Heroes Myspace Comments

Welcome to the Jungle

PRAPATAN SPS
Catatan Berkeliling Nusantara
Tampilkan postingan dengan label My adventure. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label My adventure. Tampilkan semua postingan

Pendakian 0

adhyws | Sabtu, Desember 22, 2012 |

Perjalanan ini merupakan pendakian pertamaku di alam bebas, waktu itu aku masih tingkat satu di biologi, bermula dari ajakan senior, aku pun mulai mengemas barang yang sekiranya aku perlukan. Perjalanan kami tempuh dengan menggunakan kendaraan bermotor selama 3 jam dari kota Bandung. Papandayan merupakan gunung api yang masih aktif yang terletak di kecamatan Cisurupan, Kabupaten Garut, Jawa Barat. Dengan ketinggian 2665 m diatas permukaan laut merupakan tantangan pertamaku melawan hawa dingin yang menyelimuti.

kawah sulfur
       Setibanya di gerbang parkir, sekedar menghangatkan badan setelah perjalanan panjang melewati Garut, kami pun melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki. Baru sebentar kami berjalan, angin membawa gas belerang ke arah kami, dan tercium menusuk hidung. Kami memakai syal  yang sedikit lembab untuk melewati terpaan angin tersebut. Karena terkena mata pun menjadi sangat perih, kami bergegas melewati kawah-kawah aktif tersebut. Dan menghirup kesegaran udara sebanyak-banyaknya setelah melewati kawah-kawah tersebut.
            Setelah melewati kawah-kawah tersebut, kami susuri jalan setapak yang ada. Karena jalan terputus oleh longsor maka, kami terpaksa mencari jalan pintas dengan menaiki tebing yang kami sebut vertikal limit.



