Heroes Myspace Comments

Welcome to the Jungle

PRAPATAN SPS
Catatan Berkeliling Nusantara

Marga Dillenia dan pemanfaatannya di Indonesia 0

adhyws | Rabu, Desember 21, 2016 | , , , , ,


Dillenia merupakan tumbuhan tahunan dan termasuk dalam bagian dari kekayaan plasma nutfah jenis tumbuhan penghasil buah-buahan Nusantara yang berasal dari keluarga Dilleniaceae. Keluarga dilleniaceae adalah satu dari 5 marga yang masuk dalam puak Dilleniae, anak suku Dillenioideae. Suku ini `dikenal sebagai tumbuhan tahunan terdiri dari pohon dan semak selalu hijau meski terkadang disebut semi selalu hijau karena terdapat pola adaptasi menggugurkan daunnya secara serentak kemudian memunculkan pucuk yang tumbuh menggulung secara bersamaan ketika waktu khusus di beberapa jenis. Di Indonesia memiliki banyak jenis dengan berbagai nama yang khas di beberapa tempat. Di Gorontalo dekat Suaka Margasatwa Nantu diketahui masyarakat telah dapat membedakan antara dengilo (Dillenia ochreata (Miq.) Teijsm. & Binn. Ex Mart.) dan Gosale (Dillenia celebica Hoogland) dari perbedaan perawakannya dimana Dillenia ochreata cenderung pohon kecil dan sebagai sumber buah ketika berjalan dihutan, sementara Dillenia celebica Hoogl. merupakan jenis yang dapat tumbuh tinggi yang dikenal sebagai salah satu sumber bahan papan. Pada masyarakat Makasar telah dikenal buah Dengen (Dillenia serrata) yang telah sering dimanfaatkan buahnya untuk minuman dingin. Dijawa masyarakat menyebutnya simpur (sunda) untuk jenis Dillenia indica Linneaues di Cagar Alam Leuweung Sancang, Garut, di manado dikenal dengan nama dongi atau dengilo, ada juga yang menyebutnya bigi, sempur air dan lain-lain. Marga ini diberi nama mengikuti botaniwan yang berasal dari Jerman, Johan Jacob Dillenius. Berikut akan dijelaskan beberapa jenis dari marga Dillenia yang bisa kita temukan di Indonesia dengan berbagai keunikan yang dimilikinya.

Dillenia suffruticosa (Griff.) Martelli merupakan tumbuhan dikotil dengan perawakan berupa pohon kecil dengan tajuk bulat dan rimbun, bentuk daun membulat telur, pinggiran daun menggerigi, basal daun tumpul bersatu dengan sayap tangkai daun, terdapat +/- 14 pasang urat daun dengan tipe pertulangan daun menyirip, termasuk daun tunggal, tersusun berpilin. Permukaan bawah daun gundul. Pucuk daun yang masih terlindungi oleh adanya selaput bumbung yang membuka menjadi sayap tangkai daun. Tangkai daun bersayap, panjang tangkai 6-7 cm, terdapat daun penumpu dengan panjang sekitar 1 cm yang muncul terlihat pada daun bagian atas daun pertama yang telah dewasa.

Bunga  tunggal dan berada pada ujung tandan, atau di ketiak, termasuk bunga lengkap dengan ukuran bunga besar dan menyolok. Perhiasan bunga dengan mudah dibedakan, berdasarkan posisi sepal / tepalnya merupakan tipe bunga normal.. Perbungaan terjadi sepanjang waktu. Bunga termasuk jenis bunga teratur, karangan bunga dalam tandan  2-7 bunga, dengan perlekatan antar bagian bunga saling bebas.. Bunga beraturan. Putik berjumlah 6-8 pasang dengan bentuk menyerupai fili. Tpe putik apocarpus berdasarkan jumlah dan perlekatan daun buah, benang sari panjang 1,5 cm berjumlah tak terhingga, bersusun mengelilingi putik, berwarna putih. Mahkota bunga 5 helai, berwarna kuning, panjang +/- 5 cm, lebar  +/- 2,3 cm,  kelopak berjumlah 5, letak antar kelopak saling terpisah dan bertumpuk dengan tipe quincuncial, berwarna hijau dominan, dengan beberapa corak merah di basal bunga, +/- 7 anak bunga.  Bunga memiliki ovari superior. Bunga bermekaran dari bagian yang terdekat dengan tangkai bunga. Bunga jantan dan betina dalam satu individu. Tangkai bunga 14 cm. Karpel terbuka saat matang, dengan biji berwarna merah dengan jumlah 6-18 biji.

