat yang memanfaatkan hasil-hasil industri baik pangan, sandang, maupun alat-alat untuk mendukung pertanian dan sebagainya.

Dampak positif industrialisasi adalah tercapainya efisiensi dan efektifitas kerja.
Dampak negatif dari industrialisasi adalah Munculnya kesenjangan sosial dan ekonomi yang ditandai oleh kemiskinan serta Munculnya patologi sosial(penyakit sosial) seperti kenakalan remaja dan kriminalitas.     

Note :    


Masyarakat tradisional mempertahankan prinsip cukup sementara masyarakat kota bagaimana memaksimalkan lahan dengan berbagai cara.
Munculah revolusi hijau, dengan intensifikasi lahan 
Hal yang mendasari majunya revolusi hijau
Penyuluhan, politik dan dana yang baik


Dampak yang menjadi mundurnya revolusi hijau




Membawa dampak Positif :
dari 1-2 ton menjadi 3-4 ton tiap hektarnya
Tersedia swasembada pangan bahkabn menjadi lumbung padi seasia




Dampak negatif : 
Penggunaan peptisida yang mengganggu keseimbangan
Terjadi homologi padi dari yang dulunya bervariasi
Lahan menjadi kurang subur






Daftar Pustaka
http://www.iasa-pusat.org/artikel/revolusi-hijau-dan-penyuluhan-pertanian.html
http://green.kompasiana.com/penghijauan/2010/11/25/revolusi-hijau/
http://rinahistory.blog.friendster.com/2008/11/indonesia-masa-orde-baru/


 
Prapatan SPS Copyright © 2010 Prozine Theme is Designed by Lasantha Home | RSS Feed | Comment RSS