       
gunung

pohon mati akibat lahar panas

tegalan air yang sangat jernih

kawah hijau terlihat dari atas

lokasi parkir

Sisa-sisa kebakaran di Papandayan

Sungai mati diatas Gunung

puncak

edelweis

genangan air di musim hujan

Kawah Belerang, Papandayan
Tegal Alun, Papandayan

Ada apa di Merapi,….. 0

adhyws | Kamis, Desember 06, 2012 |



Dari Jogjakarta, berita burung ini terbang melalui suara di dunia maya. Tiga hari kami lewatkan di kaki Gunung Merapi. Dua tim yang dikirimkan oleh HIMBIO UNPAD dan Birds Conservation Bandung turut berpartisipasi dalam  Kegiatan Bird Race di Merapi. Pengalaman pertama bagi saya dalam event seperti ini, yah inilah kami yang mencoba menyusun kembali jalur penerbangan setelah lama menetap di kaki-kaki pegunungan Bandung. Mencoba tuk mengingat kembali jalur penerbangan yang diajarkan oleh kakak-kakakku disana. Pesan kakakku jadikan perjalanan pertama di periode ini sebagai pengalaman berharga, dan berkenalan dengan teman yang baru yang sebenarnya merupakan satu keluarga.
Tim berbekal doa dan uang yang ngepas, ternyata harus beralih ke bus dari rencana menaiki kereta api. Waduh, nambah lagi uang yang musti keluar deh. Tebak saja mengapa saya dan teman saya Irpan menaiki motor. Ya, malam itu kami berangkat pukul 09.00 malam, menembus kedinginan malam dengan bergantian dan tak lupa singgah untuk melepas lelah. Tiba di Stasiun Wates pukul 06.00 WIB, menanyakan tiket kereta menuju Bandung tuk memesankan untuk teman-teman yang berada di bus. Ternyata tiket pun sudah habis. Ya, apa boleh dikata, kami pun akhirnya ke rumah Kakekku di Kulon Progo, Yogyakarta. Satu hari menginap untuk melepas lelah hingga tim kami berkumpul, keesokkan harinya kami lanjutkan transit kami ke Stasiun Condong Catur. Setibanya disana kami lalu dijemput dengan angkutan yang disediakan panitia. Di sebuah truk membuat suasana semakin terasa akrab, karena disanalah kami mulai berkenalan dengan sesame Pengamat Burung Indonesia.
Tiba di kakai gunung Merapi pukul 11.00 WIB, lalu melakukan registrasi ulang  dan akhirnya mendirikan tenda. Setelah solat jumat kami belajar, mereview apa yang dipelajari sebelumnya. Setelah itu semua field guide dikumpulkan. Yah, briefing persiapan untuk esok hari setelah pembukaan dilakukan dengan diiringi hujan yang cukup deras. Rintik air menetes di tenda kami, namun suasana hangat tetap terasa di dalam tenda. Malam itu kuberdoa agar dimudahkan diesok hari.
Membuka mata, lalu bergegas ke kamar mandi untuk membasuh diri dan memanjatkan doa di pagi itu, mempersiapkan bekal untuk perjalanan pertama ini. Kami menuju meja panitia untuk mengambil buku yang harus diisi dan memori yang telah dikosongkan panitia dihari yang lalu. Hari itu pukul 05.00 WIB kami telah berjalan dari kaki Gunung Merapi di Bumi Perkemahan Kaliurang menuju Puncak Plawangan.
Kami mulai berjalan dan perjalanan kami pertama kali disambut oleh beberapa kelompok Macaca fascicularis,  lama berjalan heran belum ada burung yang kami temui kecuali suara yang terdengar di kejauhan. Yah, duduk dahulu menunggu sang mentari terbit mengusir mendung yang datang dan tibalah kami untuk mengetahui burung kecil yang menyapa dengan geraknya yang berpindah lincah di dahan pohon puspa. Siapakah dia ? Yang memiliki dada putih hingga tunggir dan dari kepala,badan hingga ekor hitam. Namun ciri yang mungkin membuat kita bisa langsung menebaknya ialah alis dan garis sayap berwarna putih jelas. Yah burung yang disebut Little Pied Flycatcher ini memiliki nama ilmiah Ficedula westernmanni  menjadi burung pertama yang tertangkap mata dan terekam oleh kamera Adit.Dari sini sepertinya kami baru menemukkan irama yang kami cari, satu demi satu burung  mulai kita dapatkan dari mulai menemukan burung madu gunung Aethopyga exima, Pycnonotus bimaculatus  yang bersembunyi di balik rimbunnya semak dan kabut, Phylloscopus coronatus. Lalu sekelompok sepah Gunung  membuat suasana menjadi semakin semarak disaat kita sedang mengamati burung kutilang dan kacamata gunung.Lalu kami pun menemukan Cica daun yang mencari buah kecil didahan atas di tajuk pohon yang tinggi.Baik, tibalah saatnya kita mengamati sang Raptor, pukul 10.00 WIB kami mulai penantian ditemani teaman-teman dari tim lain yang juga menunggu sang Raptor. Tak begitu lama munculah yang dinanti, yakni Sikep Madu Asia dan tak lama setelah itu muncul Spizaetus bartelsi yang turut memeriahkan birunya langit dari puncak triangulasi gunung Merapi. Setelah kami rasa cukup, maka pukul 11.45 WIB kami mulai pulang untuk menyerahkan data yang telah kami dapatkan selama perjalanna. Sketsa kami buat meski tak terlalu bagus, ya yang penting bagian-bagian kuncinya tetap ada deh. Dan dengan deskripsi singkat yang kami lihat dan ketahui kami tuliskan disisi sketsa kami.  Lumayan lah ada 23 spesies yang tercatat, dan akhirnya tiba-tiba Sekeor burung sebesar merpati dengan diamnya berpindah dari ranting-ranting dahan. Berwarna hitam langsung seketika itu kami catat sebagai gagak hitam. Yah kami akhiri perjalanan hari ini dengan jumlah 24 spesies. Wuih mengesankan, baru pertama kali saya dapatkan list sebanyak itu dalm satu hari.
Kelanjutan cerita ini  bertambah ketika mulai saatnya presentasi dimulai, yah ku deskripsikan burung  yang kuketahui. Selanjutnya quis dimulai setelah isya, dan quis inilah yang membuat saya tertarik lebih jauh lagi dengan pengamatan burung. Ternyata banyak yang harus kita pelajari dari sini, dari mulai suara burung yang belum banyak kami dengar, tebak-tebak gambar dan pengetahuan umum tentang burung. Wah quis tebak suara lah yang benar-benar membuat saya tertarik untuk mempelajari burung dengan suara yang ditimbulkannya.
Juaralah, benar-benar ngeblank pisan walaupun dari perasaan ini mengatakkan bahwa sebenarnya kau bisa, namun memang aku perlu banyak belajar sebelumnya dan lebih dari kemarin. Ya- juaranya saya lupa siapa dan dari mana walaupun pernah berkenalan, namun lupa euy,… Yakata-kat positif yang kutanamkan adalah ucapan yang dikatakan saat penutupan “kita semua adalah juara”, yah benar deh kata kakak-kakakku di Bandung, untuk perjalanan pertama ini jadikanlah sebagai pengalaman untuk perjalanan panjang selanjutnya.Kamu masih muda dan sudah saatnya belajar dari dunia yang sesungguhnya indah bila kita tahu bagaimana cara memahami keindahan tersebut. Dari kami tidak ada piala yang kami dapatkan, hanyalah sebuah cerita bahwa posisi kami di Pengamat Burung Indonesia diterima dengan baik dan memang inilah induk bagi para Birdwatchernya Indonesia.
Salam,….
Birdwatcher PRAPATAN Bandung