Buah berbentuk bintang. Biji muncul dari dalam 5-8 karpel yang berasal dari 5 kelopak, bekas putik masih terlihat pada ujung karpel yang membuka. Panjang karpel +/- 2,5 cm. Karpel ini membuka saat matang dan menekuk kearah luar sehingga biji-biji yang terdapat didalam kering arilusnya dan jatuh. Mekanisme ini merupakan bagian dari tahap bergenerasi. Biji berjumlah 9-12 buah. Diduga selain pemencaran biji dibantu oleh jenis-jenis burung kemungkinan lainnya adalah aliran air membantu memawa biji ketempat lain, dimana secara ekologi habitatnya cenderung berada di pinggiran sungai sebagai bagian dari kebutuhan ekologi alaminya.




Gambar 1. Dillenia suffruticosa, a. Sayap daun yang persistent, b. Bentuk daun, c. habitus, d. karangan bunga, e. Karangan bunga dari belakang, f. mahkota bunga, g. buah, h. karpel yang terbuka, i. karpel yang menggulung ke arah luar.

Dillenia ovata Wall. ex Hook.f. & Thomson

Dillenia ovata merupakan pohon dengan tinggi berkisar 15 - 30 m, memiliki banir yang sempit, dengan diameter batang 20-44 cm. Permukaan batang halus, ketika tua mengelupas dalam kepingan atau seperti kertas, tercatat seringkali mengeluarkan suara mendesis bila dipotong dan mengeluarkan getah seperti air berwarna merah agak jambon atau kecokelatan. Mudah bercabang dan terdapat tonjolan-tonjolan lebih besar dari kepalan tangan pada batang. Percabangan tidak beraturan, dapat bertunas atau bercabang dari batang utama, dibagian dekat cabang yang dipotong, bahkan bisa muncul dibatang dekat tanah. Model arsitektur pohon Scarrone, dengan ciri khusus berupa meristem terminal yang tumbuh secara ortotopik secara ritmik.

Daun tunggal, membulat telur sampai oval, memiliki selaput bumbung yang akan menjadi sayap daun dengan panjang 3-5 cm. Tangkai daun 3-5 cm, panjang daun 15-30 cm, lebar daun 5-20 cm. Ujung daun meruncing, pinggiran daun bergigi, bagian bawah daun runcing. Permukaan atas daun tidak berbulu serta permukaan bawahnya. Tiper pertulangan daun menyirip sampai ke tepi dengan jumlah 10-15 urat daun, kedudukan daun terletak dalam spiral, dengan jarak antar daun 2-3 cm, dan tiap pertumbuhan daun terdapat gelang – gelang. Tangkai cabang bertitik-titik pada bagian yang masih dan tidak terlalu terlihat pada bagian yang sudah cokelat.    


Gambar 2. Bagian-bagian vegetative  D. Ovata, a. Permukaan batang dengan benjolan, b. kanopi dillenia, c. anakan, d. Buah tunggal, e. Bagian belakang daun, f. arsitektur tumbuhan model Scarrone,

Letak bunga terminal, perbungaannya berbeda dengan D. Suffruticosa yang berada dalam tandan yakni termasuk bunga tunggal Karena pada D. Ovata pada setiap ujung percabangan muncul hanya satu bunga.. Tangkai bunga 3-4 cm, diameter bunga 5-6 cm, awal pertumbuhan bunga dalam bentuk kelopak-kelopak yang saling  menutupi, seiring pertumbuhan membesar, hingga dewasa dan mahkota muncul, jumlah kelopak 5 buah panjang 6-8 cm, berwarna hijau muda kekuningan, Ketika mekar mahkota bunga yang berwarna putih muncul dari perlindungan masing-masing kelopak sehingga berjumlah 5 dengan panjang 7-8 cm, lebar 3,4 - 4,5 cm berbentuk spatula. Benang sari berjumlah banyak, dan diduga menyerbuk silang, dikarenakan putik berada di lebih tinggi dari benang sari. Keadaan benang sari terdapat 2 kelompok, pada lingkar luar lebih pendek dengan panjang tangkai sari 1 cm berwarna kuning gading, serbuk sari berwarna merah, dan benang sari pada bagian dalam memiliki panjang 1,8 cm dengan jumlah benang sari lebih banyak dibandingkan yang panjang dan masing-masing tidak terhingga. Berdasarkan jumlah dan perlekatan daun buanya  disebut sebgai tipe putik apocarpus dimana terdiri dari dua atau lebih karpel yang saling bebas. Putik berwarna merah lebih terang dibandingkan benang sari, terletak lebih atas dibandingkan dengan benang sari dengan panjang 1,5 cm jumlah putik 14-18 buah, ujung benang sari berbentuk rompang hingga melancip.