Biodiversity of Pantai Sayang Heulang 0

adhyws | Minggu, Januari 15, 2012 |

          Berjalan menyusuri pantai di ujung kota garut, membawa kami ke Pantai Sayang Heulang yang Indah.
Alga
Padina sp.
beberapa chlorophyta
Ulva lactuca
beberapa Rhodophyta
beberapa Phaeophyta
Laminaria sp.

Terumbu karang

Burung Pantai
Trinil pantai
Kedidi Jari panjang
Dara laut sayap hitam
Kuntul karang

Burung disekitar pemukiman
1. Walet sapi
2. Gereja erasia
3. Kacamata
4. Jog-jog
5. Merbah cerukcuk
6. Cucak kutilang Pycnonotus aurigaster
7. Halycon chloris
8. Tekukur
9. Pipit
10. Kicuit kerbau
11. Caladi tilik
12. Ciblek
13. Puyuh
14. Srigunting hitam
15. layang-layang rumah

Ikan Laut
Gobiusculus flavescens
dan ikan-ikan lain yang belum didentifikasi

Tumbuhan pantai dan Tumbuhan dataran rendah
1. Ipomea prescaprae
2. Pandanus tectorius
3. Ketapang Terminalia sp.
4. Putri malu Mimosa pudica
5. Jarong Starchytarpeta indica
6. Wedelia urticaefolia
7. Lantana camara


Tumbuhan Olahan
1. Rumput gajah
2. Kacang tanah Vigna sinensis
3. Kelapa Cocos nucifera
4. Jagung Zea mays

Mamalia
1. Bajing Callosciurus notatus
2. Monyet ekor panjang Macaca fascicularis

Arthopoda

Crustacea


Insecta 
Culicidae
Odonata
Apiidae
Lepidoptera
Chilades paradoxa 
Daralaut sayap hitam

Dara laut kaspia

dara laut kaspia

Trinil pantai

we learn be better from Puntang Mounth 0

adhyws | Minggu, Januari 15, 2012 |

Ekspedisi merupakan suatu hal yang dilakukan untuk mengungkapkan sesuatu yang ingin dicapai dalam perjalanan tersebut. Ekspedisi Gunung Puntang merupakan suatu ekspedisi kecil yang diusulkan oleh Dosen yang akan membimbing kita dalam ekspedisi ini.  
Tujuannya:
         belajar di waktu liburan untuk mengisi waktu luang,
         Menimba ilmu dari alam, dan
         Mempraktekan biologi lapang.
Waktu : Rabu
Yang ikut : Siapa aja yang mau dan sempat
Langkah2 Persiapan :
        See in google earth, (Ormed)(analisa lapang dari jalur pendakian hingga puncak)
        Persiapan Packing (Herbarium, Dokumentasi)
        Proposal (Bikin ga ya??)
        Persiapan Fisik mental,gps peta, Menentukan spot pengamatan, Berapa hari disana,Metode yang digunakan
Pelaksanaan
        
    
     Menentukan  dan Mendirikan base camp,
   
Data yang diperlukan
 
Insecta
Mamalia
Burung

Hasil akhir : Buku field guide Puntang
                   Cd berisi animasi/film/petunjuk yg diolah dengan macromedia flash

Masih dalam Gambaran umum dan bisa dirubah sesuai kondisi
Yang mau bisa searching2 infonya

Gunung gede pangrango 0

adhyws | Jumat, Juni 24, 2011 | , ,

           Gunung gede pangrango adalah gunung yang termasuk kepada zona subalpin karena ketinggiannya yang mencapai 3019 m. Hutannya rendah, rapat dengan pohon-pohon tinggi menyendiri, sering berlumut atau terdapat kornifera. Taman Nasional Gunung  Gede Pangrango dengan luas 33.850,03 ha, memiliki biodiversitas tumbuhan yang tinggi, sekitar 100 jenis mamalia dan 250 jenis burung serta masih banyak yang lain.
         Sebagai kawasan wisata dan rekreasi, saat akhir minggu dan hari libur, kawasan wisata Cibodas dan kebun Raya Cibodas akan diramaikan oleh pengunjung yang membeli suvenir dan oleh-oleh berupa sayuran dan buah-buah  segar dengan harga terjangkau dari pasar wisata di Cibodas
         Senin, 20 Juni 2011 kami memulai perjalanan dengan menggunakan bis dari terminal cileunyi, kab. Bandung. Sekitar pukul 16.00 WIB kami berangkat setelah menunaikan solat ashar. Dengan berbagai aktivitas yang kami tunda, kami berangkat menuju Bogor. Sekitar jam 8 malam kami sampai di bawah kaki gunung mampir sejenak ke alfamart dan meneruskan perjalanan dengan menggunakan angkot dengan biaya RP. 2500,00 sementara untuk bis  Rp. 15.000,00. Setelah datang kita lalu briving sebentar dan makan nasi goreng mang Idi. Tujuan kami mendaki adalah sampai puncak dengan selamat, dan kembali dengan selamat..... Esoknya kami menyantap nasi goreng lagi sepuluh ribu saja... lalu berangkat sekitar pukul 08.00 untuk menukarkan pendaftaran online kami dengan simaksi. Ketika pendaftaran simaksi kami sempat berfoto-foto serta membeli beberapa souvenir khas.
Saya pun sempat berjalan-jalan melihat sekitar, disana saya melihat burung-burung gereja bermain, burung kutilang dan beberapa burung sikatan belang. Dan di pos pemeriksaan kang. Gema mulai melakukan pengamatan burung sepanjang perjalanan.
       Setelah melakukan pemeriksaan kami mulai menapakan kaki menuju telaga biru, disana kami melihat engang-engang / serangga permukaan air. dan melihat ada beberapa ikan mas dan koi yang kemungkinan besar dilepas dengan sengaja, hal ini menjadi pertanyaan bagi saya disuatu sisi ada sisi keindahan yang terlihat dan disuatu sisi akan terjadi suatu ketidak seimbangan di telaga biru... Padahal kalau ingin dijadikan indikator pencemaran air, di kantor pendaftaran telah ada kolam yang besar sebagai tempatnya...