D. Ovata  merupakan buah tunggal. Pembuahan dimulai ketika putik terserbuki benang sari. Sehingga buah berasal dari putik yang terbuahi, saat berkembang, terlihat jelas memuntir, lalu, saat telah matang, daging-daging buah tadi berada pada sumbu simetris atau lurus. Kelopak berbentuk bintang, 2 diatas, 3 di bawah. Kelopak tidak gugur dan akan bertumbuh lagi menutupi bakal buah yang terbuahi yakni putiknya.  kelopak saat berbunga memiliki panjang 3-4 cm, lebar 2,5-3 cm, ketika menutupi buah yang telah matang memiliki panjang 7-9 cm, lebar 7-8,5cm.  

Buah yang matang akan jatuh ke tanah dengan kelopak yang masih tertutupi. Berbeda dengan jenis Dillenia serrata, dimana buah yang jatuh akan membuka kelopaknya sehingga buah yang kuning merah bata terlihat. Pada D. Ovata kelopak bunga tetap melekat membungkus buah, sehingga dapat kita lihat buah membusuk dalam lindungan kelopak. Sama dengan buah Dengen (D. serrata) disebut buah pungut, kaena buah yang matang berjatuhan dalam keadaan masih terlindungi kelopak sehingga terjamin bersih. Dari perhitungan 4 pohon yang berdiameter 25-40 cm didapatkan 50 buah yang jatuh pada tanggal 19-20 desember 2016, yang diduga sebagai masa puncak musim berbuah. Meskipun beberapa masih ada yang berbunga. Daging buah berwarna hijau transparan panjang 6-8 cm, lebar 3-4,5 cm, mirip dengan buah jeruk yang bersekat-sekat, ketika dipisah-pisahkan buahnya menyerupai ginjal atau telinga yang datar dan tipis dengan putik yang masih melekat. Berbeda dengan kerabatnya, D. serrata yang akan berwarna kuning kemerahan bila sudah matang dan merekah sendiri kelopaknya ditanah. Pada jenis D. ovata buah tetap berwarna hijau dan tetap terselimuti kelopak hingga busuk. Sementara dari rasanya, buah D. ovata masih kalah kecut dengan buah D. Serrata, sementara untuk perbandingan kandungannya belum diketahui. Biji terselimuti daging buah berjumlah 6-9 biji, dan biasanya hanya berkisar 3 biji yang membesar dan berpotensi untuk tumbuh menjadi bibit. Pada  4 individu pohon dillenia terdapat 9 anakan yang memiliki tinggi 10-40 cm tanpa cabang, sekilas hamper mirip dengan jenis Terentang (Camnosperma sp.) dengan daun yang hamper mirip dimana yang membedakan adalah adanya ochrea, selaput bumbung atau sayap pada marga dillenia. Sedikitnya jumlah anakan yang tumbuh jika dibandingkan dengan jumlah buah yang berjatuhan menimbulkan dugaan sementara bibitnya ada yang terinjak-injak ketika akan tumbuh. Terlihat hanya beberapa buah dengan sisa bekas dimakan, kemungkinan dihutan alam lebih banyak yang memanfaatkannya sebagai pakan.


Gambar 3. Bagian-bagian Generatif Dillenia ovata , a. Buah utuh, b. daging buah, c. daging buah utuh, d. Putik, e. Mahkota bunga, g. Karangan bunga utuh,. G. Anter dan susunan kelopak, h. benang sari



Ekologi dan Penyebaran

Dillenia merupakan suatu genus dengan jumlah sekitar 100 jenis, penghuni daerah tropis dan subtropis di Asia Tenggara, Australasia dan Kepulauan laut India. Di Asia tenggara terdapat sekitar 60 jenis, Filipina memiliki jumlah jenis terkaya (10-12 yang endemik), diikuti kawasan peninsula malaysia dan Nugini, lalu Kalimantan, Sumatra dan Thailand. Dillenia indica dan Dillenia pentagyna merupakan jenis yang memiliki sebaran paling luas (dari India dan Cina selatan sampai Kalimantan untuk jenis Dillenia indica, untuk Dillenia pentagyna dari Cina selatan dan India sampai Thailand, Jawa Timur, Kepulauan sunda kecil dan Sulawesi Selatan).