       Sekitar pukul 10.50 kami mampir sejenak untuk melihat curug yang indah, disana saya melihat seekor alap-alap yang terbang melintas diatas kami, ketika kami kembali kami menemukan jantung pisang di pinggir jalan ehm(tersangka utama Dita hardiansyah), lumayan lah kita jadikan teman sayur lainnya.... jam 11.20 kami melanjutkan perjalanan di perjalanan kami mencicipi batang tanaman begonia yang sedikit masam. Kami beristirahat sejenak, mengeluarkan asap dari badan kami. Kami melihat sekelompok Lutung, Presbytes aureus. dangan jumlah kurang lebih 11 ekor dengan 1 ekor albino. kang Epi sempat dikencingi oleh seekor lutung, mungkin sebagai salam perjumpaan atau untuk mengusirnya ahahha.... Tiba-tiba ada elang yang melintas di atas lutung-lutung mungkin mencari anak-anak lutung. panjang bentangan sayapnya sekitar satu setengah meter, sungguh mengagumkan karena pertama kalinya saya melihat langsung elang sedang terbang.
         Kami tiba di kandang badak sekitar pukul 16.00 WIB, dan disana menjadi tempat kami bermalam, setibanya kami lalu mendirikan tenda, solat lalu memasak.Setelah kami menunaikan solat isya  kami melakukan briving karena tidak mungkin menjelajah ke dua puncak dengan batas waktu yang di berikan ketika pendaftaran. Akhirnya diputuskan ada 1 tim yang menuju puncak gede, 1 tim menuju puncak pangrango dan sisanya menjaga tenda atau tetap stay di kandang badak.Sebelum tidur kami menikmati hangatnya bir pletok alias wedang uanget... racikan kang Epi.... gak sia-sia belajar di master cheff ahahaha
        Esok paginya setelah menyantap sarapan asyik, kami berangkat pukul 09.00 WIB, dengan tanpa carier. Dengan banyak sekali berhenti kami menyusuri jalan yang cukup sulit, kami tiba di puncak pukul 12.00 dan sampai di mandalawangi pukul 12.20. kami solat disana. kami sempat mendengar suara babi dibalik rimbunnya pohon.  Vegetasi di mandalawangi adalah edelweis dengan kerapatan yang tidak terlalu rapat. tingginya tidak lebih dari 2 meter. dengan diameter batang sekitar 25 cm.sekitar pukul 13.00 kami melakukan penurunan, saya merasa tertantang dengan batang-batang yang menjulur dikanan kiri saya, berlari-lari dari belakang hingga kedepan berayun dengan batang yang kuat. sampai saatnya saya menyadari kalau saya telah di jalur yang berbeda, karena tidak mau kembali ke atas karena sudah jauh dan lelah saya teruskan perjalanan ke depan hingga ku jumpai aliran sungai yang di halangi oleh semak yang tinggi. Saya tahu kalau setelah semak ini adalah jalur tempat kita ngecamp. setelah dipikir dengan hati tenang saya putuskan untuk menerobos rapatnya semak itu, untungnya saya memakai pakaian yang tertutup, sarung tangan dan sepatu tertutup. Saya menerobos rapatnya semak, ehm dan menemukan pohon yang cukup tinggi saya memanjat dan berteriak hingga badrun mendengar berarti saya dekat dengan mereka.
Saya melihat kedepan dan melihat ada kandang badak disana, saya merasa lega dan turun lalu meneruskan penerobosan saya. hingga akhirnya sampai di belakang kandang badak. akhirnya saya bisa sampai, namun setelah melakukan sampai saya langsung diajak untuk mencari randy, karena belum sampai. Dipikir-pikir bolang paling awal dalam perjalanan penurunan, ya terpaksa aku dan Tama mencari menyusuri jejak-jejak kaki yang pernah kami lewati, dan akhirnya kami melihat randy bersama rombongan lain yang sedang melakukan perjalanan penurunan. Terlepas tersesat atau tidak yang pasti kami merasa lega karena semua telah lengkap.
      Lalu kami makan setelah packing, dengan perjalanan malam kami menuruni gunung ini dari kandang badak. Kami melakukan perjalanan dengan menggunakan senter dan headlamp, Dan ini adalah fungsi penerangan dari senter, kami melihat mamalia malam diatas pohon,  kami tiba di bawah sekitar jam 9 petang dan di warung mang Idi sekitar 09.30 malam. lalu kami meninggalkan warung mang Idi pukul 22.11 WIB dan sampai di bawah untuk menunggu bis.
       Setelah sampai tak sempat saya pun tertidur sejenak, bis pertama pun datang setelah nego ternyata harga tidak cocok dan akhirnya menunggu lama hingga bis kedua datang sekitar pukul 00.00 WIB. ehm cukup lama untuk mendapatkan harga RP. 15.000,00 ahahaha. ya itulah cerita kecil perjalanan kami di Gunung Gede Pangrango, adapun beberapa tanaman yang saya jumpai yaitu
Schima Walichii, Balonophora elongata, Impatients radiants, Begonia isoptera, Begonia robusta / hariang, Lobelia angulata, Viburnum coriaceum, Casuarina Junghuniana, Lonicera acuminata, Sambucus javanica, Adenostema/hirsutum, Anaphalis javanica, Carex myourus, Diplycosia pilosa, Rhododendron sp, Vaccinum lucidum, Geranium homeanum, hypericum leschenaultii, Gunnera macrophyla, Desmodium repandum, Lindera bibracteata, Disporum cantoniense, Ficus punctata, Anggrek eria erecta, Dendrobium hasseltii, Potentilla indira, Rubus lineatus, Allacophania rugosa,Nentera granadense, Elastotema lancifolium, Bartlena sordida,sanicula europae,pilea melastomoides,, gynura aurantiaca,Rubus lineatus, Arisaema filiforme, Medinilla
Sumber : Flora mountain of java
Burung Poksai yang mencuri makan