Secara ekologi dari beberapa jenis yang ditemukan terdapat jenis dengan penyebarannya lebih sempit, dan terdapat juga yang bersifat luas. Dari habitatnya terdapat Dillenia indica merupakan jenis yang tumbuh di lahan-lahan hutan sekunder begitu juga dengan Dillenia suffruticosa yang tumbuh di habitat terbuka, terutama dekat dengan air seprti sungai atau rawa. Dijumpai masih dapat bertahan di dekat parit hutan Akasia di Hutan Kota Balikpapan. Beberapa jenis juga didapati sebagai pengisi hutan dataran primer di Gorontalo yakni jenis D. Celebica yang penyebarannya mungkin dibantu oleh jenis primate Yaki, Dikarenakan potensi dan nilainya yang baik dan berpotensi untuk dikembangkan untuk berbagai kebutuhan seperti tanaman pekarangan beberapa marga Dillenia telah mulai didomestikasi dan tersebar ke jawa seperti di kampus Institut Pertanian Bogor yakni D. Ovata yang dapat tumbuh dengan baik serta telah menghasilkan anakan yang tumbuh dibawah naungan tumbuhan tersebut. Catatan Backer (1963) dalam Flora of Java jumlah Marga Dillenia hanya 6 jenis, dan D.Ovata secara alami tumbuh di Asia Tenggara, Sumatera dan Bangka; di jawa meupakan jenis yang dibudidayakan.



Manfaat & Potensi

Keindahan bunga yang mencolok dan senantiasa mekar secara bersambungan serta arsitekturnya yang bulat, membuat sebagian masyarakat menanamnya di pekarangan rumah sebagai tanaman hias. Contohnya Dillenia sufruticosa. Sebagai sumber pangan khususnya buah masyarakat telah mengenal Dillenia serrata, yang saya pernah makan pertama kalinya di tahun 2014 di salah satu taman di perusahaan tambang di Balikpapan, Kalimantan Timur, yang menjadikan tanaman ini sebagai tanaman yang hias pengisi taman kehati di perusahaan tersebut. Buahnya berwarna kuning, dengan ukuran relative besar +/1 10 cm, termasuk kelopak yang melindungi buahnya. Buahnya berwarna kuning dan berderet rapat itu bisa dipisahkan dengan tangan secara mudah. Ada yang menyebutnya bigi, ada yang menyebutnya dungun. Selain dimakan secara langsung, buah bigi ini juga bisa dibuat jus atau minuman dingin seperti lemon tea. Kandungan asam sitrat dimanfaatkan masyarakat sebagai penyedap rasa pada makanan, sementara kandungan vitamin C memberikan inspirasi pada untuk menjadikannya sebagai permen dengan penambahan gula. Pemuliaan tanaman dengan kemajuan ilmu pengolahan pangan beserta teknologinya memungkinkan banyak potensi yang digali dikemudian hari. Bisa dibayangkan jika jenis D. Suffruticosa yang merupakan pohon kecil memiliki buah seperti D. serrata yang bisa dikonsumsi dan dibuat minuman dingin sehingga dikemudian hari bisa diolah seperti jeruk untuk pemanfaatannya.

Saat ini bersamaan dengan susutnya lahan alami, serta gaung dan publikasi tentang manfaat dillenia sebagai sumber plasma nutfah khususnya buah-buahan, membuat masyarakat kurang mengenal dengan baik terhadap tumbuhannya. Sehingga dibutuhkan perhatian lebih dari berbagai pihak dan kampanye yang baik untuk mengenalkan dillenia sebagai bagian dari keragaman hayati nusantara. Sebagai sumber daya genetik, banyak dari jenis Dillenia merupakan endemik lokal, khususnya di Filipina dan New Guinea, dan cenderung berpotensi menggalami erosi genetik bahkan kepunahan. Contohnya adalah Dillenia celebica, kayunya hingga saat ini secara lokal digunakan di Sulawesi tanpa adanya penanaman tambahan.

Sumber :

Lemmens, R.H.M.J. Lemmens, I. Soerianegeta and W.C. Wong. 1995. PROSEA No 5(2) Minnor Commercial Trees. Bogor Indonesia.

Horn, James. W. 2007. Dilleniaceae. Dalam jurnal www.researchgate.net/publication/226756839.

Bacer, CA & R.C. Bakhuizen Van Den Brink. 1963. Flora of Java. N.V.P. Noordhoff. Groninggen. Netherlands.

Dan catatan pribadi.

0 Responses So Far:

 
Prapatan SPS Copyright © 2010 Prozine Theme is Designed by Lasantha Home | RSS Feed | Comment RSS