field trip leuweng sancang 2011 0

adhyws | Selasa, Mei 31, 2011 | , , ,

        Leuweung sancang adalah cagar alam yang memiliki luas cukup kecil.  Walaupun kecil biodiversity of them, is good. Cause the citizent have a religius to there god. And they protect the place like as a place to pray to there god.

Aves
kuntul karang
egretta sacra

rancabayawak by bicons 0

adhyws | Minggu, Mei 22, 2011 | , ,


Burung Air Ranca Bayawak : Tergusur atau Bertahan?

Full team minus photographerHari Minggu (18/05/08), 7 Biconers -Tedi S., Deri R., Ade R., Asep M., Farid A., Astri Y., dan Ima S.- melakukan pengamatan burung di daerah Gedebage, tepatnya Ranca Bayawak. Mungkin nama tersebut terdengar asing di telinga beberapa orang. Ternyata, daerah yang didominasi sawah tersebut telah beberapa kali dijadikan lokasi pengamatan burung, terutama burung air, di kota Bandung. Menurut Ade Rahmat, tempat yang di bagian selatan berbatasan dengan Tegalluar tersebut pernah dijadikan lokasi latihan untuk ekspedisi Trulek Jawa.
Panorama Ranca BayawakApa yang sebenarnya menjadi keistimewaan Ranca Bayawak? Pertama, tempat tersebut merupakan salah satu lokasi koloni burung air yang tersisa di kota Bandung. Seiring dengan pembangunan yang semakin pesat, banyak habitat burung yang tergusur. Untuk itu, jenis-jenis burung tertentu sulit dijumpai pada saat ini. Di lokasi ini terdapat roosting site jenis burung Kuntul kerbau (Bulbucus ibis) dan Blekok sawah (Ardeola speciosa). Kedua, adanya perlakuan dari warga setempat yang masih melindungi kedua jenis burung tersebut. Meskipun beberapa warga mengeluhkan bau kotoran yang ditimbulkan, tetapi kegiatan perburuan dilarang dilakukan terhadap burung yang umumnya memangsa biota akuatik ini. Adanya perlindungan ini, terutama dari sang empunya lahan, merupakan wasiat turun-temurun untuk melindungi kelestarian burung-burung ini di alam. Meskipun demikian, Ranca Bayawak terhimpit ditengah derasnya arus pembangunan. Pada tahun 2005, penulis pernah melakukan pengamatan burung di Ranca Bayawak. Pada saat itu, area persawahan masih sangat luas, sedangkan pada pengamatan terakhir beberapa lokasi persawahan telah berubah fungsi. Tidak jauh dari lokasi roosting site telah berdiri dengan megahnya komplek perumahan. Hal ini menggambarkan bahwa Ranca Bayawak merupakan daerah yang masih akan terus berkembang. Perkembangan tersebut akan terus berlanjut sehingga kearifan masyarakat lokal untuk memelihara dan melindungi koloni burung air tersebut akan diuji.
Tampak jauh rumpun bambu kita  Kuntul kerbau di atas bambu  Kuntul lagi nich... 
Otto Soemarwoto (1983), pakar lingkungan Indonesia, pernah mengatakan bahwa pertambahan penduduk dapat menyebabkan penurunan keanekaragaman hayati. Dengan bertambahnya penduduk maka pembangunan semakin meningkat. Akibatnya terjadi konflik antara hewan dan manusia dalam memperebutkan ruang. Tak lama lagi, kondisi tersebut diperkirakan terjadi di Ranca Bayawak. Untuk itu, diperlukan usaha-usaha pelestarian burung di Ranca Bayawak. Disamping keberadaan burung kuntul dan blekok, Ranca Bayawak merupakan tempat “singgah” burung migran pada waktu melakukan perjalanannya. Pada beberapa tahun kebelakang pernah tercatat burung migran di lokasi persawahan. Tak dapat dipungkiri lagi bahwa persawahan merupakan lahan basah buatan yang penting bagi kehidupan satwaliar, salah satunya burung. Melihat perkembangan kota Bandung, apakah kita rela kehilangan salah satu IBA (Important Birds Area) di kota tercinta ini? Diperlukan komitmen semua pihak terkait dalam pembangunan kota Bandung yang berwawasan lingkungan sehingga tercipta keharmonisan manusia dengan lingkungan hidup sekitarnya. (fah)

Papandayan 0

adhyws | Sabtu, Maret 12, 2011 | , , ,


Gunung Papandayan adalah gunung api yang terletak di Kabupaten Garut, Jawa Barat tepatnya di Kecamatan Cisurupan. Gunung dengan ketinggian 2665 meter di atas permukaan laut itu terletak sekitar 70 km sebelah tenggara Kota Bandung.
Pada Gunung Papandayan, terdapat beberapa kawah yang terkenal. Di antaranya Kawah Mas, Kawah Baru, Kawah Nangklak, dan Kawah Manuk. Kawah-kawah tersebut mengeluarkan uap dari sisi dalamnya.
Gunung ini sangat terkenal di kalangan para pendaki, khususnya pendaki pemula. Selain terkenal dengan keindahan struktur alamnya, gunung ini juga memiliki kawah belerang yang masih aktif dan masih rimbunnya padang Eidelweis yang luasnya mencapai puluhan are serta banyak pula pohon Mutiara Putih. Hamparan bunga abadi ini merupakan keindahan tersendiri bagi orang yang melihatnya secara langsung di puncak.Gunung Papandayan merupakan cagar alam yang didalamnya banyak terdapat keanekaragaman hayati dan obyek-obyek wisata alam yang indah

Tumbuhan yang terdapat di Gunung Papandayan diantaranya :

Lonicera acuminata
Anaphalis javanica
Dicrhrocephala chrysanthemifolia

Cyperaceae
Gahnia javanica
Cyperus flavidus
Scirpus fluitans
Carex bacans

Ericaceae
Vaciunum lucidum

Gentianaceae
Gentiana quadrifaria

Hypericaceae
Hypericum leschenaultii

Leguminosae
Albizia Lophantha

Myrsinaceae
Maesa Latifolia

Polygalaceae
Polygonum chinense

Ranunculaceae
Ranunculus javanicus

Rosaceae
Rubus chrysophyllum

Plantaginaceae
Plantago major

gunung

pohon mati akibat lahar panas

tegalan air yang sangat jernih

kawah hijau terlihat dari atas

lokasi parkir



puncak

edelweis
kawah sulfur

genangan air di musim hujan


Sebenarnya masih banyak tempat - tempat indah yang belum terunggah disini, tapi saya rasa ini cukup untuk memikat hati,... sapa yang mau ikut????

http://www.sith.itb.ac.id/profile/databuendah/Publications/13.%20Sulistyawati_PTTI2005.pdf
http://adesahy.blogspot.com/
Posted by Picasa


 
Prapatan SPS Copyright © 2010 Prozine Theme is Designed by Lasantha Home | RSS Feed | Comment RSS